Kamis, 28 September 2017

Anarkisme Dalam Secangkir Kopi

ANARKISME DALAM SECANGKIR KOPI
---------------------------------------------------------
Oleh Akhmad Dzikron Haikal (Oyek)



Ketika hendak pulang ke rumah, biasanya saya menyempatkan barang sejenak mampir di warung milik seorang kawan lama. Sebelum membuka obrolan, saya dibuatkan secangkir kopi dulu.

“Sesekali, mencoba kopi varian baru tak ada salahnya kan?” sarannya.

Saya hanya bisa melempar senyum tanda setuju. Terakhir kali berjumpa, kira-kira beberapa bulan lalu. Kali ini saya menemuinya dengan intuisi sebagai pengembara yang mencari hal lain dari setiap perjalanan panjang yang meresahkan,menemukan orang-orang yang hidup harmonis dengan alam, dan tentunya kenyataan yang berbeda dari yang saya bayangkan, meskipun hanya sebatas di dalam perbincangan. Ya, sebatas perbincangan di pinggir kenyataan.

Momentum langka ini saya manfaatkan dengan sebaik mungkin (maklum kawan saya ini susah ditemui. Sibuknya melebihi orang sok sibuk. hehe) dengan mempersilahkan pertanyaan-pertanyan yang antre di lidahku yang hanyalah seorang penikmat kopi dan obrolan,

“Apakah Hak itu suatu kebenaran yang utuh bagi kita, tapi kenapa di sana-sini berebut memperjuangkan Hak?” atau “Hutan kok banyak yang dirusak,” lalu “Itu kan juga bagian Hak kita, kok tidak diperjuangkan … kok tidak nganu banget, sih Mas.”

Dia tidak langsung menjawab pertanyaan dari saya, melainkan dia membacakan beberapa penggalan kalimat yang berbunyi,

"Katakan "TIDAK"pada perang. Juga "TIDAK" pada rasa takut, pada kemunduran, "TIDAK" pada penyerahan kalah, "TIDAK" pada pelupaan, "TIDAK"pada celaan akan kemanusiaan kita. Inilah "TIDAK"pada kemanusiaan Neoliberalisme"." ~ Kata Adalah Senjata karya Subcomandante Marcos. halaman 40.

Pada awalnya saya batasi perjumpaan kami sampai dua jam saja, lalu beberapa menit lagi, hingga akhirnya lima jam tak berasa. Semakin menit berlalu, semakin saya merasa lugu dan cupu.Sebab semakin saya mendengar dan menyimak apersepsinya dalam menjelaskan beberapa kalimat yang dibacakan kepada saya, semakin pula apa yang dia sampaikan tentang anarkisme sangat masuk akal dan meresap dalam emosi yang menggebu-gebu.

Sebelum saya tahu tentang anarkisme, saya dan kalian semua sudah barang tentu melekat pandangan negatif tentang idiologi itu. Menuduh barbar, karena sering berbuat onar, misalnya. Sementara saya yang merasa sok akademisi dengan pendidikan yang melulu itu-itu saja harus menanggung malu karenanya. Saat merasa pendidikan cukup tinggi, pikiran saya dan saudara sekalian pastilah dipenuhi rasa arogansi intelektual sehingga mempersempit pandangan saya dan saudara sekalian di kemudian hari mengenai anarkisme.

Pada akhirnya saya harus mengakui bahwa anarkisme itu sudah teruji keamanan dan keharmonisannya beberapa abad sebelum masehi lalu dan bahkan kelahirannya didasari oleh kekuatan utama dalam alam semesta yang terdapat pada semua benda, terdapat didalam inti segala benda di surga dan di bumi, kekal abadi dan tidak dapat berubah. Satu pelajaran yang saya dapat, seharusnya sebelum menilai sesuatu, saya harusnya bertanya-tanya dahulu dan bahkan dalam disiplin akademis, seharusnya melakukan riset. “Kenapa kekerasan dapat menuju ke anarki?”, bukannya langsung berkata, “Anarkis itu ya kekerasan, faktanya seperti itu kan?!” Itu baru pembuka, menit-menit selanjutnya adalah tamparan demi tamparan yang meruntuhkan persepsi awal yang saya yakini dan sebagian orang.

Saya akui, perkenalan pertama dengan anarkisme yang kemudian menjadi pelajaran penting dalam hidup saya bersama masyarakat adalah tentang bagaimana mempertahankan dan memenuhi kebutuhan kita sebagai manusia tanpa merampas hak asasi manusia lain. Saat itu saya berasa ditampar oleh kisah perjuangan Tentara PembebasanNasional Zapatista bersama juru bicara mereka yang sangat ikonik, Subcomandante Marcos, yang mengangkat senjata bukan untuk merebut kekuasaan, tetapi untuk menciptakan sebuah ruang komunal demokratis dan mandiri dimana pertentangan antar pandangan politik yang berbeda-beda, bisa dibicarakan. Mereka ingin menunjukan kepada dunia bahwa cara lain untuk berpolitik itu sungguh ada, yang salah satunya, bisa dilihat dari praktik kehidupan swadaya masyarakat adat.


Namun, pengalaman yang saya alami justru sebaliknya ketika menanyakan hal-hal terkait anarkisme. Sebab sebelum menulis tulisan ini, saya sempatkan dulu untuk melakukan riset sederhana kepada orang-orang disekitar saya dengan mengajukan pertanyaan singkat,

“Bagaimana anarkisme menurut pandangan kalian?”

Mendengar jawaban dengan telinga saya sendiri, saya tidak terlalu kaget lantaran apa yang sudah saya prediksikan, ternyata terjadi juga tentang sebuah jawaban yang tak sempat merujuk pada teori. Ya, hanya berdasar pada pandangan sebagian besar orang lain yang dijadikan sebuah pemahaman sepintas. Parahnya, konon beberapa oknum dari kalangan pecinta musik cadas yang melakukan sesuatu berdasarkan kebebasan mereka sendiri atau golongan dengan mengatas-namakan bentuk dari anarkisme. Tetapi perlu dipahami sekali lagi, kebebasan yang dimaksudkan dari anarkisme, terbatas tidak merampas dan mengganggu hak orang lain. Kebebasan, bagi semuanya yang paham betul tentang anarkisme, adalah perjuangan untuk merebut kembali hak-hak asasi manusia mereka yang dicuri. Para anarkis memang cenderung tidak setuju ketika hal-hal yang sebenarnya menjadi hak-hak yang sifatnya asasi bagi manusia, bahkan menjadi hak paling asasi semenjak manusia itu lahir, berujung menjadi komoditas yang tentu saja difungsikan untuk memperkaya para pemilik modal.

Jika kalian meluangkan sedikit waktu untuk merenungi, tentu menyadari bahwa air, tanah, udara bersih dan juga sinar matahari sebenarnya adalah hak yang sifatnya asasi bagi manusia bahkan semenjak manusia tersebut lahir, setiap orang mempunyai hak akan hal-hal tersebut. Ketika air mulai diperdagangkan, maka akan ada pertanyaan,

"Seperti halnya air, berarti hak asasi manusia bisa juga diperjual-belikan, bukan?

Saya tertegun panjang ketika ditinggal kawan saya sebentar untuk meladeni pembeli yang hilir mudik seperti apa yang saya pikirkan. Saya berpikir kenapa pergeseran pemahaman tentang anarkisme bisa seperti itu, malah cenderung ke arah subversif dan kekerasan? Saya yang saat itu baru saja diperkenalkan dengan anarkisme, berusaha keras memahami sejarah anarkisme dan kekerasan—dalam hal ini mencoba mengenali lebih dalam tentang kesalah-pahaman antara anarkis dan sisi gelapnya.

Selanjutnya saya teringat dengan slogan para anarkis Spanyol pengikutnya Durruti yang berbunyi,“Terkadang cinta hanya dapat berbicara melalui selongsong senapan.” Memang terkesan sekali penggunaan kekerasan dalam strategi pergerakan. Tetapi, dalam memahami sebuah kalimat atau perkataan perlu kiranya dikontemplasi atau setidaknya direnungkan dulu maknanya, bukan secara mentah ditafsirkan menurut kebijakan emosi sesaat.

Mengutip dari Wikipedia mengenai sejarah anarkisme dan kekerasan; penggunaan kekerasan dalam anarkisme sangat berkaitan erat dengan menggunakan aksi langsung atau perbuatan yang nyata sebagai jalan yang ditempuh untuk menyerang kapitalisme. Namun demikian, tidak sedikit juga dari para anarkis yang tidak sepakat menjadikan kekerasan sebagai suatu jalan yang harus ditempuh. Dalam bukunya, "What is Communist Anarchist?", pemikir anarkis, Alexander Berkman, menulis; “Anarkisme bukan Bom, bukan ketidak-teraturan atau kekacauan, bukan perampokan dan pembunuhan, bukan pula sebuah perang diantara yang sedikit melawan. Dan bukan juga bagian dari subversif. Kekerasan bukan merupakan suatu ide eksklusif milik anarkisme, sehingga anarkisme tidak melulu dikonotasikan sebagai kekerasan, seperti makna tentang anarkisme yang banyak dikutip oleh beberapa oknum dan kalangan sebagai sebuah aksi kekerasan dan pemberontakan. Karena bagaimanapun kekerasan dan pemberontakan merupakan suatu pola tingkah laku alamiah manusia yang bisa dilakukan oleh siapa saja dan dari kalangan apapun.

Mari kembali berbicara soal cara pandang kita. Saat kita memandang sesuatu kericuhan kemudian menerjemahkan pengalaman kasat mata tersebut dengan bergumam “barbar”, “liar”, “pembuat onar”, “kotor”, “anarkis”, “tidak tahu aturan”, dan sebagainya, sebenarnya kita sedang melakukan kejahatan tak kasat mata. Karena dengan bergumam demikian, seolah kita sedang berkata pada mereka bahwa diri kita “lebih  beradab”, “patuh”, “pintar”, “bersih”, dan “sopan”. Berlaku juga untuk pemandangan-pemandangan lainnya. Ini masalah persepsi, perbedaan cara pandang. Sepele, tapi fatal. Cara pandang ini pula yang seharusnya bertanggung jawab atas bergesernya makna serta tujuan idiologi tersebut yang lambat laun dicap sebagai ideologi yang berbahaya (bahkan rentan dengan pemberontakan)

Dalam upaya me-rekonstruksi pola pikir masyarakat pada umumnya, pergeseran makna dari suatu ideologi itu bersifat dekonstruktif dan membangun ulang, disepakati demi suatu kepentingan, serta dipendam dalam-dalam dan ditaburi bumbu-bumbu menakutkan oleh yang merasa terganggu dengan paham ini. Sebenarnya sebuah ideologi bergerak dinamis, mengalami penyesuaian ataupun perubahan seiring waktu yang mengontemplasinya, namun tetap berdasarkan konsep, nilai-nilai ajaran, serta dasar pemikirannya yang menjadi tujuan awal. Tak seorang pun punya hak berkata bahwa ideologi X atau ambil contoh anarkisme, adalah buruk, kekiri-kirian. Kenapa takut ke kiri, bukankah lajur berkendara kita juga disebelah kiri?

