Tidak banyak band, di kota ini, yang bermain di ranah pop tapi mempunyai dedikasi tinggi terhadap perubahan dunia. Distorsi Akustik adalah salah satu yang menarik perhatian ketika musik
rock yang dikemas dengan balutan pop berisikan muatan tekstual yang
tidak sembarangan seperti dalam EP Pu7i Utomo yang baru saja mereka rilis beberapa waktu kemarin. 7 komposisi easy listening
dengan konten lirik yang puitis filosofis tapi satir dan frontal.
Bisa kalian dengarkan pada lagu berjudul "Man who Called Eve" yang
bermuatan kritik tajam terhadap marjinalisasi atas nama agama dan norma
terhadap kaum LGBT. Dan pada lagu berjudul "Euphoria Surga" bisa kalian
temukan lirik kritis cerdas setajam silet baja terhadap para
fundamentalis agama. Untuk para penggemar U2, Sigur Ros dan
Coldplay, secara musikalitas adalah jaminan bahwa kalian akan segera
jatuh cinta dengan rilisan yang satu ini. Kualitas rekaman yang bagus,
packaging rilisan yang tidak main-main, serta seperti yang sudah
disebutkan sebelumnya, yaitu konten muatan lirik kritis satir yang
filosofis, menjadikan EP album tersebut sangat direkomendasikan untuk
disimak. Berikut vadalah interview Kaum Kera zine dengan mereka, silahkan disimak semoga menginspirasi.
1. Playlist musik beberapa waktu terakhir didominasi oleh lagu-lagu dari sebuah CD extended play album berjudul Pu7i Utomo, dan bagaimana kabar Distorsi Akustik?
Beberapa waktu yang lalu baru saja menyelesaikan tur di tiga kota untuk mempromosikan EP Pu7i Utomo dan kembali pada aktifitas keseharian, mengurus keluarga. Berjibaku dengan pekerjaan kami masing - masing. Sempat bermain di Subali fest dan beberapa pertunjukan, datang ke gigs, menonton pertunjukan band lokal serta tidak lupa merekam beberapa materi lawas untuk kami rangkum dalam rilisan berikutnya. Sepertinya semuanya akan baik - baik saja bila kita menempatkan segala sesuatu sesuai porsinya, mengurusi band, bekerja dan waktu untuk keluarga. Oh iya, kabar kami baik, sehat dan semoga begitu juga dengan dirimu, mas.
2. Mungkin banyak di luar sana yang belum begitu mengetahui tentang Distorsi Akustik, bisa berbagi deskripsi tentang Distorsi Akustik dalam beberapa kalimat?
Nama Distorsi Akustik kami ambil dari suara distorsi (over drive) yang bersinergi, melangkah selaras, dengan suara akustik (clean) dalam ruang bunyi gitar. Sebuah keseimbangan layaknya hitam dan putih, bidang lingkaran kecil yang kontras pada simbol Yin Yang. Banyak yang mungkin lupa menyadari bahwa keadilan erat kaitannya dengan keseimbangan. Dan kemanusian, butuh perhatian khusus pada hal itu : keadilan, keseimbangan. Lirik kami lebih sering berbicara tentang kemanusiaan, dengan balutan pop yang banyak orang bilang : manis. Analoginya, tidak semua orang mampu menelan makanan yang keras, pedas, dan menyengat. Beberapa menginginkan sesuatu yang manis walaupun sama - sama membuat sakit di perut.
Sering kali dalam fragmen keseharian, menemukan banyak hal yang terlanjur menjadi tradisi, padahal bukan hal yang benar. Kebanyakan lirik yang kami tulis, adalah tentang hal-hal tersebut. Iya, lirik kami kritis, bukan sok kritis. Kritis, ada laku hidupnya. Pertanggung-jawaban dalam bentuk sikap hidup sehari-hari. Kami bangga bisa menghidupi lirik yang sudah kami tulis, dimulai dengan penyikapan terhadap hal-hal kecil yang kami temui dalam keseharian.
3. Setiap karya pasti menemukan kendala dalam proses kreatifnya, apa kendala yang cukup pelik yang terhadapi ketika menjalani proses kreatif penciptaan Pu7i Utomo?
Benar, tapi kami memang sudah bersepakat untuk membiasakan diri terhadap semua kendala setiap akan memulai penggarapan sebuah rekaman. Bukankah banyak pembelajaran tentang hal baru yang bisa kita dapatkan ketika bertemu dengan berbagai kendala? Mulai dari keterbatasan finansial sehingga kami musti masuk studio recording saat studio tersebut ada discon time. Berganti - ganti personil, dan kamipun kehilangan gitaris kami terdahulu, Puji Utomo, yang terlebih dahulu berpulang. Dan yang paling merepotkan adalah saat data rekaman yang kami cicil dari tahun 2008, berisi materi 13 lagu, hilang dikarenakan studio rekaman tersebut gulung tikar, membuat kami harus mengulang proses recording dan penciptaan lagu dari awal. Dari semua data yang hilang tersebut hanya lagu "Man Who Called Eve" saja yang terselamatkan.
Tapi syukurlah, akhirnya semua kendala tersebut bisa kami lewati dan EP Pu7i Utomo berhasil kami rilis dengan swadaya beberapa waktu yang lalu, pendistribusiannya pun kami lakukan sendiri. Sangat berterima kasih terhadap teman-teman yang sudah sudi untuk membeli, juga teman-teman penjual rekaman yang banyak membantu dalam hal distribusi serta teman-teman media yang telah meluangkan waktunya mendokumentasikan ulasan tentang rilisan tersebut. Mohon doanya semoga rilisan ke depan lebih baik lagi.
4. Apa maksud pemberian titel Pu7ie Utomo? Ada apa dengan angka 7?
Gitaris kami sebelumnya, meninggal karena mengalami kecelakaan, almarhum bernama Puji Utomo. Mini album ini sebenarnya kami persembahkan sebagai penghargaan dan pengingat tentang Almarhum. Selain itu, ada muatan filosofi kearifan lokal yang juga mendasari pemberian titel EP Pu7i Utomo, dalam konteks filosofi Jawa, hari itu ada 7, dan 7 (Pitu) dalam filsafat kearifan jawa berarti PITUTUR, PITUDUH, PITULUNGAN, PITUNGKAS. Sama halnya seperti penciptaan dunia. Seperti yang tertulis di Al kitab maupun Al Q’uran. Pun di rilisan mini album kedua nanti, akan ada 5 track di sana. Sama halnya jumlah hari pasaran di penanggalan Jawa : Wage, Pon, Pahing, Kliwon, dan Legi. Semua hal tersebut sebenarnya mempunyai pesan kearifan yang nilai keluhurannya tinggi dan sepertinya bakal tidak cukup halaman di zine ini jika kita mendiskusikannya secara detail.