Semakin pemahaman dari sebuah ideologi itu berbeda dengan kenyataan yang kita alami, semakin sulitlah pemahaman itu kita cerna, bukan? Bagaimana dengan kebebasan kita dalam mempelajari konsep-konsep sebuah ideologi ataupun bacaan-bacaan yang dianggap kekiri-kirian tadi? Ada ideologi komunisme, sosialisme, anarkisme, feminisme, dan lain-lain. Bukankah masih ada nilai-nilai positif yang bisa kita ambil dan terapkan dalam diri kita? Setidaknya ada suatu pemahaman yang sifatnya provokatif, akhirnya menjelma dalam laku kritik untuk mengajak otak ini bekerja secara semestinya. Ini pun tetap saja tidak bisa lepas dari anggapan subyektif dalam menilai ideologi-ideologi tersebut.

Di kehidupan saya dulu, saat di dalam proses pembelajaran, contoh sederhana adalah ketika paham komunis dianggap sebagai paham anti agama, dianggap petaka buat negara karena sudah sering sekali kita diberi pemahaman-pemahaman oleh ucapan yang tidak kita pahami secara utuh kebenarannya. Akan tetapi, seiring berjalannya sebuah proses pendewasaan, saya semakin terbuka akan berbagai macam ideologi yang saya coba pelajari dan pahami bisa juga berguna untuk menambah wawasan dan pola pikir saya terhadap sebuah pandangan atau perspektif yang ada.

Saya pikir, apapun nilai-nilai ajarannya, sebuah ideologi itu dinamis, bergerak, tentunya merubah, sesuai dengan dinamika sosial yang terjadi. Dan dengan dialog positif, kita bisa mencari tahu lebih dalam, apa sejarah, makna, dan tujuan suatu ideologi tertentu. Nilai apa yang terkandung pada suatu pemahaman tersebut hingga pada akhirnya akan kita terapkan dan aplikasikan sebagai sudut pandang terhadap suatu hal. Bukankah sebuah ideologi itu perlu pemahaman secara utuh?

Senin, 27 Februari 2017

Mengunyah Kembali Semarang Sebagai Sebuah Riwayat

Mengunyah Kembali Semarang Sebagai Sebuah Riwayat
Sebuah resensi buku berjudul Remah-Remah Kisah Semarang karya Rukardi 
Oleh : Akhmad Dzikron Haikal


 “Perhatian! Kepada sekalian para tamu djika hendak pulang, batas waktu sampai djam 13.30, seliwatnja djam tsb. di atas dianggap 1 malam. II. Kami tidak menjediakan kamar untuk tamu jang bayar bulanan…” ~ (Remah-remah Kisah Semarang, hal 225). 

Siapa yang menyangka jika di Jalan Bangunharjo kawasan Kauman dulunya adalah kampung seribu penginapan. Daerah yang kita kenal sebagai salah satu bagian dari kawasan pasar Johar itu banyak sekali hotel yang berdiri di sana kala itu, dan salah satu buktinya adalah tata tertib yang berejaan Soewandi itu masih menempel di loket pembayaran Hotel Muslimin yang dibuat pada tahun 1960-an. 

Memang pada tahun tersebut, tentunya saya belum lahir, apalagi tinggal dan menetap di Kota Semarang. Jika dinominalkan dalam sebuah usia, baru sepuluh tahun saya mengenal dan hidup di kota Semarang. Ya, usia yang setara dengan anak kelas empat sekolah dasar. Usia yang belum begitu matang dalam menjalin sebuah hubungan, apalagi menjalin terlalu dalam dan intim. Jujur saja sampai detik ini saya belum mampu merasakan bahwa Semarang adalah bagian dari diri saya. Namun, tatkala ada yang berbicara tentang semarang dan riwayatnya, biasanya ada semacam perasaan aneh yang terlalu meluap-luap ketika diungkapkan. Terlepas dari status saya yang bukan asli penduduk semarang, rasa itu seakan menjelma sebagai kegelisahan yang tak bertuan semenjak merasakan kisah-kisah kearifan lokal tergilas oleh cerita urban yang menurut saya sedikit manja dan penuh keputus-asaan. 

Barangkali kegelisahan saya dan juga kegelisahan para manusia yang gelisah sedikit banyaknya sudah termanifestasikan kedalam buku Remah-remah Kisah Semarang karya Rukadi. Buku tentang kota Semarang serta sudut-sudut kisahnya ini, menjadi semacam suguhan renyah (kelethikan) ketika kita memperbincangkannya di teras rumah dengan secangkir kopi atau teh hangat untuk sekedar menyempurnakan suasana. Disamping itu, saya sependapat jika ada yang mengatakan jadikanlah masa lalu sebagai pelajaran. Namun sebaliknya, ketika pernyataan tersebut sudah diungkapkan, dan manakala sebuah pelajaran tidak mendasar pada masa lalu atau bahkan lebih tepatnya membiarkan masa lalu hanya tersimpan di bibir-bibir para pendahulu, maka tidak salah jika saya menyatakan lebih baik kita belajar untuk mengingat dan menghafal dulu, baru belajar dari masa lalu. 

Oleh karena itu kisah-kisah yang terliterasi dengan baik setidaknya banyak membantu untuk sekedar mengingatkan ketika semuanya mulai termakan usia. Jadi, benar apa yang tersurat dalam penggalan kata-kata bijak berikut ini “Pengetahuan serupa binatang ternak, dan catatan adalah alat untuk mengikatnya. Jika ternakmu tak ingin lepas, maka ikatlah.” (tentunya dalam konteks ini tidak sama dengan merenggut kebebasan binatang. Hehehe). 

Menikmati Remah-remah kisah semarang saya analogikan seperti menemukan sisa-sisa makanan yang masih layak dimakan, ibarat kata terlalu mubadzir jika tidak sekalian dikunyah. Sebab, bagaimanapun besar kecilnya bentuk makanan itu, toh pastinya masih menyisakan rasa di lidah. Begitu pula dengan buku ini, kalian pastinya diajak mengenal beberapa kisah yang akan menambah rasa pengetahuanmu mengenai kota semarang tempo dulu makin bertambah, dan terlalu mubadzir jika tidak dibaca. Lantas bukankah mubadzir itu tidak dianjurkan kepada manusia? 

Buku yang diterbitkan Pustaka Semarang 16 ini, mempunyai ketebalan 224 halaman, serta menyuguhkan 49 judul yang terbagi 29 untuk kisah-kisah historis dan 20 judul berkaitan dengan warna-warni kota semarang. Dapat dikatakan buku ini adalah semacam panduan untuk mengenal semarang seutuhnya. Sebab didalam isinya menyajikan berbagai hal yang ada di sudut-sudut semarang. Tidak bisa dipungkiri setelah membaca buku remah-remah semarag, saya makin tertarik untuk mengetahui kisah-kisah historis (foklor) yang ada di kota ini. Bahkan dari membaca buku tersebut secara tidak langsung saya ikut tergerak untuk meliterasi kisah-kisah yang ada di daerah saya. Salut kepada Mas Rukardi yang telah sukses mempengaruhi pola pikir saya dalam menyikapi proses “memunguti remah-remah kisah” yang terserak di mana-mana.

Rabu, 15 Februari 2017

Kematian-Kematian Kecil di Sekitar Kita : Resensi Film "Istirahatlah Kata-Kata"

Kematian-Kematian Kecil di Sekitar Kita : Resensi Film "Istirahatlah Kata-Kata"
Oleh : Akhmad Dzikron Haikal


 ISTIRAHATLAH KATA-KATA
--------------------------------------------
istirahatlah kata-kata
jangan menyembur-nyembur
orang-orang bisu
kembalilah ke dalam rahim
segala tangis dan kebusukan
dalam sunyi yang mengiris
tempat orang-orang mengingkari
menahan ucapannya sendiri
tidurlah kata-kata
kita bangkit nanti
menghimpun tuntutan-tuntutan
yang miskin papa dan dihancurkan
nanti kita akan mengucapkan
bersama tindakan
bikin perhitungan
tak bisa lagi ditahan-tahan

Solo, sorogenen, 12 agustus 1988




Kalau dikontemplasi, puisi Wiji Thukul tersebut, secara eksplisit tengah mengisyaratkan kematian-kematian kecil di sekitar kita. Sebab terlalu banyak luka yang menganga di tubuh masyarakat kita saat ini, terlebih-lebih masyarakat yang tinggal di sekolahan. Kenapa demikian, karena masyarakat sekolah yang diharapkan mampu menghidupkan kehidupan seutuhnya, yang nantinya sebagai penyeimbang untuk mewujudkan bentuk keharmonisan, kini malah menjadi pesakitan lantaran dihantam luka setiap saat. Selain luka fisik yang didapati, tentunya ada juga luka non-fisik yang menyeret mereka kepada kematian-kematian kecil itu. Barangkali ada semacam kepasrahan yang terbalut oleh keputusasaan dan ketidakacuan terhadap tubuh yang luka. Hingga pada akhirnya tak ada jalan lain, kecuali menantinya. Ya, menanti kematian-kematian kecil ditengah-tengah kita.  

Mengambil istilah kematian-kematian kecil itu, saya korelasikan dengan seringnya kita mendengar beberapa kasus yang membunuh citra pendidikan negeri ini, dan pastinya banyak pula yang mendengar atau membaca berbagai inovasi dan pemikiran yang ditawarkan, untuk sekedar memberikan pertolongan pertama atau mengumumkan kematian tersebut. Namun, pada kenyataannya malah justru hal itu terkesan seolah-olah merencanakan suatu kematian. Bagaimana tidak, jika inovasi dan pemikiran tersebut pada suatu saat membawa dampak besar secara masif, akan tetapi belum terlihat dikehidupan yang sekarang, pastinya bisa ditebak reaksi masyarakat kita banyak yang tidak akan menerima alasan apapun terhadap dampak yang ditimbulkannya, sampai-sampai menjadi bahan nyinyiran dan cibiran dalam menyikapinya. Fenomena ini, tentu menjadi suatu kematian di tubuh pendidikan kita secara tidak langsung.