Bukan berarti pula bahwa filosofi kearifan lokal dari daerah lain tidak menarik. Bagi kami, tiap kearifan lokal, dari daerah manapun, mempunyai muatan filosofi yang sebenarnya baik dan mampu membuat seorang manusia yang memperpecayainya, menjadi lebih bijak menyikapi segala carut marut dunia yang serba ribut dalam arus modernitas seperti sekarang ini. Kenapa kami lebih banyak menggunakan referensi kearifan lokal Jawa, karena kami tumbuh besar dalam lingkup kearifan lokal Jawa.
5. A Man Who Called Eve, track yang langsung mencuri perhatian juga konsep video yang sungguh menarik, bisa menceritakan segala sesuatu tentang lagu ini?
Lagu ini kami dedikasikan untuk semua individu yang berani jujur dalam memilih jalan hidupnya, walaupun dianggap keluar sama sekali dari kategori yang masyarakat umum mendefinisikannya sebagai : normal. Bagi kami kebenaran itu mempunyai dua parameter :
1. Tidak merugikan manusia lainnya.
2. Mempunyai manfaat bagi manusia lainnya.
Dan ketika parameter pertama telah terpenuhi tapi orang-orang sekitar tetap memandangnya sebagai kesalahan, maka harus ada yang bisa menjelaskan bahwa hal tersebut bukan sebuah hal yang salah. Seperti halnya kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseks dan Transgender) yang kebanyakan orang memandang mereka sebagai penyakit masyarakat dan harus diberantas. Bagimana bisa mereka dipandang sebagai penyakit jika mereka bahkan tidak melakukan tindakan apapun yang merugikan manusia yang lainnya? Jika alasannya adalah penyakit menular melalui aktivitas seksual, bukti sudah menyatakan bahwa bukan hanya kaum LGBT yang membawa penyakit, semua orang bisa menjadi sumber penyakit melalui aktivitas sexual, hal itu tergantung dari pola hidup masing-masing orang, kebersihan sebagai contohnya. Mau "senormal" apapun manusia, jika pada dasarnya dia memang jorok, penyakit tentu saja segera menjangkit. Tidak bisa serta merta kita melakukan generalisasi bahwa kejorokan hanyalah milik kaum LGBT, itu picik namanya. Dan jika alasannya adalah penyakit mental, berarti negeri ini benar-benar ngotot untuk ketinggalan karena sudah sejak lama klaim prilaku LGBT sebagai penyakit, telah dicabut dari ranah disiplin ilmu psikologi.
sebenarnya bangsa ini mempunyai permasalahan yang lebih penting, dan permasalahan penting itu adalah hal kemanusiaan. Dalam sebuah negeri yang penuh pluralitas seperti Indonesia, toleransi adalah suatu hal yang harus di jaga dan di upayakan. Karena jika tidak, bahaya besar sudah menanti di depan, dan bangsa ini mungkin harus bersiap menunggu keruntuhannya.
6. Euphoria Surga, dari lirik yang terbaca langsung terkesima dengan muatan lirik kritis tajam terhadap para fundamentalis agama. Tolong berbagi sedikit pandangan Distorsi Akustik terkait lirik dalam lagu ini.
Bagi kami, seharusnya agama itu bekerja di wilayah-wilayah yang memperbaiki dan menjaga keharmonisan hubungan antar manusia. Ketika agama malah dijadikan pembenaran untuk membinasakan manusia yang lainnya, maka kami akan melakukan kritisi keras tentang hal tersebut. Lagu Euphoria Surga sejatinya bercerita tentang hal tersebut, kritik keras kami terhadap para fundamentalis agama yang berani mendahului Tuhan melakukan klaim kapling surga yang sebenarnya bukan hak manusia untuk menentukannya.
Sudah berapa banyak nyawa melayang yang disebabkan konflik dan perang karena klaim kebenaran versi manusia yang berdasarkan agama? Jika kita mendiamkannya, anak cucu kita kelak akan hidup dalam dunia yang seperti itu, dunia yang penuh dengan distoleransi dan kebencian. Kami salah satu yang memilih untuk tidak diam saja. Kami tentu saja juga beragama, tapi kami menolak menjadi bagian dari para fundamentalis yang beragama hanya demi kepentingan dominasi atau fasisme. Agama, tidak seharusnya menjadi fasis.
7. Menjalani asam garam berkesenian di Semarang sekian lama, bagaimana pendapat kalian tentang lingkungan berkomunitas di kota ini?
Semarang itu mempunyai daya apresiasi terhadap karya yang sebenarnya besar. Karya-karya dalam berbagai bentukpun banyak yang dihasilkan, sebenarnya kota ini sangat produktif. Kualitas juga mumpuni. Mungkin kota ini memang membutuhkan media-media dengan kualitas yang baik, seperti zine ini misalnya. Ketika membuat media sendiri itu sudah menjadi budaya, kami kira segala karya-karya yang dihasilkan oleh berbagai komunitas di kota ini akan semakin menyebar dan dikenal orang. Kita hanya perlu untuk menyisihkan enerji berada dalam sebuah lingkaran komunikasi yang sehat dan menciptakan iklim saling mendukung diantara para pegiat komunitas di kota ini.
8. Beberapa buku yang dibaca belakangan ini dan mungkin bisa menjadi rekomendasi?
Ada beberapa yang baru saja terbaca, berikut diantaranya yang menurut kami perlu untuk direkomendasikan :
1. Joko Muryanto - Industri Musik Nggak Asik
Sebuah buku bagus yang menceritakan bahwa industri musik mainstream sekarang ini sedang menuju tenggelam karena tidak bisa mengakomodasi kepentingan dari para musisi-musisi yang mereka rekrut.
2. Jack Nelson Pallmeyer - Is Religions Killing Us
Sebuah buku kritis yang berusaha menyadarkan bahwa dalam setiap referensi kitab suci agama samawi memang terdapat dalil-dalil yang membenarkan untuk bersikap "anti-liyan" dan pengikutnya cenderung menafsirkannya secara literal. Buku ini, ketika dipahami, mungkin bisa membuat kita lebih bijak ketika menfasirkan banyak hal dalam kitab suci yang sering kali memakai gaya bahasa metaforis.
9. Lagu yang terakhir dinyayikan ketika sendirian?
Nirvana - Something in The Way
Kurt Cobain adalah sosok jenius musik yang mungkin tidak akan disamai oleh sosok manapun dalam 50 tahun ke depan. Dan lagu ini adalah salah lagu cerdas bercerita tentang kesendirian yang dikemas dengan kualitas balada yang juga mumpuni. Linoleum karya dari grup punkrock slengekan, Nofx, mungkin pantas sebagai komparasinya walaupun dalam nuansa lagu yang berbeda.
10. Ok, thanks atas waktu dan kesediaan waktunya demi berbagi dengan Kaum Kera zine. Silahkan menyampaikan sesuatu apapun itu untuk mengakhiri interview ini.
Ketika kalian sependapat bahwa setiap manusia seharusnya mendapatkan hak kemerdekaan asasinya tanpa melupakan kewajiban, maka mari bergandeng tangan bersama merebut kembali segala yang sudah tercuri dari kemerdekaan kita selama hidup di negeri yang katanya merdeka ini. Menjadi bagian dari generasi muda, jangan hanya main aman diam saja. Hasilkan sebuah karya yang bisa mewakili dirimu sendiri. Salam.
Sabtu, 29 Oktober 2016
Rabu, 21 September 2016
“DIONTROG DAN DIRIUNG OLEH FRONT PEMBELA ISLAM”
Oleh : Azmy Rancu
aturfrekuensi@gmail.com
Pengalaman ini adalah pengalaman yang paling mendebarkan sekaligus konyol yang pernah saya alami dalam hidup ini. Mendebarkan karena ini pertama kalinya saya berhadapan langsung dengan sesuatu yang selama ini saya tentang dari belakang. Ya, saya berhadapan dengan 5 orang anggota FPI, Yaa FPI (Front Pembela Islam) Ormas Fasis dengan label Agama yang lebih cocok dibilang ormas preman-preman berjubah kiyai, yaa begitulah kenyataannya bagi saya yang pernah berhadapan langsung dengan mereka wkwkwk.
Jadi ceritanya saya menuliskan opini reaktif di sosmed sekaligus protes saya terhadap FPI secara tersirat dan khususnya tersurat pada 2 orang anggota mereka yang terang-terangan membuat postingan di Facebook yang berisi ancaman pembunuhan dan penolakan kedatangan Bupati Purwakarta (Dedi Mulyadi) yang pada saat pertengahan bulan Juli akan datang ke daerah saya dan berita itu disorot banyak media nasional, Rancah Ciamis. Singkat cerita, gara-gara tulisan itu saya “diontrog” atau didatangi ke rumah lalu diajak bicara baik-baik di Masjid Agung Rancah. Awalnya saya menolak untuk datang, tapi bapak saya berpikiran lain, beliau menyuruh saya untuk berani bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan dan tenanglah katanya nanti Bapak nyusul dengan Bissmillah pergilah saya ke Masjid pada saat itu kira-kira pukul 18.25 WIB .
Setelah sampai di Masjid saya disambut oleh riungan melingkar yang belum lengkap karena sudah disediakan tempat untuk saya duduk, dihadapan saya pada saat itu nampaklah 5 orang, dengan 4 diantaranya sosok berpakaian jubah layaknya Kiyai. Salah satunya adalah orang yang mengancam membunuh Bupati tadi layaknya orang tingkat keimanan angkasa saja dan satu diantara mereka berbaju biasa yang ternyata adalah kuasa hukum FPI, dan dialog pun dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan bertubi-tubi yang mereka lontarkan ke saya, kebanyakan dari pertanyaan itu sungguh konyol ditelinga saya seperti :
“BENER ENTE YANG NULIS POSTINGAN INI ? ENTE DIBAYAR OLEH SIAPA ?!!!”
Sungguh konyol mengingat tulisan saya dibuat atas dasar pandangan dan keinginan sendiri tanpa unsur apapun dari luar apalagi ada yang bayar. Saya jamin tidak akan ada yang sudi setidaknya belum wkwk dan sebenarnya pertanyaan itu harusnya saya lontarkan balik kepada mereka, “FPI dibayar oleh siapa ? Dan "Ente dibayar oleh siapa? Nanya saya dibayar oleh siapa ?” Seandainya saya berani.
“ENTE IKUTAN PAGUYUBAN PASUNDAN HAH ?!!!”
Apa hubungannya sih? Kasihan Paguyuban Pasundan Ciamis dituduh terlibat karena saya yang sama sekali tidak mengenal apalagi jadi anggotanya. Dan seterusnya salah satu dari mereka yang adalah pengancam Dedi Mulyadi melontarkan pernyataan-pernyataan yang sungguh konyol kepalang diantaranya :
“KARENA POSTINGAN DAN TULISAN ENTE DI SOSMED ITU, ENTE BISA DIHUKUM DIJERAT OLEH PASAL IT DAN PERLAKUAN TIDAK MENYENANGKAN !”
Oke-oke.. wait, tulisan saya yang begituan saja bisa kena pasal lalu dihukum, nah kalau yang bikin postingan tulisan ancaman pembunuhan terhadap seseorang apalagi Bupati kaya kamu hey gimana yahh ? Heelloowww Hellloww hayooh mabok siah !
“YEUH ENTE TAU GA ? BAPAK SAYA ADALAH KETURUNAN RADEN KIAN SANTANG DAN IBU SAYA ADALAH KETURUNAN RARA SANTANG ?
Walaupun notabene kedua nama tadi adalah tokoh ulama tapi keturunan siliwangi juga dan padahal di postingannya secara gamblang si kehed FPI ini menulis “WAHAI DEDI MULYADI SI RAJA MUSYRIK
YANG MENGAKU-NGAKU KETURUNAN SILIWANGI DAN SUAMI DARI NYI RORO KIDUL ?” WTF ? Siapa yang sebenarnya mengaku-ngaku keturunan siapa haduhh ?!!!
Dan akhirnya Adzan Isya’ berkumandang dialog berakhir dengan damai dan islah (padahal saya dendam asli) saya hanya bisa bersikap diam dan meng-iyakan apapun yang mereka katakan karena takut dengan ancaman Hukuman juga pasal-pasal tadi. Karena sikap saya itu, pada saat pulang saya dimarahi Bapak karena katanya saya tidak bisa mempertahankan pendirian. Maklumlah, saya berani datang sendiri dan berhadapan dengan 5 orang saja sudah bagus kan? Saya bukan manusia super loh.
Karena kasus ini, teman saya mengenalkan saya dengan seorang temannya lagi di Ciamis yang temannya itu (aduh lieur) sebut saja Anggrek lah, karena Mawar untuk perempuan, pernah juga mengalami kasus yang sama dengan saya tapi lebih parah karena Anggrek sampai pada tahap diancam akan dibunuh karena beliau menulis postingan tentang Anggota FPI Ciamis yang melakukan sweeping orang yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Padahal si kehed anggota FPI itu juga ada yang melihat tidak berpuasa juga. Bahkan konon katanya tanpa bukti yang jelas si anggota FPI yang melakukan sweeping itu sedang dalam keadaan mabuk “teler”. Saya sempat berbincang dengan Anggrek. Menurut Anggrek ada banyak teori konspirasi tentang siapa pembentuk FPI sebenarnya, ada yang bilang FPI itu sayap Golkar ada juga yang lebih parah bahwa FPI itu bentukan Illuminati hahaha dan ada yang bilang juga FPI itu bentukan militer dll.