Pada hakikatnya maju dan berkualitasnya suatu pendidikan harus dihadapkan pada percobaan-percobaan yang menuntut sebuah kegagalan, dan dari kegagalan tersebut mampu menghadirkan harapan dari cita-cita pendidikan nasional itu sendiri. Bukan malah kegagalan dijadikan bahan hambatan dan sebuah luka yang menjadi cibiran bagi masa depan pendidikan kita. Seperti apapun bentuk luka itu, baik fisik maupun non-fisik, tak seharusnya didiamkan begitu saja. Luka yang tentunya harus diobati, dirawat, dan tentu saja sebagai pengingat sebuah peristiwa, seharusnya mampu membuat kita kuat dan berhati-hati, bukan sebaliknya. Namun, jika masih saja menganggap luka hanyalah sebuah malapetaka yang melanda, maka yang ada di dalam pikiran kita adalah kekecewaan, kesedihan, dan yang paling parah adalah rutukan. Kalau sudah begitu, maka istirahatkanlah kata-kata yang keluar dari mulut-mulut manusia.




Kematian-kematian kecil di bangku sekolah, sudah barang tentu terjadi karena masyarakat di dalamnya sudah saling acuh tak acuh, saling menyalahkan, saling menuntut, dan yang lebih parah adalah saling berebut jam untuk peningkatan ekonomi dari sebuah profesi. Maka tak pelak, jika fungsi dari pedidikan kita semakin melenceng dari fungsi  Pendidikan Nasional yang sebenarnya: mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Seperti apa yang pernah diungkapkan oleh Marx, bahwasanya seorang pendidik adalah seseorang yang berpendidikan dan sudah dididik untuk sebuah tujuan mengubah keadaan manusia. Begitu juga dengan pendapat Lenin dan Stalin bahwa sekolah menjadi senjata yang tergantung pada siapa yang memegangnya. Artinya, keberhasilan seorang peserta didik sangat ditentukan oleh siapa yang mengajarnya di sekolah, dan pendidikan bukan lahan basah untuk merenggut keuntungan, melainkan sebagai instrumen membebaskan manusia dari belenggu dehumanisasi serta menempatkan manusia dalam esensi dan martabat kemanusiaannya yang sejati. Disamping itu, Abdul Khalid Boyan (2009) menjelaskan dalam pendidikan berbasis Marxis-Sosialis, tujuan (ideologi) pendidikan adalah membangun karakter (character building) manusia yang tercerahkan; suatu kondisi mental yang dibutuhkan untuk membangun suatu masyarakat yang berkarakter progresif, egaliter, demokratis, berkeadilan dan berpihak terhadap kaum-kaum tertindas (the oppressed).

Di era seperti ini tidak bisa dipungkiri lagi, sering kita mendengar para orang tua yang menyekolahkan anaknya disebabkan salah satu faktor agar kelak setelah lulus anaknya cepat bisa langsung mendapat kerja. Bukan karena tujuan utama yang ditawarkan dari suatu ideologi pendidikan sekolah. Hal semacam ini menyebabkan pendidikan terjerumus ke dalam pragmatisme yang membuat malapetaka besar bagi masa depan kemanusiaan, khususnya pada pola pikir manusia. Sebab, pragmatisme pendidikan akan melahirkan manusia-manusia yang tidak peka terhadap bobroknya realitas kemanusiaan dan kekuasaan. Pragmatisme pendidikan hanya mencetak generasi yang ingin cepat mendapatkan gelar dan memperoleh profesi yang bergengsi tanpa mengedepankan sisi keharmonisan hidup berdampingan. Jika sudah seperti itu, maka yang ada hanyalah kompetisi untuk berlomba-lomba mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang mengesampingkan sebuah nilai.





Munculnya lembaga-lembaga pendidikan seperti itu tidak lain merupakan bentuk hubungan terlarang antara dunia pendidikan dengan kepentingan kapitalis. Dalam hal ini lembaga pendidikan sekarang tidak lagi menjadi media transformasi pengetahuan dan nilai-nilai sosial yang mengedepankan sisi memanusiakan manusia,  melainkan telah menjadi sebuah lahan basah bagi para pengelola pendidikan untuk mengeruk keuntungan finansial. Karena pada kenyataannya tak jarang kita jumpai beberapa lembaga pendidikan yang terfokus memikirkan bagaimana sekolah bisa mendapatkan laba sebesar-besarnya dari peserta didik, dengan menjaring, merekrut, dan mengiming-imingi calon siswa baru dengan fasilitas dan program-program yang cukup menjanjikan di dalam sekolah. Namun pada realitasnya hal itu hanya sebuah jebakan untuk mendapatkan kouta siswa yang sebesar-besarnya. Tujuannya tidak lain agar sekolah tidak tutup dan bangkrut. Tak pelak, jika suatu saat lembaga pendidikan muncul sebagai rahim-rahim yang penuh luka yang melahirkan kaum-kaum terdidik yang bermoral terpasung dan pesakitan.

Dari permasalahan tersebut, kita diharapkan sadar, tentang kondisi pendidikan kita sekarang ini. Bahwa sekolah yang dalam hal ini sebagai ruang berproses bagi anak didik dan ruang berbagi untuk para pendidik, harus ada upaya atau bahkan harus mampu menciptakan kebangkitan-kebangkitan dalam segala hal yang dibutuhkan masyarakat negeri ini, tidak hanya sumbangan-sumbangan pemikiran dan inovasi saja, melainkan harus berani mewujudkan dengan konsekuensi kegagalan-kegalan yang datang menghadang.
Paling tidak, lembaga pendidikan mampu mewujudkan tujuan pendidikan itu sendiri dan sanggup memberikan nyawa baru terkait kematian-kematian kecil yang sempat disinggung sebelumnya. Agar kelak generasi yang akan datang tidak menjadi generasi yang mudah saling sikut, saling membenci, dan mudah diprovokasi. Sebab kematian-kematian kecil itu juga hadir dalam penjelmaan bentuk informasi yang tumbuh dan berkembang dengan begitu cepat tanpa ada filter yang menyaringnya.


 

Sabtu, 29 Oktober 2016

Pop Manis Tapi Kritis a la Distorsi Akustik

Tidak banyak band, di kota ini, yang bermain di ranah pop tapi mempunyai dedikasi tinggi terhadap perubahan dunia. Distorsi Akustik adalah salah satu yang menarik perhatian ketika musik rock yang dikemas dengan balutan pop berisikan muatan tekstual yang tidak sembarangan seperti dalam EP Pu7i Utomo yang baru saja mereka rilis beberapa waktu kemarin. 7 komposisi easy listening dengan konten lirik yang puitis filosofis tapi satir dan frontal. Bisa kalian dengarkan pada lagu berjudul "Man who Called Eve" yang bermuatan kritik tajam terhadap marjinalisasi atas nama agama dan norma terhadap kaum LGBT. Dan pada lagu berjudul "Euphoria Surga" bisa kalian temukan lirik kritis cerdas setajam silet baja terhadap para fundamentalis agama. Untuk para penggemar U2, Sigur Ros dan Coldplay, secara musikalitas adalah jaminan bahwa kalian akan segera jatuh cinta dengan rilisan yang satu ini. Kualitas rekaman yang bagus, packaging rilisan yang tidak main-main, serta seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, yaitu konten muatan lirik kritis satir yang filosofis, menjadikan EP album tersebut sangat direkomendasikan untuk disimak. Berikut vadalah interview Kaum Kera zine dengan mereka, silahkan disimak semoga menginspirasi.


1. Playlist musik beberapa waktu terakhir didominasi oleh lagu-lagu dari sebuah CD extended play album berjudul Pu7i Utomo, dan bagaimana kabar Distorsi Akustik?

Beberapa waktu yang lalu baru saja menyelesaikan tur di tiga kota untuk mempromosikan EP Pu7i Utomo dan kembali pada aktifitas keseharian, mengurus keluarga. Berjibaku dengan pekerjaan kami masing - masing. Sempat bermain di Subali fest  dan beberapa pertunjukan, datang ke gigs, menonton pertunjukan band lokal serta tidak lupa merekam beberapa materi lawas untuk kami rangkum dalam rilisan berikutnya. Sepertinya semuanya akan baik - baik saja bila kita menempatkan segala sesuatu sesuai porsinya, mengurusi band, bekerja dan waktu untuk keluarga. Oh iya, kabar kami baik, sehat dan semoga begitu juga dengan dirimu, mas.

2. Mungkin banyak di luar sana yang belum begitu mengetahui tentang Distorsi Akustik, bisa berbagi deskripsi tentang Distorsi Akustik dalam beberapa kalimat?
Nama Distorsi Akustik kami ambil dari suara distorsi (over drive) yang bersinergi, melangkah selaras, dengan suara akustik (clean) dalam ruang bunyi gitar. Sebuah keseimbangan layaknya hitam dan putih, bidang lingkaran kecil yang kontras pada simbol Yin Yang. Banyak yang mungkin lupa menyadari bahwa keadilan erat kaitannya dengan keseimbangan. Dan kemanusian, butuh perhatian khusus pada hal itu : keadilan, keseimbangan. Lirik kami lebih sering berbicara tentang kemanusiaan, dengan balutan pop yang banyak orang bilang : manis. Analoginya, tidak semua orang mampu menelan makanan yang keras, pedas, dan menyengat. Beberapa menginginkan sesuatu yang manis walaupun sama - sama membuat sakit di perut.

Sering kali dalam fragmen keseharian, menemukan banyak hal yang terlanjur menjadi tradisi, padahal bukan hal yang benar. Kebanyakan lirik yang kami tulis, adalah tentang hal-hal tersebut. Iya, lirik kami kritis, bukan sok kritis. Kritis, ada laku hidupnya. Pertanggung-jawaban dalam bentuk sikap hidup sehari-hari. Kami bangga bisa menghidupi lirik yang sudah kami tulis, dimulai dengan penyikapan terhadap hal-hal kecil yang kami temui dalam keseharian.

3. Setiap karya pasti menemukan kendala dalam proses kreatifnya, apa kendala yang cukup pelik yang terhadapi ketika menjalani proses kreatif penciptaan Pu7i Utomo?

Benar, tapi kami memang sudah bersepakat untuk membiasakan diri terhadap semua kendala setiap akan memulai penggarapan sebuah rekaman. Bukankah banyak pembelajaran tentang hal baru yang bisa kita dapatkan ketika bertemu dengan berbagai kendala? Mulai dari keterbatasan finansial sehingga kami musti masuk studio recording saat studio tersebut ada discon time. Berganti - ganti personil, dan kamipun kehilangan gitaris kami terdahulu, Puji Utomo, yang terlebih dahulu berpulang. Dan yang paling merepotkan adalah saat data rekaman yang kami cicil dari tahun 2008, berisi materi 13 lagu, hilang dikarenakan studio rekaman tersebut gulung tikar, membuat kami harus mengulang proses recording dan penciptaan lagu dari awal. Dari semua data yang hilang tersebut hanya lagu "Man Who Called Eve" saja yang terselamatkan.

Tapi syukurlah, akhirnya semua kendala tersebut bisa kami lewati dan EP Pu7i Utomo berhasil kami rilis dengan swadaya beberapa waktu yang lalu, pendistribusiannya pun kami lakukan sendiri. Sangat berterima kasih terhadap teman-teman yang sudah sudi untuk membeli, juga teman-teman penjual rekaman yang banyak membantu dalam hal distribusi serta teman-teman media yang telah meluangkan waktunya mendokumentasikan ulasan tentang rilisan tersebut. Mohon doanya semoga rilisan ke depan lebih baik lagi.

4. Apa maksud pemberian titel Pu7ie Utomo? Ada apa dengan angka 7?
 

Gitaris kami sebelumnya, meninggal karena mengalami kecelakaan, almarhum bernama Puji Utomo. Mini album ini sebenarnya kami persembahkan sebagai penghargaan dan pengingat tentang Almarhum. Selain itu, ada muatan filosofi kearifan lokal yang juga mendasari pemberian titel EP Pu7i Utomo, dalam konteks filosofi Jawa, hari itu ada 7, dan 7 (Pitu) dalam filsafat kearifan jawa berarti PITUTUR, PITUDUH, PITULUNGAN, PITUNGKAS. Sama halnya seperti penciptaan dunia. Seperti yang tertulis di Al kitab maupun Al Q’uran. Pun di rilisan mini album kedua nanti, akan ada 5 track di sana. Sama halnya jumlah hari pasaran di penanggalan Jawa : Wage, Pon, Pahing, Kliwon, dan Legi. Semua hal tersebut sebenarnya mempunyai pesan kearifan yang nilai keluhurannya tinggi dan sepertinya bakal tidak cukup halaman di zine ini jika kita mendiskusikannya secara detail.

Bukan berarti pula bahwa filosofi kearifan lokal dari daerah lain tidak menarik. Bagi kami, tiap kearifan lokal, dari daerah manapun, mempunyai muatan filosofi yang sebenarnya baik dan mampu membuat seorang manusia yang memperpecayainya,  menjadi lebih bijak menyikapi segala carut marut dunia yang serba ribut dalam arus modernitas seperti sekarang ini. Kenapa kami lebih banyak menggunakan referensi kearifan lokal Jawa, karena kami tumbuh besar dalam lingkup kearifan lokal Jawa.






5. A Man Who Called Eve, track yang langsung mencuri perhatian juga konsep video yang sungguh menarik, bisa menceritakan segala sesuatu tentang lagu ini?
 

Lagu ini kami dedikasikan untuk semua individu yang berani jujur dalam memilih jalan hidupnya, walaupun dianggap keluar sama sekali dari kategori yang masyarakat umum mendefinisikannya sebagai : normal. Bagi kami kebenaran itu mempunyai dua parameter :
1. Tidak merugikan manusia lainnya.
2. Mempunyai manfaat bagi manusia lainnya.

Dan ketika parameter pertama telah terpenuhi tapi orang-orang sekitar tetap memandangnya sebagai kesalahan, maka harus ada yang bisa menjelaskan bahwa hal tersebut bukan sebuah hal yang salah. Seperti halnya kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseks dan Transgender) yang kebanyakan orang memandang mereka sebagai penyakit masyarakat dan harus diberantas. Bagimana bisa mereka dipandang sebagai penyakit jika mereka bahkan tidak melakukan tindakan apapun yang merugikan manusia yang lainnya? Jika alasannya adalah penyakit menular melalui aktivitas seksual, bukti sudah menyatakan bahwa bukan hanya kaum LGBT yang membawa penyakit, semua orang bisa menjadi sumber penyakit melalui aktivitas sexual, hal itu tergantung dari pola hidup masing-masing orang, kebersihan sebagai contohnya. Mau "senormal" apapun manusia, jika pada dasarnya dia memang jorok, penyakit tentu saja segera menjangkit. Tidak bisa serta merta kita melakukan generalisasi bahwa kejorokan hanyalah milik kaum LGBT, itu picik namanya. Dan jika alasannya adalah penyakit mental, berarti negeri ini benar-benar ngotot untuk ketinggalan karena sudah sejak lama klaim prilaku LGBT sebagai penyakit, telah dicabut dari ranah disiplin ilmu psikologi.

sebenarnya bangsa ini mempunyai permasalahan yang lebih penting, dan permasalahan penting itu adalah hal kemanusiaan. Dalam sebuah negeri yang penuh pluralitas seperti Indonesia, toleransi adalah suatu hal yang harus di jaga dan di upayakan. Karena jika tidak, bahaya besar sudah menanti di depan, dan bangsa ini mungkin harus bersiap menunggu keruntuhannya.

6. Euphoria Surga, dari lirik yang terbaca langsung terkesima dengan muatan lirik kritis tajam terhadap para fundamentalis agama. Tolong berbagi sedikit pandangan Distorsi Akustik terkait lirik dalam lagu ini.
 

Bagi kami, seharusnya agama itu bekerja di wilayah-wilayah yang memperbaiki dan menjaga keharmonisan hubungan antar manusia. Ketika agama malah dijadikan pembenaran untuk membinasakan manusia yang lainnya, maka kami akan melakukan kritisi keras tentang hal tersebut. Lagu Euphoria Surga sejatinya bercerita tentang hal tersebut, kritik keras kami terhadap para fundamentalis agama yang berani mendahului Tuhan melakukan klaim kapling surga yang sebenarnya bukan hak manusia untuk menentukannya.

Sudah berapa banyak nyawa melayang yang disebabkan konflik dan perang karena klaim kebenaran versi manusia yang berdasarkan agama? Jika kita mendiamkannya, anak cucu kita kelak akan hidup dalam dunia yang seperti itu, dunia yang penuh dengan distoleransi dan kebencian. Kami salah satu yang memilih untuk tidak diam saja. Kami tentu saja juga beragama, tapi kami menolak menjadi bagian dari para fundamentalis yang beragama hanya demi kepentingan dominasi atau fasisme. Agama, tidak seharusnya menjadi fasis.

7. Menjalani asam garam berkesenian di Semarang sekian lama, bagaimana pendapat kalian tentang lingkungan berkomunitas di kota ini?
 

Semarang itu mempunyai daya apresiasi terhadap karya yang sebenarnya besar. Karya-karya dalam berbagai bentukpun banyak yang dihasilkan, sebenarnya kota ini sangat produktif. Kualitas juga mumpuni. Mungkin kota ini memang membutuhkan media-media dengan kualitas yang baik, seperti zine ini misalnya. Ketika membuat media sendiri itu sudah menjadi budaya, kami kira segala karya-karya yang dihasilkan oleh berbagai komunitas di kota ini akan semakin menyebar dan dikenal orang. Kita hanya perlu untuk menyisihkan enerji berada dalam sebuah lingkaran komunikasi yang sehat dan menciptakan iklim saling mendukung diantara para pegiat komunitas di kota ini.

8. Beberapa buku yang dibaca belakangan ini dan mungkin bisa menjadi rekomendasi?
 

Ada beberapa yang baru saja terbaca, berikut diantaranya yang menurut kami perlu untuk direkomendasikan :
1. Joko Muryanto - Industri Musik Nggak Asik
Sebuah buku bagus yang menceritakan bahwa industri musik mainstream sekarang ini sedang menuju tenggelam karena tidak bisa mengakomodasi kepentingan dari para musisi-musisi yang mereka rekrut.

2. Jack Nelson Pallmeyer - Is Religions Killing Us
Sebuah buku kritis yang berusaha menyadarkan bahwa dalam setiap referensi kitab suci agama samawi memang terdapat dalil-dalil yang membenarkan untuk bersikap "anti-liyan" dan pengikutnya cenderung menafsirkannya secara literal. Buku ini, ketika dipahami, mungkin bisa membuat kita lebih bijak ketika menfasirkan banyak hal dalam kitab suci yang sering kali memakai gaya bahasa metaforis.

9. Lagu yang terakhir dinyayikan ketika sendirian?
 

Nirvana - Something in The Way

Kurt Cobain adalah sosok jenius musik yang mungkin tidak akan disamai oleh sosok manapun dalam 50 tahun ke depan. Dan lagu ini adalah salah lagu cerdas bercerita tentang kesendirian yang dikemas dengan kualitas balada yang juga mumpuni. Linoleum karya dari grup punkrock slengekan, Nofx, mungkin pantas sebagai komparasinya walaupun dalam nuansa lagu yang berbeda.

10. Ok, thanks atas waktu dan kesediaan waktunya demi berbagi dengan Kaum Kera zine. Silahkan menyampaikan sesuatu apapun itu untuk mengakhiri interview ini.
 

Ketika kalian sependapat bahwa setiap manusia seharusnya mendapatkan hak kemerdekaan asasinya tanpa melupakan kewajiban, maka mari bergandeng tangan bersama merebut kembali segala yang sudah tercuri dari kemerdekaan kita selama hidup di negeri yang katanya merdeka ini. Menjadi bagian dari generasi muda, jangan hanya main aman diam saja. Hasilkan sebuah karya yang bisa mewakili dirimu sendiri. Salam. 

 

Rabu, 21 September 2016

“DIONTROG DAN DIRIUNG OLEH FRONT PEMBELA ISLAM”

Oleh : Azmy Rancu
aturfrekuensi@gmail.com

Pengalaman ini adalah pengalaman yang paling mendebarkan sekaligus konyol yang pernah saya alami dalam hidup ini. Mendebarkan karena ini pertama kalinya saya berhadapan langsung dengan sesuatu yang selama ini saya tentang dari belakang. Ya, saya berhadapan dengan 5 orang anggota FPI, Yaa FPI (Front Pembela Islam) Ormas Fasis dengan label Agama yang lebih cocok dibilang ormas preman-preman berjubah kiyai, yaa begitulah kenyataannya bagi saya yang pernah berhadapan langsung dengan mereka wkwkwk.

Jadi ceritanya saya menuliskan opini reaktif di sosmed sekaligus protes saya terhadap FPI secara tersirat dan khususnya tersurat pada 2 orang anggota mereka yang terang-terangan membuat postingan di Facebook yang berisi ancaman pembunuhan dan penolakan kedatangan Bupati Purwakarta (Dedi Mulyadi) yang pada saat pertengahan bulan Juli akan datang ke daerah saya dan berita itu disorot banyak media nasional, Rancah Ciamis. Singkat cerita, gara-gara tulisan itu saya “diontrog” atau didatangi ke rumah lalu diajak bicara baik-baik di Masjid Agung Rancah. Awalnya saya menolak untuk datang, tapi bapak saya berpikiran lain, beliau menyuruh saya untuk berani bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan dan tenanglah katanya nanti Bapak nyusul dengan Bissmillah pergilah saya ke Masjid pada saat itu kira-kira pukul 18.25 WIB .