Mungkin teman-teman bertanya (kalo engga juga gak apa sih) seperti apakah postingan/tulisan yang menyebabkan saya disered FPI daerah saya ? berikut tulisannya yang menurut banyak teman terlalu tendensius hahaha silahkan dibaca :
Rancah adalah salah satu kecamatan di Utara Kabupaten Ciamis, tidak ada yang spesial dari daerah ini kecuali alamnya yang masih asri, suasana tenang, aman, tentram dan tentu masyaraktnya yang dikenal ramah juga religius menghasilkan corak kehidupan yang indah bersahaja dan mungkin hal-hal itulah yang membuat orang-orang yang datang ke Rancah senang tinggal berlama-lama atau bahkan menetap disini, maka tidak salah atau bahkan tepat sekali jika banyak yang menyanjung tanah kelahiran kedua Orang Tua Saya ini dengan slogan "Rancah Betah" yaa itulah kalimat sakral yang kerap diucapkan pejabat dan Ulama-Ulama setempat diselipkan di pidato dan ceramah-ceramahnya, bagai makanan sehari-hari.
Rancah dalam seminggu terakhir ini agak sedikit dihebohkan dengan berita bahwa daerahnya akan kedatangan orang nomor satu di Kabupaten Purwakarta ya siapa tidak kenal Bapak Dedi Mulyadi, pemimpin nyentrik dengan ciri khas pakaian pangsi dan iket yang selalu ia pakai kemana-mana dan yang paling penting adalah fanatismenya pada budaya khususnya budaya Sunda bisa dilihat dari program-program yang sifatnya melestarikan budaya Sunda selama kepemimpinannya di Purwakarta hingga saat ini membuat Kang Dedi amat Populer di Indonesia khususnya Jawa Barat bahkan karenanya konon di Rancah ke-populerannya melampaui Bupati Ciamis itu sendiri, beliau diundang di acara pentas kebudayaan sunda yang diadakan masyarakat setempat tepatnya di Desa Dadiharja Kecamatan Rancah yang rencananya diadakan Sabtu malam, 16 Juli 2016. Masyarakat Kabupaten Ciamis patut bersenang hati khususnya Kecamatan Rancah bisa kedatangan orang populer semacam beliau terlepas dari sumbangsih atau dampak yang akan ditimbulkan nantinya saya yakin masyarakat Rancah akan menyambut dengan ke-ramah-tamahannya sehingga "Rancah Betah" itu bisa dirasakan oleh Bupati Purwakarta dan membawa cerita dan kesan bagus apalagi pasti akan banyak media nasional yang menyorot hal ini.
Tapi ternyata semua itu telah jelas-jelas dinodai oleh ulah dua orang oknum ulama, padahal saya sendiri sebagai warga setempat baru tau loh dari banyak Alim Ulama setempat yang saya hormati ternyata ada beliau berdua yang mengaku ulama berpengaruh di Kecamatan Rancah katanya, tapi kok rasa-rasanya secuilpun saya tidak terkena "pengaruhnya" itu dan salah satu dari beliau berdua mengaku sebagai pimpinan sebuah padepokan yang namanya mengandung kode angka 212 identik dengan tulisan di dada dan kampak milik pendekar silat fiksi (Wiro Sableng), dengan ke"sableng"annya beliau berdua mengancam dengan terang-terangan lewat postingan di akun facebook masing-masing bahwa akan membunuh Pak Dedi Mulyadi jika bersikukuh menginjakan kakinya di Rancah, alasannya adalah Dedi Mulyadi dianggap sebagai sosok kelewat musyrik yang suka membangun patung di tiap perempatan di Purwakarta tapi yang saya heran kenapa di postingannya ulama ini tetap mencantumkan kata "Tanah Galuh" diambil dari nama kerajaan "Galuh" yang telah lama runtuh dan notebenenya adalah Kerajaan Hindu yang menyembah patung atau benda mati yang dalam Agama saya disebut "Musyrik" tapi ah sudahlah terlalu jauh ... inti dari tulisan saya ini adalah janganlah merusak nama baik Rancah yang akan ditimbulkan nantinya apalagi mengatasnamakan umat islam dengan ulah seperti itu dan sungguh amit-amit bila ancaman mereka benar-benar terjadi akan memalukan masyarakat Kabupaten Ciamis khususnya Rancah bahkan semua orang menjadi dipermalukan bahkan jika sadar dirinya sendiri pun dibikin malu begitu tidak mencerminkan alim ulama melainkan tukang teror murni alias teroris.
aturfrekuensi@gmail.com
Pengalaman ini adalah pengalaman yang paling mendebarkan sekaligus konyol yang pernah saya alami dalam hidup ini. Mendebarkan karena ini pertama kalinya saya berhadapan langsung dengan sesuatu yang selama ini saya tentang dari belakang. Ya, saya berhadapan dengan 5 orang anggota FPI, Yaa FPI (Front Pembela Islam) Ormas Fasis dengan label Agama yang lebih cocok dibilang ormas preman-preman berjubah kiyai, yaa begitulah kenyataannya bagi saya yang pernah berhadapan langsung dengan mereka wkwkwk.
Jadi ceritanya saya menuliskan opini reaktif di sosmed sekaligus protes saya terhadap FPI secara tersirat dan khususnya tersurat pada 2 orang anggota mereka yang terang-terangan membuat postingan di Facebook yang berisi ancaman pembunuhan dan penolakan kedatangan Bupati Purwakarta (Dedi Mulyadi) yang pada saat pertengahan bulan Juli akan datang ke daerah saya dan berita itu disorot banyak media nasional, Rancah Ciamis. Singkat cerita, gara-gara tulisan itu saya “diontrog” atau didatangi ke rumah lalu diajak bicara baik-baik di Masjid Agung Rancah. Awalnya saya menolak untuk datang, tapi bapak saya berpikiran lain, beliau menyuruh saya untuk berani bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan dan tenanglah katanya nanti Bapak nyusul dengan Bissmillah pergilah saya ke Masjid pada saat itu kira-kira pukul 18.25 WIB .
Setelah sampai di Masjid saya disambut oleh riungan melingkar yang belum lengkap karena sudah disediakan tempat untuk saya duduk, dihadapan saya pada saat itu nampaklah 5 orang, dengan 4 diantaranya sosok berpakaian jubah layaknya Kiyai. Salah satunya adalah orang yang mengancam membunuh Bupati tadi layaknya orang tingkat keimanan angkasa saja dan satu diantara mereka berbaju biasa yang ternyata adalah kuasa hukum FPI, dan dialog pun dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan bertubi-tubi yang mereka lontarkan ke saya, kebanyakan dari pertanyaan itu sungguh konyol ditelinga saya seperti :
“BENER ENTE YANG NULIS POSTINGAN INI ? ENTE DIBAYAR OLEH SIAPA ?!!!”
Sungguh konyol mengingat tulisan saya dibuat atas dasar pandangan dan keinginan sendiri tanpa unsur apapun dari luar apalagi ada yang bayar. Saya jamin tidak akan ada yang sudi setidaknya belum wkwk dan sebenarnya pertanyaan itu harusnya saya lontarkan balik kepada mereka, “FPI dibayar oleh siapa ? Dan "Ente dibayar oleh siapa? Nanya saya dibayar oleh siapa ?” Seandainya saya berani.