Setelah sampai di Masjid saya disambut oleh riungan melingkar yang belum lengkap karena sudah disediakan tempat untuk saya duduk, dihadapan saya pada saat itu nampaklah 5 orang, dengan 4 diantaranya sosok berpakaian jubah layaknya Kiyai. Salah satunya adalah orang yang mengancam membunuh Bupati tadi layaknya orang  tingkat keimanan angkasa saja dan satu diantara mereka berbaju biasa yang ternyata adalah kuasa hukum FPI, dan dialog pun dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan bertubi-tubi yang mereka lontarkan ke saya, kebanyakan dari pertanyaan itu sungguh konyol ditelinga saya seperti :

“BENER ENTE YANG NULIS POSTINGAN INI ? ENTE DIBAYAR OLEH SIAPA ?!!!”

Sungguh konyol mengingat tulisan saya dibuat atas dasar pandangan dan  keinginan sendiri tanpa unsur apapun dari luar apalagi ada yang bayar. Saya jamin tidak akan ada yang sudi setidaknya belum wkwk dan sebenarnya pertanyaan itu harusnya saya lontarkan balik kepada mereka, “FPI dibayar oleh siapa ? Dan "Ente dibayar oleh siapa? Nanya saya dibayar oleh siapa ?”  Seandainya saya berani.

“ENTE  IKUTAN PAGUYUBAN PASUNDAN HAH ?!!!”

Apa hubungannya sih? Kasihan Paguyuban Pasundan Ciamis dituduh terlibat karena saya yang sama sekali tidak mengenal apalagi jadi anggotanya. Dan seterusnya salah satu dari mereka yang adalah pengancam Dedi Mulyadi melontarkan pernyataan-pernyataan yang sungguh konyol kepalang diantaranya :

“KARENA POSTINGAN DAN TULISAN ENTE DI SOSMED ITU, ENTE BISA DIHUKUM DIJERAT OLEH PASAL IT DAN PERLAKUAN TIDAK MENYENANGKAN !”

Oke-oke.. wait, tulisan saya yang begituan saja bisa kena pasal lalu dihukum, nah kalau yang bikin postingan tulisan ancaman pembunuhan terhadap seseorang apalagi Bupati kaya kamu hey gimana yahh ? Heelloowww Hellloww hayooh mabok siah !

“YEUH ENTE TAU GA ? BAPAK SAYA ADALAH KETURUNAN RADEN KIAN SANTANG DAN IBU SAYA ADALAH KETURUNAN RARA SANTANG ?

Walaupun notabene kedua nama tadi adalah tokoh ulama tapi keturunan siliwangi juga dan padahal di postingannya secara gamblang si kehed FPI ini menulis “WAHAI DEDI MULYADI SI RAJA MUSYRIK
 YANG MENGAKU-NGAKU KETURUNAN SILIWANGI DAN SUAMI DARI NYI RORO KIDUL ?” WTF ? Siapa yang sebenarnya mengaku-ngaku keturunan siapa haduhh ?!!!

Dan akhirnya Adzan Isya’ berkumandang dialog berakhir dengan damai dan islah (padahal saya dendam asli) saya hanya bisa bersikap diam dan meng-iyakan apapun yang mereka katakan karena takut dengan ancaman Hukuman juga pasal-pasal tadi. Karena sikap saya itu, pada saat pulang saya dimarahi Bapak karena katanya saya tidak bisa mempertahankan pendirian. Maklumlah, saya berani datang sendiri dan berhadapan dengan 5 orang saja sudah bagus kan? Saya bukan manusia super loh.

Karena kasus ini, teman saya mengenalkan saya dengan seorang temannya lagi di Ciamis yang temannya itu (aduh lieur) sebut saja Anggrek lah, karena Mawar untuk perempuan, pernah juga mengalami kasus yang sama dengan saya tapi lebih parah karena Anggrek sampai pada tahap diancam akan dibunuh karena beliau menulis postingan tentang Anggota FPI Ciamis yang melakukan sweeping orang yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Padahal si kehed anggota FPI itu juga ada yang melihat tidak berpuasa juga. Bahkan konon katanya tanpa bukti yang jelas si anggota FPI yang melakukan sweeping itu sedang dalam keadaan mabuk “teler”. Saya sempat berbincang dengan Anggrek. Menurut Anggrek ada banyak teori konspirasi tentang siapa pembentuk FPI sebenarnya, ada yang bilang FPI itu sayap Golkar ada juga yang lebih parah bahwa FPI itu bentukan Illuminati hahaha dan ada yang bilang juga FPI itu bentukan militer dll.

Mungkin teman-teman bertanya (kalo engga juga gak apa sih) seperti apakah postingan/tulisan yang menyebabkan saya disered FPI daerah saya ? berikut tulisannya yang menurut banyak teman terlalu tendensius hahaha silahkan dibaca :

Rancah adalah salah satu kecamatan di Utara Kabupaten Ciamis, tidak ada yang spesial dari daerah ini kecuali alamnya yang masih asri, suasana tenang, aman, tentram dan tentu masyaraktnya yang dikenal ramah juga religius menghasilkan corak kehidupan yang indah bersahaja dan mungkin hal-hal itulah yang membuat orang-orang yang datang ke Rancah senang tinggal berlama-lama atau bahkan menetap disini, maka tidak salah atau bahkan tepat sekali jika banyak yang menyanjung tanah kelahiran kedua Orang Tua Saya ini dengan slogan "Rancah Betah" yaa itulah kalimat sakral yang kerap diucapkan pejabat dan Ulama-Ulama setempat diselipkan di pidato dan ceramah-ceramahnya, bagai makanan sehari-hari.

Rancah dalam seminggu terakhir ini agak sedikit dihebohkan dengan berita bahwa daerahnya akan kedatangan orang nomor satu di Kabupaten Purwakarta ya siapa tidak kenal Bapak Dedi Mulyadi, pemimpin nyentrik dengan ciri khas pakaian pangsi dan iket yang selalu ia pakai kemana-mana dan yang paling penting adalah fanatismenya pada budaya khususnya budaya Sunda bisa dilihat dari program-program yang sifatnya melestarikan budaya Sunda selama kepemimpinannya di Purwakarta hingga saat ini membuat Kang Dedi amat Populer di Indonesia khususnya Jawa Barat bahkan karenanya konon di Rancah ke-populerannya melampaui Bupati Ciamis itu sendiri, beliau diundang di acara pentas kebudayaan sunda yang diadakan masyarakat setempat tepatnya di Desa Dadiharja Kecamatan Rancah yang rencananya diadakan Sabtu malam, 16 Juli 2016. Masyarakat Kabupaten Ciamis patut bersenang hati khususnya Kecamatan Rancah bisa kedatangan orang populer semacam beliau terlepas dari sumbangsih atau dampak yang akan ditimbulkan nantinya saya yakin masyarakat Rancah akan menyambut dengan ke-ramah-tamahannya sehingga "Rancah Betah" itu bisa dirasakan oleh Bupati Purwakarta dan membawa cerita dan kesan bagus apalagi pasti akan banyak media nasional yang menyorot hal ini.

Tapi ternyata semua itu telah jelas-jelas dinodai oleh ulah dua orang oknum ulama, padahal saya sendiri sebagai warga setempat baru tau loh dari banyak Alim Ulama setempat yang saya hormati ternyata ada beliau berdua yang mengaku ulama berpengaruh di Kecamatan Rancah katanya, tapi kok rasa-rasanya secuilpun saya tidak terkena "pengaruhnya" itu dan salah satu dari beliau berdua mengaku sebagai pimpinan sebuah padepokan yang namanya mengandung kode angka 212 identik dengan tulisan di dada dan kampak milik pendekar silat fiksi (Wiro Sableng), dengan ke"sableng"annya beliau berdua mengancam dengan terang-terangan lewat postingan di akun facebook masing-masing bahwa akan membunuh Pak Dedi Mulyadi jika bersikukuh menginjakan kakinya di Rancah, alasannya adalah Dedi Mulyadi dianggap sebagai sosok kelewat musyrik yang suka membangun patung di tiap perempatan di Purwakarta tapi yang saya heran kenapa di postingannya ulama ini tetap mencantumkan kata "Tanah Galuh" diambil dari nama kerajaan "Galuh" yang telah lama runtuh dan notebenenya adalah Kerajaan Hindu yang menyembah patung atau benda mati yang dalam Agama saya disebut "Musyrik" tapi ah sudahlah terlalu jauh ... inti dari tulisan saya ini adalah janganlah merusak nama baik Rancah yang akan ditimbulkan nantinya apalagi mengatasnamakan umat islam dengan ulah seperti itu dan sungguh amit-amit bila ancaman mereka benar-benar terjadi akan memalukan masyarakat Kabupaten Ciamis khususnya Rancah bahkan semua orang menjadi dipermalukan bahkan jika sadar dirinya sendiri pun dibikin malu begitu tidak mencerminkan alim ulama melainkan tukang teror murni alias teroris.

Senin, 15 Agustus 2016

Sejenak Bersama Efi Sri Handayani

Menyenangkan sekali ketika melihat seorang kawan perempuan yang aktif sekali berkarya. Dan beberapa waktu lalu ketika menghadiri Sewon Screening di kampus ISI Yogyakarta, saya berkenalan dengan seorang sutradara muda yang filmnya lumayan menarik perhatian saya, Efi Sri Handayani. Jebolan Institut Kesenian Jakarta yang juga terlibat sebagai koordinator acara dalam penyelenggaraan Belok Kiri Fest beberapa waktu yang lalu, ternyata juga adalah seorang kutu buku serta aktif mendukung aksi warga Kendeng dalam perjuangannya menolak pendirian Pabrik Semen serta penambangan Karst di Pegunungan Kendeng Utara. Akhirnya rampung juga interview yang kami lakukan via fasilitas chat Facebook ini, setelah beberapa kali pending karena kesibukan dan hal-hal lainnya. Silahkan disimak, semoga menginspirasi.



1. Halo Efi, bagaimana kabar keseharian akhir-akhir ini?

Kabar baik dan sedikit sibuk dengan beberapa kegiatan.

2. Kamu adalah salah satu yang terlibat dalam helatan Belok Kiri Fest dan Simposium '65 beberapa waktu yang lalu. Dalam pandangan kamu pribadi, menurutmu apa urgensi dari kedua helatan tersebut untuk digelar?

Menurutku, urgensi saat ini adalah bagaimana negara bertanggung-jawab atas kejahatan pelanggaran HAM di masa lalu. Selain itu, narasi sejarah yang harus terus dibicarakan dengan mengungkap fakta yang sebenar-benarnya terjadi. Ini penting bagi generasi muda untuk tahu sejarah bangsanya sendiri supaya tragedi serupa tidak lagi terjadi di kemudian hari.

3. Helatan Belok Kiri Fest sempat mengalami kendala masalah perijinan dari pihak Kepolisian walaupun akhirnya tetap bisa berjalan dengan memindahkan tempat acara. Bisa menceritakan sedikit kronologi masalah kendala tersebut?

Empat hari sebelumnya, banner kegiatan sudah dipasang dari tanggal 22 Februari di depan TIM (Taman Ismail Marjuki), diturunkan oleh pengelola TIM keesokan harinya. Alasannya, surat izin kegiatan yang telah mendapat cap dari pihak polsek setempat, dinilai tidak cukup. Surat izin itu harus disertai surat balasan dari polsek.

Selama proses perizinan, dari tanggal 18 hingga 26 Februari, komite pelaksana dipersulit dalam urusan birokrasinya. Hingga H-1, Belok Kiri Fest tetap tak diberi izin penyelenggaraan di TIM. Saat itu pula penyelenggara disuruh membongkar display yang telah dipasang di Galeri Cipta II. Kabarnya, pihak polisi dan keamanan TIM akan membongkar paksa jika itu tidak dilakukan panitia.

4. Jagal "The Act of Killing" karya Joshua Oppenheimer adalah salah satu film yang kamu sebut-sebut saat berpidato di pembukaan Belok Kiri Fest. Dan dalam sebuah interview, Joshua sendiri mengatakan bahwa film tersebut adalah ajakan bagi semua pelaku dunia film di Indonesia untuk membuat karya yang semacam. Bagaimana pendapatmu pribadi mengenai film tersebut? Sebagai seorang yang juga pelaku dunia film, adakah rencana untuk membuat karya film yang serupa?

Film jagal secara gamblang dengan berani membeberkan fakta sejarah tragedi 1965. Bagaimana para pelaku dengan keji menceritakan peristiwa pembantaian itu. Film tersebut membuka banyak mata yang selama ini sengaja ditutupi oleh pemerintah orde baru.

Sebagai seorang sutradara, saya juga ingin membuat film dengan tema 65. Tapi bentuknya mungkin bukan dokumenter, saya ingin membuat film drama tentang anak-anak yang orang tua nya menjadi korban. Saya ingin menitik-beratkan pada bagaimana kehilangan itu, yang dialami oleh seorang anak, dan bagaimana kepulangan hanya sebatas mimpi bagi mereka para tapol 65.

5. Beberapa waktu yang lalu keputusan Pengadilan Rakyat Internasional yang digelar di Den Haag, Belanda, memutuskan bahwa pemerintah Indonesia bersalah atas berbagai kejahatan HAM yang terjadi di masa lampau. Akan tetapi pemerintah mengacuhkan putusan tersebut dan menolak untuk menindak-lanjutinya. Bagaimana pendapat kamu tentang hal tersebut?

Orde baru itu memang mempersulit hidup orang banyak ya. Bahkan yang dipersulit bukan hanya generasi terdahulu, tapi generasi muda hari ini juga kena dampaknya. Mereka begitu takut menyelesaikan masalah pelanggaran HAM masa lalu, karena jika dibongkar, pelaku-pelaku kejahatan HAM akan terancam. Stabilitas kekuasaan akan terganggu. Saya cuma heran, kenapa manusia tidak bisa hanya memakai nuraninya saja.

6. Saya lihat kamu punya perhatian khusus akan isu penolakan terhadap operasi pabrik semen dan penambangan karst di pegunungan Kendeng Utara. Apa yang mendasari perhatian tersebut?

Saya melihat ketulusan warga Kendeng, khususnya ibu-ibu petani. Mereka selalu mengatakan ibu bumi harus dijaga kelestariannya untuk masa depan anak cucu, jangan hanya memikirkan perutnya sendiri. Bahkan sempat juga ngobrol dengan salah satu kartini kendeng, ibu Sukinah, sambil menangis beliau bercerita ketika melihat tanah dirusak, yang dirasakannya adalah tubuhnya sendiri dan tubuh leluhur-leluhurnya.

Ketulusan seorang ibu kepada anaknya memang tak ternilai. Hal itu yang sebetulnya cukup menampar saya. Sebagai seorang anak yang pernah dilahirkan dari rahim seorang ibu, saya merasa harus berbuat sesuatu, meskipun itu hal kecil.

7. Dari beberapa kali postingan di media sosial, kamu terlihat aktif mengawal aksi warga Kendeng di depan Istana Negara. Bisa menceritakan sedikit tentang detail aksi tersebut hingga hari ini?

Aksi dimulai sejak 26 Juli dan hingga hari ini masih bertahan mendirikan tenda di depan istana dengan tuntutan bisa bertemu presiden Joko Widodo yang pada aksi sebelumnya dimana ibu-ibu mengecor kaki mereka dengan semen. Saat itu utusan presiden, Teten Masduki dan Pratikno hadir sebagai wakil presiden dan berjanji akan mempertemukan ibu-ibu dengan presiden Jokowi. Akan tetapi, hingga hari ini (Tanggal 31 Juli 2016) janji tidak ditepati. Kemudian aksi pasang tenda juga mengajak siapapun untuk membaca AMDAL palsu yang dibuat oleh PT. Semen Indonesia. Siapapun, warga yang ikut aksi ini juga sangat terbuka jika ada aparat, pemerintah, akademisi dan masyarakat yang ingin melihat AMDAL versi semen itu.

8. Menurutmu pribadi, apa yang menyebabkan pihak pemerintah sendiri agak berat untuk memenuhi permintaan tuntutan warga Kendeng?

Kita hidup di sebuah negara yang para pemimpinnya terlalu punya banyak kepentingan.









 9. Saya salah satu penikmat karya kamu. Sebuah film, yang jika kamu ingat, kita pernah berdiskusi tentangnya, "Laki-Laki Virtual". Bagaimana proses kreatif pembuatan film tersebut? Pesan apa yang sebenarnya hendak disampaikan melalui cerita dari "Laki-Laki Virtual"?

Proses development ceritanya cukup lama, kurang lebih satu semester. Kira-kira sampai film itu selesai, memakan waktu hampir satu tahun. Sebetulnya tidak ada pesan apapun dalam film ini. "Laki-Laki Virtual" selain sebagai tugas akhir kuliah saya, di sisi lain yang lebih personal, film ini menjadi semacam healing buat saya. Manusia, terkadang butuh tamparan keras untuk menyadari tentang apa yang terjadi dan bagaimana ia harus menghadapi itu.

Kalau boleh mengutip satu puisi Sapardi, “yang fana adalah waktu, kita abadi”. Karakter laki-laki virtual berasal dari waktu dan tempat lampau, sementara perempuannya hidup di masa ini. Sebesar apapun keinginan untuk bersama laki-laki dalam video VHS itu, perempuan tidak akan bisa mendapatkan hal tersebut. Waktu memang nyata, apapun yang di dalamnya pernah ada dan hidup, tapi menghadirkannya kembali? Sudahlah, nanti keburu ada UFO jatuh.

10. Ada rencana terdekat untuk penggarapan karya dalam bentuk film lagi?

Ada, saat ini saya sedang riset untuk development cerita film fiksi dengan tema tragedi '65. Sembari mengumpulkan footage untuk project dokumenter tentang para Kartini Kendeng.

11. Buku atau literatur apapun yang terakhir di baca?

Saya sedang membaca memoar pulau buru karya pak Hersri Setiawan, salah satu seniman Lekra yang pernah menjadi tapol pulau Buru. Saya banyak terinspirasi dari buku itu untuk pembuatan film saya tentang tragedi '65.

12. Ok Efi, thanks banget sudah meluangkan waktu untuk menjawab dan berbagi bersama Kaum Kera zine. Sangat ditunggu aksi dan karya-karya berikutnya. Silahkan menyampaikan sesuatu apapun itu, untuk mengakhiri wawancara ini.

Saya kasih quotes saja ya. adalah salah satu quotes favorit dari film Cinema Paradiso : “life isn’t like in the movie. life is… much harder.” Sukses ya untuk Kaum Kera Zine. Sampai jumpa, salam congyang!

Sabtu, 06 Agustus 2016

Panjang Lebar Bersama Afriyandi Wibisono

Masih jarang saya menemukan anak muda yang mempunyai semangat besar untuk menulis. Kebisaan menulis, disertai ketertarikan besar membangun media, sudah pasti memberi kontribusi besar terhadap komunitas, apapun itu bentuk komunitasnya. Menulis, akhirnya melahirkan eksekusi final berupa karya tulis, dan karya tulis akhirnya memberi kontribusi besar terhadap gerakan literasi. Gerakan literasi adalah yang hal penting ketika zaman mulai berjalan dalam koridor yang penuh dengan kebohongan. Ketika seseorang terliterasi dengan baik, maka seseorang akan lebih peka ketika ada sesuatu yang bersifat tidak beres terjadi di sekitar mereka. Dan kemudian saya berkenalan dengan seorang teman baru, Afriyandi Wibisono, salah seorang yang terlibat aktif dalam salah satu kanal media independen krusial di kota ini, Semarang on Fire. Dia salah satu yang juga aktif menulis dan mempunyai kemauan besar untuk mengasah kemampuannya dalam bidang jurnalistik. Sebenarnya sudah lama ingin melakukan sesi interview dengannya, dan akhirnya baru sekarang tersampaikan. Berikut obrolan kami, silahkan disimak, semoga menginspirasi.


1. Dari Semarang bawah ke Semarang atas masih macet karena arus balik mudik Lebaran. Bagaimana kabar kamu mas Afri?

Kabar baik, sangat baik. Beberapa minggu menjelang lebaran cukup disibukan dengan rutinitas kantor. Yang lainnya seperti biasa; membuat jurnal, resensi, dan artikel-artikel yang saya muat ke dalam web Semarang On Fire. Datang ke sebuah gigs, mengamati laju skena dan berbagai macam proses kreatif yang berjalan di kota Semarang melalui konteks kultural, sudah menjadi kecintaan tersendiri. Oh iya, saat ini saya juga disibukan dengan aktivitas perniagaan record distribution bernama Vitus. Lumayan, untuk menambah uang jajan.

2. Komunitas musik di Semarang, generasi silih berganti. Banyak yang lama pergi dan tidak kembali, beberapa ada yang tetap bertahan dan menemani yang muda datang dengan enerji yang juga mumpuni. Bisa berpendapat sedikit mengenai komunitas musik di kota ini, mas? 