“ENTE IKUTAN PAGUYUBAN PASUNDAN HAH ?!!!”
Apa hubungannya sih? Kasihan Paguyuban Pasundan Ciamis dituduh terlibat karena saya yang sama sekali tidak mengenal apalagi jadi anggotanya. Dan seterusnya salah satu dari mereka yang adalah pengancam Dedi Mulyadi melontarkan pernyataan-pernyataan yang sungguh konyol kepalang diantaranya :
“KARENA POSTINGAN DAN TULISAN ENTE DI SOSMED ITU, ENTE BISA DIHUKUM DIJERAT OLEH PASAL IT DAN PERLAKUAN TIDAK MENYENANGKAN !”
Oke-oke.. wait, tulisan saya yang begituan saja bisa kena pasal lalu dihukum, nah kalau yang bikin postingan tulisan ancaman pembunuhan terhadap seseorang apalagi Bupati kaya kamu hey gimana yahh ? Heelloowww Hellloww hayooh mabok siah !
“YEUH ENTE TAU GA ? BAPAK SAYA ADALAH KETURUNAN RADEN KIAN SANTANG DAN IBU SAYA ADALAH KETURUNAN RARA SANTANG ?
Walaupun notabene kedua nama tadi adalah tokoh ulama tapi keturunan siliwangi juga dan padahal di postingannya secara gamblang si kehed FPI ini menulis “WAHAI DEDI MULYADI SI RAJA MUSYRIK
YANG MENGAKU-NGAKU KETURUNAN SILIWANGI DAN SUAMI DARI NYI RORO KIDUL ?” WTF ? Siapa yang sebenarnya mengaku-ngaku keturunan siapa haduhh ?!!!
Dan akhirnya Adzan Isya’ berkumandang dialog berakhir dengan damai dan islah (padahal saya dendam asli) saya hanya bisa bersikap diam dan meng-iyakan apapun yang mereka katakan karena takut dengan ancaman Hukuman juga pasal-pasal tadi. Karena sikap saya itu, pada saat pulang saya dimarahi Bapak karena katanya saya tidak bisa mempertahankan pendirian. Maklumlah, saya berani datang sendiri dan berhadapan dengan 5 orang saja sudah bagus kan? Saya bukan manusia super loh.
Karena kasus ini, teman saya mengenalkan saya dengan seorang temannya lagi di Ciamis yang temannya itu (aduh lieur) sebut saja Anggrek lah, karena Mawar untuk perempuan, pernah juga mengalami kasus yang sama dengan saya tapi lebih parah karena Anggrek sampai pada tahap diancam akan dibunuh karena beliau menulis postingan tentang Anggota FPI Ciamis yang melakukan sweeping orang yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan. Padahal si kehed anggota FPI itu juga ada yang melihat tidak berpuasa juga. Bahkan konon katanya tanpa bukti yang jelas si anggota FPI yang melakukan sweeping itu sedang dalam keadaan mabuk “teler”. Saya sempat berbincang dengan Anggrek. Menurut Anggrek ada banyak teori konspirasi tentang siapa pembentuk FPI sebenarnya, ada yang bilang FPI itu sayap Golkar ada juga yang lebih parah bahwa FPI itu bentukan Illuminati hahaha dan ada yang bilang juga FPI itu bentukan militer dll.
Mungkin teman-teman bertanya (kalo engga juga gak apa sih) seperti apakah postingan/tulisan yang menyebabkan saya disered FPI daerah saya ? berikut tulisannya yang menurut banyak teman terlalu tendensius hahaha silahkan dibaca :
Rancah adalah salah satu kecamatan di Utara Kabupaten Ciamis, tidak ada yang spesial dari daerah ini kecuali alamnya yang masih asri, suasana tenang, aman, tentram dan tentu masyaraktnya yang dikenal ramah juga religius menghasilkan corak kehidupan yang indah bersahaja dan mungkin hal-hal itulah yang membuat orang-orang yang datang ke Rancah senang tinggal berlama-lama atau bahkan menetap disini, maka tidak salah atau bahkan tepat sekali jika banyak yang menyanjung tanah kelahiran kedua Orang Tua Saya ini dengan slogan "Rancah Betah" yaa itulah kalimat sakral yang kerap diucapkan pejabat dan Ulama-Ulama setempat diselipkan di pidato dan ceramah-ceramahnya, bagai makanan sehari-hari.
Rancah dalam seminggu terakhir ini agak sedikit dihebohkan dengan berita bahwa daerahnya akan kedatangan orang nomor satu di Kabupaten Purwakarta ya siapa tidak kenal Bapak Dedi Mulyadi, pemimpin nyentrik dengan ciri khas pakaian pangsi dan iket yang selalu ia pakai kemana-mana dan yang paling penting adalah fanatismenya pada budaya khususnya budaya Sunda bisa dilihat dari program-program yang sifatnya melestarikan budaya Sunda selama kepemimpinannya di Purwakarta hingga saat ini membuat Kang Dedi amat Populer di Indonesia khususnya Jawa Barat bahkan karenanya konon di Rancah ke-populerannya melampaui Bupati Ciamis itu sendiri, beliau diundang di acara pentas kebudayaan sunda yang diadakan masyarakat setempat tepatnya di Desa Dadiharja Kecamatan Rancah yang rencananya diadakan Sabtu malam, 16 Juli 2016. Masyarakat Kabupaten Ciamis patut bersenang hati khususnya Kecamatan Rancah bisa kedatangan orang populer semacam beliau terlepas dari sumbangsih atau dampak yang akan ditimbulkan nantinya saya yakin masyarakat Rancah akan menyambut dengan ke-ramah-tamahannya sehingga "Rancah Betah" itu bisa dirasakan oleh Bupati Purwakarta dan membawa cerita dan kesan bagus apalagi pasti akan banyak media nasional yang menyorot hal ini.
Tapi ternyata semua itu telah jelas-jelas dinodai oleh ulah dua orang oknum ulama, padahal saya sendiri sebagai warga setempat baru tau loh dari banyak Alim Ulama setempat yang saya hormati ternyata ada beliau berdua yang mengaku ulama berpengaruh di Kecamatan Rancah katanya, tapi kok rasa-rasanya secuilpun saya tidak terkena "pengaruhnya" itu dan salah satu dari beliau berdua mengaku sebagai pimpinan sebuah padepokan yang namanya mengandung kode angka 212 identik dengan tulisan di dada dan kampak milik pendekar silat fiksi (Wiro Sableng), dengan ke"sableng"annya beliau berdua mengancam dengan terang-terangan lewat postingan di akun facebook masing-masing bahwa akan membunuh Pak Dedi Mulyadi jika bersikukuh menginjakan kakinya di Rancah, alasannya adalah Dedi Mulyadi dianggap sebagai sosok kelewat musyrik yang suka membangun patung di tiap perempatan di Purwakarta tapi yang saya heran kenapa di postingannya ulama ini tetap mencantumkan kata "Tanah Galuh" diambil dari nama kerajaan "Galuh" yang telah lama runtuh dan notebenenya adalah Kerajaan Hindu yang menyembah patung atau benda mati yang dalam Agama saya disebut "Musyrik" tapi ah sudahlah terlalu jauh ... inti dari tulisan saya ini adalah janganlah merusak nama baik Rancah yang akan ditimbulkan nantinya apalagi mengatasnamakan umat islam dengan ulah seperti itu dan sungguh amit-amit bila ancaman mereka benar-benar terjadi akan memalukan masyarakat Kabupaten Ciamis khususnya Rancah bahkan semua orang menjadi dipermalukan bahkan jika sadar dirinya sendiri pun dibikin malu begitu tidak mencerminkan alim ulama melainkan tukang teror murni alias teroris.