Ini adalah hal yang telah lama merebut atensi saya. Setelah beberapa tahun lalu pindah menetap di Semarang, perkembangan kultur khususnya di ranah musik menjadi rubrik yang rutin saya ikuti. Saya terlanjur jatuh cinta dengan segala yang terjadi di Semarang, dan dalam hal musik di sini saya melihatnya sebagai suatu hal yang sangat potensial dimiliki oleh Ibukota Jawa Tengah, yang tentu memiliki talenta berpotensi lainnya di luar kota.

Melihat dinamika yang terjadi pada komunitas musik di Semarang, semenjak mulai mengenalnya hingga saat ini, banyak hal yang sangat disayangkan. Disamping memiliki potensi, melalui pengamatan yang saya lakukan dengan melihat faktor secara ekonomi, saya menyimpulkan secara pribadi bahwa yang terjadi pada banyak kasus di komunitas ini adalah munculnya talenta-talenta berbakat lalu sinarnya lenyap yang disebabkan oleh kesibukan tiap personil.

Singkatnya, tingkat apresiasi dan minat pada konteks sub-kultur di Semarang yang sangat rendah mengakibatkan para pelaku musik dari lintas genre ini kehilangan gairah untuk bertahan di jalur musik tersebut karena keterpaksaan mereka mencukupi kebutuhan hidup atau dengan kata lain memiliki pekerjaan formal sebagai penopang utamanya. Kebutuhan hidup tersebut mungkin tidak akan terpenuhi ketika para musisi ini hanya manggung dan membuat album musik. Sampai sana saya cemas, bagaimana dengan yang akan terjadi pada talenta-talenta baru berikutnya ? Syukur, masih ada beberapa yang memiliki enerji untuk dibagikan. Para pelaku ini yang mulai saya amati dari proses penggarapan materi dan attitude yang dimiliki. Harapannya adalah mereka-mereka ini yang akan berkiprah membawa nama Semarang khususnya di ranah musik.

3. Apakah jalur bermusik independen tidak bisa menjadi basis ekonomi alternatif kalau menurut mas Afri? Mengingat sebenarnya banyak kegiatan yang terkait dengan ranah budaya anak muda yang satu ini. Gig, rilisan, produksi merchandise, dan bahkan media sebagai contohnya.

Sebenarnya bisa, jika kita melihat dari kota-kota yang pergerakan skenanya lebih cepat. Namun saya sendiri belum begitu yakin tentang menciptakan basis ekonomi alternatif sekaligus kreatif untuk ranah musik Semarang. Alasannya, seperti yang telah saya jelaskan tadi. Bahwa tingkat apresiasi yang belum mumpuni menyebabkan beberapa pelaku musik harus berani merugi atas produksi karya yang mereka ciptakan, meski sebenarnya itu juga salah satu resiko menjalani karir di jalur independen.

Yang sejauh ini saya lihat dari tiap komunitas musik di Semarang adalah, pada aktivitas produksi rilisan dan merchandise baru sebatas menampilkan eksistensi bermusik mereka sekaligus menancapkan tombak diskografi untuk skenanya. Selebihnya adalah bagaimana cara mengembalikan modal produksi atau jika lebih disimpan untuk modal produksi selanjutnya. Belum ada keuntungan yang bisa dicapai (apabila dalam konteks perbincangan ini mengarah pada apa yang bisa dihasilkan selain untuk perputaran produksi) pada tahap ini, semua akan kembali pada budaya dan dampak yang diberikan dari para pelaku seni khususnya musik untuk menciptakan lingkungan yang apresiatif.

Untuk itu terciptalah aktivitas-aktivitas lain yang berkaitan pada ranah budaya tersebut untuk membantu para pelaku musik di Semarang mendapat atensi publik, atau minimal terdengar pada komunitas sub-kultur lainnya yaitu melalui media dan gerakan literasi seperti Kaum Kera ini. Menurut saya pribadi, kondisi Semarang saat ini sedang merangkak untuk kembali menciptakan lingkungan yang cocok sebagai tempat tumbuh kembang bagi para pelaku musik, agar diterima oleh masyarakat. Barulah gerakan untuk menciptakan basis ekonomi alternatif bisa terlaksana.

4. Selain melalui jalur media dan gerakan literasi, menurut mas Afri, apa yang seharusnya dilakukan oleh para penggiat komunitas di kota ini untuk menciptakan budaya dan lingkungan yang apresiatif? Ketika sebenarnya banyak juga yang mengakui bahwa sebenarnya karya-karya dari kota ini mempunyai kualitas yang juga mumpuni.

Betul, banyak cara yang bisa dilakukan selain menggunakan media dan literasi. Cara yang paling tradisional adalah memperluas jaringan, memperlebar komunikasi dengan publik melalui akun-akun media sosial. Kemudahan komunikasi di era globalisasi saat ini turut membantu para pelaku musik untuk mempromosikan karyanya, disamping memiliki resiko yang lebih besar terkait hal yang merugikan. Namun untuk sebuah langkah awal, mengenalkan materi pada publik secara masif dapat meningkatkan rasa penasaran publik terhadap potensi yang pelaku musik ini miliki, maka atensi dan antusias publik terhadap pergerakan ini akan semakin besar.

Tentunya cara ini harus dibarengi dengan edukasi agar dikemudian hari kita tidak menemui kasus-kasus seperti pembajakan misalnya. Mengedukasi publik tentang bagaimana jalannya proses kreatif hingga menghasilkan sebuah karya yang riil tidak hanya untuk menambah pengetahuan mereka tentang pentingnya sebuah karya rilisan, namun juga mengajarkan tentang arti menghargai, dari sinilah akan tercipta lingkungan kondusif untuk berdikari di kota sendiri.

Tidak dapat dipungkiri bahwa potensi musik yang kita miliki saat ini (bisa dibilang) setara atau bahkan lebih baik dari musik-musik indie populer saat ini. Namun apabila kota atau skena yang kita diami saat ini tidak atau bahkan belum mampu mengapresiasi lebih jauh, tidak ada salahnya untuk berani melempar diri keluar lingkungan tersebut. Yang berarti para pelaku musik ini harus memiliki kanal dan jejaring yang baik antar skena di luar kota untuk mau menampungnya. Lalu apakah lantas hal ini membuat para pelaku musik tersebut diapresiasi publik ? Semua kembali pada bagaimana cara pelaku musik ini berjejaring.

5. Mas Afri adalah salah satu yang aktif di Semarang on Fire, bisa berbagi latar belakang ceritanya bisa bergabung dengan mereka? Apa tujuan mas Afri sendiri bergabung dengan Semarang on Fire?

Awal bergabung dengan Semarang On Fire cukup sederhana. Karena hobi saya sering datang ke gigs, mendokumentasi acara untuk arsip pribadi dan mempublikasikannya lewat media sosial, akhirnya saya resmi direkrut oleh Mas Garna, yang merupakan salah satu pendiri media alternatif tersebut.

Pada waktu itu (2015), Semarang On Fire baru hidup kembali setelah masa vakum di sekitaran tahun 2009, dan misinya saat hidup kembali ini adalah sebagai corong aktivitas yang berkaitan dengan seni dan pergerakan independen. Makin kesini, ideal dan misi sudah terstruktur, tidak hanya sebagai media, pula Semarang On Fire ikut bergerak mengkoordinir gigs baik dari teman-teman di dalam maupun luar kota. Sayang sekali Semarang On Fire kekurangan kontributor terutama pada lini redaksi, dan sejauh ini saya dipercaya sebagai penanggung jawab sekaligus redaktur. Cukup berat, terutama setelah 2 orang yang berada di dalam tubuh Semarang On Fire yakni Adit Mada dan Sebastian Gary mulai sibuk dengan proyek pribadi mereka, kemudian disusul dengan keberangkatan Mas Garna ke Amerika, saya harus membagi waktu untuk menyempatkan diri terjun ke dalam pergerakan skena. Sangat menyenangkan!

Tidak ada tujuan khusus. Apa yang saya lakukan selama ini terutama di Semarang On Fire adalah murni kesenangan semata. Saya senang mendokumentasikan apa yang saya suka, menulis apa yang ingin saya tulis, dan yang terpenting untuk membagi apa yang harus diketahui orang lain. Selebihnya adalah dasar dari Semarang On Fire sendiri sebagai media pengarsipan segala aktivitas skena di Semarang dan 'mengompori' anak-anak muda kreatif lainnya untuk berkarya.

6. Begitu banyak karya musik dari kota ini yang di eksekusi dalam bentuk rilisan fisik. Ada beberapa yang menurut mas Afri patut menjadi rekomendasi?

Wah, banyak sekali. Seperti yang sudah saya tulis di atas bahwa Semarang memiliki band/musisi potensial dengan karya yang menarik dan saya akan merekomendasikan beberapa album musik terbaru dari teman-teman di Semarang yang menurut saya wajib didengarkan:

Moiss: Subtitute (EP)
Ini adalah album kedua trio shoegaze yang terdiri dari M. Rifqi (Vokal/Gitar), Icad (Bass), dan Hari Candra pada drum. Dalam album ini, Moiss lebih berani menampilkan sound-sound yang fuzzy dibalut komposisi rock yang minimalis. Subtitute berisikan materi dengan lirik dan tema yang lebih ceria dibandingkan album sebelumnya yang terkesan gelap dan mengambang. Album ini dirilis kedalam format kaset melalui label rekaman asal Solo, Hema Records. Konon, album yang dicetak sebanyak 100 buah untuk 2 versinya sudah sold out !

Harvest: Happiness And The Effort (EP)
Album milik unit Hardcore asal Semarang, Harvest, cukup menyita perhatian saya. Jujur untuk seorang yang juga bergaul di lingkup Hardcore/Punk, saya kekurangan referensi atau jika dilihat saat ini kebanyakan musik hardcore yang dimainkan terlalu membosankan dengan komposisi instrumen dan beatdown. Namun yang satu ini, album dengan komposisi materi paling segar yang pernah saya dengar. Bisa jadi saya yang kampungan karena jarang mendengar musik seperti Comeback Kid, Stretch Armstrong, atau Have Heart, dan Harvest adalah salah satu yang memberi referensi musik semacam ini. Riff yang mewah, fill gitar yang variatif, cukup membuat saya terkesima meski lirik-lirik dalam album tersebut masih meleset disebabkan penggunaan grammar bahasa inggris yang minim.

AK//47: Verba Volant, Scripta Manent (Full-length)
Perlu saya jelaskan ?

Selain ketiga album yang saya rekomendasikan diatas, masih banyak karya yang saya suka baik berbentuk album maupun single dari band/musisi anyar di Semarang, juga rilisan-rilisan baru dan lawas yang patut diapresiasi.