Senin, 15 Agustus 2016
Sejenak Bersama Efi Sri Handayani
Menyenangkan sekali ketika melihat seorang kawan perempuan yang aktif sekali berkarya. Dan beberapa waktu lalu ketika menghadiri Sewon Screening di kampus ISI Yogyakarta, saya berkenalan dengan seorang sutradara muda yang filmnya lumayan menarik perhatian saya, Efi Sri Handayani. Jebolan Institut Kesenian Jakarta yang juga terlibat sebagai koordinator acara dalam penyelenggaraan Belok Kiri Fest beberapa waktu yang lalu, ternyata juga adalah seorang kutu buku serta aktif mendukung aksi warga Kendeng dalam perjuangannya menolak pendirian Pabrik Semen serta penambangan Karst di Pegunungan Kendeng Utara. Akhirnya rampung juga interview yang kami lakukan via fasilitas chat Facebook ini, setelah beberapa kali pending karena kesibukan dan hal-hal lainnya. Silahkan disimak, semoga menginspirasi.
1. Halo Efi, bagaimana kabar keseharian akhir-akhir ini?
Kabar baik dan sedikit sibuk dengan beberapa kegiatan.
2. Kamu adalah salah satu yang terlibat dalam helatan Belok Kiri Fest dan Simposium '65 beberapa waktu yang lalu. Dalam pandangan kamu pribadi, menurutmu apa urgensi dari kedua helatan tersebut untuk digelar?
Menurutku, urgensi saat ini adalah bagaimana negara bertanggung-jawab atas kejahatan pelanggaran HAM di masa lalu. Selain itu, narasi sejarah yang harus terus dibicarakan dengan mengungkap fakta yang sebenar-benarnya terjadi. Ini penting bagi generasi muda untuk tahu sejarah bangsanya sendiri supaya tragedi serupa tidak lagi terjadi di kemudian hari.
3. Helatan Belok Kiri Fest sempat mengalami kendala masalah perijinan dari pihak Kepolisian walaupun akhirnya tetap bisa berjalan dengan memindahkan tempat acara. Bisa menceritakan sedikit kronologi masalah kendala tersebut?
Empat hari sebelumnya, banner kegiatan sudah dipasang dari tanggal 22 Februari di depan TIM (Taman Ismail Marjuki), diturunkan oleh pengelola TIM keesokan harinya. Alasannya, surat izin kegiatan yang telah mendapat cap dari pihak polsek setempat, dinilai tidak cukup. Surat izin itu harus disertai surat balasan dari polsek.
Selama proses perizinan, dari tanggal 18 hingga 26 Februari, komite pelaksana dipersulit dalam urusan birokrasinya. Hingga H-1, Belok Kiri Fest tetap tak diberi izin penyelenggaraan di TIM. Saat itu pula penyelenggara disuruh membongkar display yang telah dipasang di Galeri Cipta II. Kabarnya, pihak polisi dan keamanan TIM akan membongkar paksa jika itu tidak dilakukan panitia.
4. Jagal "The Act of Killing" karya Joshua Oppenheimer adalah salah satu film yang kamu sebut-sebut saat berpidato di pembukaan Belok Kiri Fest. Dan dalam sebuah interview, Joshua sendiri mengatakan bahwa film tersebut adalah ajakan bagi semua pelaku dunia film di Indonesia untuk membuat karya yang semacam. Bagaimana pendapatmu pribadi mengenai film tersebut? Sebagai seorang yang juga pelaku dunia film, adakah rencana untuk membuat karya film yang serupa?
Film jagal secara gamblang dengan berani membeberkan fakta sejarah tragedi 1965. Bagaimana para pelaku dengan keji menceritakan peristiwa pembantaian itu. Film tersebut membuka banyak mata yang selama ini sengaja ditutupi oleh pemerintah orde baru.
Sebagai seorang sutradara, saya juga ingin membuat film dengan tema 65. Tapi bentuknya mungkin bukan dokumenter, saya ingin membuat film drama tentang anak-anak yang orang tua nya menjadi korban. Saya ingin menitik-beratkan pada bagaimana kehilangan itu, yang dialami oleh seorang anak, dan bagaimana kepulangan hanya sebatas mimpi bagi mereka para tapol 65.
5. Beberapa waktu yang lalu keputusan Pengadilan Rakyat Internasional yang digelar di Den Haag, Belanda, memutuskan bahwa pemerintah Indonesia bersalah atas berbagai kejahatan HAM yang terjadi di masa lampau. Akan tetapi pemerintah mengacuhkan putusan tersebut dan menolak untuk menindak-lanjutinya. Bagaimana pendapat kamu tentang hal tersebut?
Orde baru itu memang mempersulit hidup orang banyak ya. Bahkan yang dipersulit bukan hanya generasi terdahulu, tapi generasi muda hari ini juga kena dampaknya. Mereka begitu takut menyelesaikan masalah pelanggaran HAM masa lalu, karena jika dibongkar, pelaku-pelaku kejahatan HAM akan terancam. Stabilitas kekuasaan akan terganggu. Saya cuma heran, kenapa manusia tidak bisa hanya memakai nuraninya saja.
6. Saya lihat kamu punya perhatian khusus akan isu penolakan terhadap operasi pabrik semen dan penambangan karst di pegunungan Kendeng Utara. Apa yang mendasari perhatian tersebut?
Saya melihat ketulusan warga Kendeng, khususnya ibu-ibu petani. Mereka selalu mengatakan ibu bumi harus dijaga kelestariannya untuk masa depan anak cucu, jangan hanya memikirkan perutnya sendiri. Bahkan sempat juga ngobrol dengan salah satu kartini kendeng, ibu Sukinah, sambil menangis beliau bercerita ketika melihat tanah dirusak, yang dirasakannya adalah tubuhnya sendiri dan tubuh leluhur-leluhurnya.
Ketulusan seorang ibu kepada anaknya memang tak ternilai. Hal itu yang sebetulnya cukup menampar saya. Sebagai seorang anak yang pernah dilahirkan dari rahim seorang ibu, saya merasa harus berbuat sesuatu, meskipun itu hal kecil.