7. Venue, dalam komunitas musik adalah salah satu infrastruktur penting yang cukup vital. Dan mungkin di Semarang kendala masalah venue cukup pelik. Ada beberapa venue lama yang sekarang masih bertahan, ada pula venue baru yang muncul dengan berbagai problematikanya masing-masing. Pendapat mas Afri sendiri tentang masalah venue bagi pergerakan komunitas musik di Semarang?

Yang ini menjadi salah satu perhatian saya berkaitan dengan pra-sarana. Semarang sebagai salah kota besar dengan hiruk pikuk duniawi, pasti menyediakan banyak fasilitas-fasilitas hiburan baik yang dibangun baik oleh pemerintah ataupun swasta. Menurut saya ini sangat baik, mengingat makin banyaknya alternatif space sebagai tempat penyelenggaraan acara. Dimudahkan dalam perizinan oleh aparat, sewa tempat dengan biaya murah (bahkan ada yang masih menggunakan sharing ticket), sound system yang lengkap, Semarang merupakan kota dengan infrastruktur yang memadai untuk komunitas musik khususnya di ranah independen. Namun ini yang menjadikan mental orang-orangya sedikit manja dibanding kota-kota lain tak jauh di sebelahnya.

Kendal adalah salah satu contoh kota dengan fasilitas venue yang kurang (atau bahkan tidak) variatif mengingat hanya ada beberapa tempat salah satunya GOR Bahurekso sebagai rujukan penyelenggaraan acara. Dengan sulitnya perizinan serta biaya sewa tempat yang teramat tinggi, memaksa kawan-kawan pelaku skena kota Kendal menjadi lebih disiplin dalam mengorganisir sebuah helatan secara masif dengan antusiasme penonton yang sangat ramai. Bagi saya Semarang adalah tempat ternyaman untuk mendirikan sebuah acara dengan berbagai pilihan venue. Yang jadi masalah adalah ketika kawan-kawan di Semarang belum bijaksana untuk memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang tersedia hingga akhirnya menjadi mubazir.

8. Menurut mas Afri, bagaimana pengambilan sikap yang bijak dalam memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang ada dalam kota ini  supaya tidak mubazir?

Menurut saya, bijak dalam memanfaatkan fasilitas-fasilitas kota ini lebih mengarah ke tiap komunitas-komunitas ataupun pelaku skena agar konsisten terhadap penyelenggaraan acara baik musik atau apapun agar ruang-ruang ini tidak terbengkalai begitu saja. Sangat disayangkan apabila kota ini memiliki fasilitas yang lebih variatif namun tidak mampu menghasilkan pergerakan khususnya sebuah acara karena alasan 'tidak mampu bayar sewa tempat'. Yang saya amati, mungkin karena di kota ini kekurangan orang-orang yang mampu bekerja secara masif, sehingga beberapa orang yang berkeinginan untuk bergerak tidak mampu apabila dijalankan seorang diri.

Terlebih, selain menghindari fasilitas yang mubazir, kita dituntut untuk bisa merawat ruang-ruang alternatif yang ada saat ini agar tetap bertahan di kemudian hari. Menjaga aset-aset di dalam venue, menjaga agar suasana tetap kondusif dan menyenangkan saat menyelenggarakan acara, serta menjaga silaturahmi antar pemilik/penjaga venue tersebut supaya tidak terjadi konflik juga cara bijak untuk merawat fasilitas-fasilitas kota terutama sebuah venue acara. Mutualisme antara pelaku skena baik si penyelenggara dengan empunya venue harus terjadi dalam konteks merawat fasilitas, supaya tidak timbul permasalahan yang merugikan sebelah pihak kelak.

9. Mas Afri juga salah satu yang aktif dalam pengelolaan sebuah event. Ada konsep event yang menarik dekat-dekat ini?

Beberapa minggu terakhir saya menyelenggarakan sebuah acara dengan konsep acara yang menonjolkan pentolan-pentolan musik riff tebal. Judul acaranya Heavy Party. Waktu itu berkonjungsi dengan agenda tur teman-teman dari Medan, Syuthay, bertajuk Gaung Tandang Tour 2016. Heavy karena yang bermain disini adalah mereka yang mengusung jenis musik stoner yang pastinya kental riff berat dan tempo sedang, sehingga kita dipaksa untuk teler sambil terus menganggukan kepala, haha. Sejauh ini di Semarang, baru beberapa event saja yang benar-benar memiliki konsep yang menarik seperti Atlas Room: Gigs Geek, Pure Metal Fest, Semarang bernyanyi Bersama, dan yang menjadi rujukan saya dalam membuat sebuah acara, Ruru Radio: Radio Of Rock.

Acara-acara tersebut saya lihat berpotensi besar menjadi poros penyelenggaraan event, meski beberapa diorganisir oleh rokok. Namun kita bisa meniru dan memodifikasi konsep acara-acara tersebut untuk disesuaikan kedalam acara yang akan kita buat. Yang sering terjadi, di Semarang sendiri penyelenggaraan acara belum memikirkan konsep acara secara matang, terutama musik. Seringnya, hingga saat ini acara-acara musik hanya mengedepankan sifat hedonis ketimbang konsep matang sehingga akan berimbas pada rekam jejak pergerakan skena.

10. Terlibat dalam Semarang on Fire yang notabene adalah salah satu pilar media independen di kota ini, adakah rencana untuk menerbitkan media yang lebih personal seperti zine misalnya?

Jujur saya bukan orang yang cepat merasa puas, jika sesuatunya tidak sesuai dengan yang saya inginkan saya akan menciptakan suatu hal yang baru lagi. Sama seperti Semarang On Fire yang memiliki standar dan struktur literasi tersendiri, saya pun merasa di Semarang On Fire masih belum cukup untuk mengeksplorasi keinginan dan uneg-uneg dengan cara saya sendiri. Sebenarnya saya telah menyiapkan proyek literatur dengan konten yang benar-benar di luar disiplin Semarang On Fire, medianya masih berbentuk zine dan dicetak.

Beberapa materi telah saya tulis dan kumpulkan, namun sangat disayangkan, kesibukan saya bekerja saat ini juga menjalankan Semarang On Fire dalam menerbitkan artikel, mengorganisir acara, terlebih saat ini saya turut membantu label dan ditribusi rekaman Vitus Record, mengurungkan niat saya untuk mengolah lebih jauh proyek-proyek pribadi saya. Saya takut jika hal ini terus terjadi saya akan jenuh dan hilang seperti halnya para pelaku skena dahulu lakukan. Beruntung, saya memiliki sahabat-sahabat yang membantu saya untuk berpikir progresif, kritis, dan terus membakar gairah saya dalam melakukan sesuatu baik untuk Semarang atau apapun, salah satunya dengan yang dilakukan teman-teman kolektif Kaum Kera ini. Saya sangat berterima kasih telah banyak membantu dan mengajarkan saya banyak hal.

11. Ada rencana untuk terlibat dalam sebuah band?

Aha, sebagai anak skena yang mana lingkungannya sudah pasti di ranah musik, tentunya ingin. Melihat teman-teman saya berteriak lantang melantunkan baris-baris lirik nan provokatif, memutuskan senar gitar karena terlalu cepat melakukan sweeping chord, atau yang dengan santai melompat dari panggung, membuat saya ingin melakukan hal yang sama juga. Ah, seperti apa yang saya tulis tadi, bahwa waktu saya benar-benar habis untuk mengabdi pada skena dan bekerja, pun saya tak terlalu paham dengan musik, sound system, bahkan saya tidak pandai bermain gitar.

Namun beberapa hari lalu, teman saya Gagas (Provokata) mengajak saya untuk membuat sebuah side-project band, saya mendapat porsi untuk membuat lirik. Semoga yang ini berjalan lancar, doakan.

12. Buku-buku atau literatur apapun yang terakhir dibaca?

Ini pengakuan yang mungkin agak memalukan bagi saya. Meski berada di lingkungan literasi, jujur saya tidak terlalu tertarik pada literatur terutama buku. Disamping jarang memiliki waktu senggang, saya sendiri jarang sekali membaca, apalagi membaca buku yang tebal. Pun saya tidak memiliki referensi untuk memilih buku bacaan. Saya biasanya lebih suka mendengarkan lagu, membaca lirik-liriknya, ulasan band, dan artikel singkat.

Hingga akhirnya sempat disodori bacaan yakni dua buah karya penulis/jurnalis asal Bandung, Zaky Yamani. Buku-buku itu berjudul "Kehausan Di Ladang Air" dan "Bandar", kedua buku ini berhasil merenggut atensi saya untuk membaca terutama setelah disodori oleh teman saya, Manusia Kera. Buku yang pertama tidak terlalu tebal, isinya tegas, aktual, dan mematikan, sama seperi Grindcore. Sial, berkat bacaan yang pertama kemudian saya malah penasaran dengan karya berikutnya yang ternyata tak kalah menarik.

Setelah itu saya tergugah untuk meliterasi diri saya sedikit demi sedikit dengan membaca artikel-artikel di laman website seperti Whiteboard Journal, Jakarta Beat, dan yang selalu saya nantikan artikel terbarunya, yakni IndoProgress. Referensi web terbaik bagi orang-orang macam saya yang malas membaca naskah panjang.

13. Lagu yang terakhir kali dinyanyikan ketika sendirian?

The Misfits - Saturday Night.

14. Ok, thanks mas Afri atas kesediaan waktunya untuk berbagi dengan Kaum Kera zine. Silahkan menyampaikan apapun itu untuk mengakhiri interview ini. Salam sayang untuk kekasih hati mungkin. :)

Jangan lelah, sebab masih banyak yang harus dilakukan untuk membenahi lingkungan, khususnya segala aktivitas di ranah independen kota Semarang saat ini. Lakukan syukur jika dapat dilaksanakan secara terorganisir dan masif, namun jika tidak memungkinkan, melakukan hal kecil secara konsisten dapat berdampak besar dikemudian hari. Kita tidak tahu apakah nanti kita akan berhasil dengan semua jerih payah yang kita bangun demi menciptakan ruang lingkup yang dinamis, namun saya masih memiliki banyak harapan untuk kota ini.

Demi mewujudkan harapan-harapan tersebut kita dapat bersama-sama belajar dan mengajarkan satu sama lain agar terciptanya ranah yang aktif, edukatif dan progressif. Terakhir saya akan mengutip sebuah ucapan dari Muhamad Ramdan, salah seorang tim produksi film Epic Java pada bagian Behind The Scene yang berbunyi "Jangan menunggu semuanya sempurna. Mulai dari sekarang, agar hasilnya sempurna." Salam.