7. Dari beberapa kali postingan di media sosial, kamu terlihat aktif mengawal aksi warga Kendeng di depan Istana Negara. Bisa menceritakan sedikit tentang detail aksi tersebut hingga hari ini?
Aksi dimulai sejak 26 Juli dan hingga hari ini masih bertahan mendirikan tenda di depan istana dengan tuntutan bisa bertemu presiden Joko Widodo yang pada aksi sebelumnya dimana ibu-ibu mengecor kaki mereka dengan semen. Saat itu utusan presiden, Teten Masduki dan Pratikno hadir sebagai wakil presiden dan berjanji akan mempertemukan ibu-ibu dengan presiden Jokowi. Akan tetapi, hingga hari ini (Tanggal 31 Juli 2016) janji tidak ditepati. Kemudian aksi pasang tenda juga mengajak siapapun untuk membaca AMDAL palsu yang dibuat oleh PT. Semen Indonesia. Siapapun, warga yang ikut aksi ini juga sangat terbuka jika ada aparat, pemerintah, akademisi dan masyarakat yang ingin melihat AMDAL versi semen itu.
8. Menurutmu pribadi, apa yang menyebabkan pihak pemerintah sendiri agak berat untuk memenuhi permintaan tuntutan warga Kendeng?
Kita hidup di sebuah negara yang para pemimpinnya terlalu punya banyak kepentingan.
9. Saya salah satu penikmat karya kamu. Sebuah film, yang jika kamu ingat, kita pernah berdiskusi tentangnya, "Laki-Laki Virtual". Bagaimana proses kreatif pembuatan film tersebut? Pesan apa yang sebenarnya hendak disampaikan melalui cerita dari "Laki-Laki Virtual"?
Proses development ceritanya cukup lama, kurang lebih satu semester. Kira-kira sampai film itu selesai, memakan waktu hampir satu tahun. Sebetulnya tidak ada pesan apapun dalam film ini. "Laki-Laki Virtual" selain sebagai tugas akhir kuliah saya, di sisi lain yang lebih personal, film ini menjadi semacam healing buat saya. Manusia, terkadang butuh tamparan keras untuk menyadari tentang apa yang terjadi dan bagaimana ia harus menghadapi itu.
Kalau boleh mengutip satu puisi Sapardi, “yang fana adalah waktu, kita abadi”. Karakter laki-laki virtual berasal dari waktu dan tempat lampau, sementara perempuannya hidup di masa ini. Sebesar apapun keinginan untuk bersama laki-laki dalam video VHS itu, perempuan tidak akan bisa mendapatkan hal tersebut. Waktu memang nyata, apapun yang di dalamnya pernah ada dan hidup, tapi menghadirkannya kembali? Sudahlah, nanti keburu ada UFO jatuh.
10. Ada rencana terdekat untuk penggarapan karya dalam bentuk film lagi?
Ada, saat ini saya sedang riset untuk development cerita film fiksi dengan tema tragedi '65. Sembari mengumpulkan footage untuk project dokumenter tentang para Kartini Kendeng.
11. Buku atau literatur apapun yang terakhir di baca?
Saya sedang membaca memoar pulau buru karya pak Hersri Setiawan, salah satu seniman Lekra yang pernah menjadi tapol pulau Buru. Saya banyak terinspirasi dari buku itu untuk pembuatan film saya tentang tragedi '65.
12. Ok Efi, thanks banget sudah meluangkan waktu untuk menjawab dan berbagi bersama Kaum Kera zine. Sangat ditunggu aksi dan karya-karya berikutnya. Silahkan menyampaikan sesuatu apapun itu, untuk mengakhiri wawancara ini.
Saya kasih quotes saja ya. adalah salah satu quotes favorit dari film Cinema Paradiso : “life isn’t like in the movie. life is… much harder.” Sukses ya untuk Kaum Kera Zine. Sampai jumpa, salam congyang!
1. Halo Efi, bagaimana kabar keseharian akhir-akhir ini?
Kabar baik dan sedikit sibuk dengan beberapa kegiatan.
2. Kamu adalah salah satu yang terlibat dalam helatan Belok Kiri Fest dan Simposium '65 beberapa waktu yang lalu. Dalam pandangan kamu pribadi, menurutmu apa urgensi dari kedua helatan tersebut untuk digelar?
Menurutku, urgensi saat ini adalah bagaimana negara bertanggung-jawab atas kejahatan pelanggaran HAM di masa lalu. Selain itu, narasi sejarah yang harus terus dibicarakan dengan mengungkap fakta yang sebenar-benarnya terjadi. Ini penting bagi generasi muda untuk tahu sejarah bangsanya sendiri supaya tragedi serupa tidak lagi terjadi di kemudian hari.
3. Helatan Belok Kiri Fest sempat mengalami kendala masalah perijinan dari pihak Kepolisian walaupun akhirnya tetap bisa berjalan dengan memindahkan tempat acara. Bisa menceritakan sedikit kronologi masalah kendala tersebut?
Empat hari sebelumnya, banner kegiatan sudah dipasang dari tanggal 22 Februari di depan TIM (Taman Ismail Marjuki), diturunkan oleh pengelola TIM keesokan harinya. Alasannya, surat izin kegiatan yang telah mendapat cap dari pihak polsek setempat, dinilai tidak cukup. Surat izin itu harus disertai surat balasan dari polsek.
Selama proses perizinan, dari tanggal 18 hingga 26 Februari, komite pelaksana dipersulit dalam urusan birokrasinya. Hingga H-1, Belok Kiri Fest tetap tak diberi izin penyelenggaraan di TIM. Saat itu pula penyelenggara disuruh membongkar display yang telah dipasang di Galeri Cipta II. Kabarnya, pihak polisi dan keamanan TIM akan membongkar paksa jika itu tidak dilakukan panitia.
4. Jagal "The Act of Killing" karya Joshua Oppenheimer adalah salah satu film yang kamu sebut-sebut saat berpidato di pembukaan Belok Kiri Fest. Dan dalam sebuah interview, Joshua sendiri mengatakan bahwa film tersebut adalah ajakan bagi semua pelaku dunia film di Indonesia untuk membuat karya yang semacam. Bagaimana pendapatmu pribadi mengenai film tersebut? Sebagai seorang yang juga pelaku dunia film, adakah rencana untuk membuat karya film yang serupa?
Film jagal secara gamblang dengan berani membeberkan fakta sejarah tragedi 1965. Bagaimana para pelaku dengan keji menceritakan peristiwa pembantaian itu. Film tersebut membuka banyak mata yang selama ini sengaja ditutupi oleh pemerintah orde baru.
Sebagai seorang sutradara, saya juga ingin membuat film dengan tema 65. Tapi bentuknya mungkin bukan dokumenter, saya ingin membuat film drama tentang anak-anak yang orang tua nya menjadi korban. Saya ingin menitik-beratkan pada bagaimana kehilangan itu, yang dialami oleh seorang anak, dan bagaimana kepulangan hanya sebatas mimpi bagi mereka para tapol 65.
5. Beberapa waktu yang lalu keputusan Pengadilan Rakyat Internasional yang digelar di Den Haag, Belanda, memutuskan bahwa pemerintah Indonesia bersalah atas berbagai kejahatan HAM yang terjadi di masa lampau. Akan tetapi pemerintah mengacuhkan putusan tersebut dan menolak untuk menindak-lanjutinya. Bagaimana pendapat kamu tentang hal tersebut?
Orde baru itu memang mempersulit hidup orang banyak ya. Bahkan yang dipersulit bukan hanya generasi terdahulu, tapi generasi muda hari ini juga kena dampaknya. Mereka begitu takut menyelesaikan masalah pelanggaran HAM masa lalu, karena jika dibongkar, pelaku-pelaku kejahatan HAM akan terancam. Stabilitas kekuasaan akan terganggu. Saya cuma heran, kenapa manusia tidak bisa hanya memakai nuraninya saja.
6. Saya lihat kamu punya perhatian khusus akan isu penolakan terhadap operasi pabrik semen dan penambangan karst di pegunungan Kendeng Utara. Apa yang mendasari perhatian tersebut?
Saya melihat ketulusan warga Kendeng, khususnya ibu-ibu petani. Mereka selalu mengatakan ibu bumi harus dijaga kelestariannya untuk masa depan anak cucu, jangan hanya memikirkan perutnya sendiri. Bahkan sempat juga ngobrol dengan salah satu kartini kendeng, ibu Sukinah, sambil menangis beliau bercerita ketika melihat tanah dirusak, yang dirasakannya adalah tubuhnya sendiri dan tubuh leluhur-leluhurnya.
Ketulusan seorang ibu kepada anaknya memang tak ternilai. Hal itu yang sebetulnya cukup menampar saya. Sebagai seorang anak yang pernah dilahirkan dari rahim seorang ibu, saya merasa harus berbuat sesuatu, meskipun itu hal kecil.
7. Dari beberapa kali postingan di media sosial, kamu terlihat aktif mengawal aksi warga Kendeng di depan Istana Negara. Bisa menceritakan sedikit tentang detail aksi tersebut hingga hari ini?
Aksi dimulai sejak 26 Juli dan hingga hari ini masih bertahan mendirikan tenda di depan istana dengan tuntutan bisa bertemu presiden Joko Widodo yang pada aksi sebelumnya dimana ibu-ibu mengecor kaki mereka dengan semen. Saat itu utusan presiden, Teten Masduki dan Pratikno hadir sebagai wakil presiden dan berjanji akan mempertemukan ibu-ibu dengan presiden Jokowi. Akan tetapi, hingga hari ini (Tanggal 31 Juli 2016) janji tidak ditepati. Kemudian aksi pasang tenda juga mengajak siapapun untuk membaca AMDAL palsu yang dibuat oleh PT. Semen Indonesia. Siapapun, warga yang ikut aksi ini juga sangat terbuka jika ada aparat, pemerintah, akademisi dan masyarakat yang ingin melihat AMDAL versi semen itu.
8. Menurutmu pribadi, apa yang menyebabkan pihak pemerintah sendiri agak berat untuk memenuhi permintaan tuntutan warga Kendeng?
Kita hidup di sebuah negara yang para pemimpinnya terlalu punya banyak kepentingan.
9. Saya salah satu penikmat karya kamu. Sebuah film, yang jika kamu ingat, kita pernah berdiskusi tentangnya, "Laki-Laki Virtual". Bagaimana proses kreatif pembuatan film tersebut? Pesan apa yang sebenarnya hendak disampaikan melalui cerita dari "Laki-Laki Virtual"?
Proses development ceritanya cukup lama, kurang lebih satu semester. Kira-kira sampai film itu selesai, memakan waktu hampir satu tahun. Sebetulnya tidak ada pesan apapun dalam film ini. "Laki-Laki Virtual" selain sebagai tugas akhir kuliah saya, di sisi lain yang lebih personal, film ini menjadi semacam healing buat saya. Manusia, terkadang butuh tamparan keras untuk menyadari tentang apa yang terjadi dan bagaimana ia harus menghadapi itu.
Kalau boleh mengutip satu puisi Sapardi, “yang fana adalah waktu, kita abadi”. Karakter laki-laki virtual berasal dari waktu dan tempat lampau, sementara perempuannya hidup di masa ini. Sebesar apapun keinginan untuk bersama laki-laki dalam video VHS itu, perempuan tidak akan bisa mendapatkan hal tersebut. Waktu memang nyata, apapun yang di dalamnya pernah ada dan hidup, tapi menghadirkannya kembali? Sudahlah, nanti keburu ada UFO jatuh.
10. Ada rencana terdekat untuk penggarapan karya dalam bentuk film lagi?
Ada, saat ini saya sedang riset untuk development cerita film fiksi dengan tema tragedi '65. Sembari mengumpulkan footage untuk project dokumenter tentang para Kartini Kendeng.
11. Buku atau literatur apapun yang terakhir di baca?
Saya sedang membaca memoar pulau buru karya pak Hersri Setiawan, salah satu seniman Lekra yang pernah menjadi tapol pulau Buru. Saya banyak terinspirasi dari buku itu untuk pembuatan film saya tentang tragedi '65.
12. Ok Efi, thanks banget sudah meluangkan waktu untuk menjawab dan berbagi bersama Kaum Kera zine. Sangat ditunggu aksi dan karya-karya berikutnya. Silahkan menyampaikan sesuatu apapun itu, untuk mengakhiri wawancara ini.
Saya kasih quotes saja ya. adalah salah satu quotes favorit dari film Cinema Paradiso : “life isn’t like in the movie. life is… much harder.” Sukses ya untuk Kaum Kera Zine. Sampai jumpa, salam congyang!
Sabtu, 06 Agustus 2016
Panjang Lebar Bersama Afriyandi Wibisono
Masih jarang saya menemukan anak muda yang mempunyai semangat besar untuk menulis. Kebisaan menulis, disertai ketertarikan besar membangun media, sudah pasti memberi kontribusi besar terhadap komunitas, apapun itu bentuk komunitasnya. Menulis, akhirnya melahirkan eksekusi final berupa karya tulis, dan karya tulis akhirnya memberi kontribusi besar terhadap gerakan literasi. Gerakan literasi adalah yang hal penting ketika zaman mulai berjalan dalam koridor yang penuh dengan kebohongan. Ketika seseorang terliterasi dengan baik, maka seseorang akan lebih peka ketika ada sesuatu yang bersifat tidak beres terjadi di sekitar mereka. Dan kemudian saya berkenalan dengan seorang teman baru, Afriyandi Wibisono, salah seorang yang terlibat aktif dalam salah satu kanal media independen krusial di kota ini, Semarang on Fire. Dia salah satu yang juga aktif menulis dan mempunyai kemauan besar untuk mengasah kemampuannya dalam bidang jurnalistik. Sebenarnya sudah lama ingin melakukan sesi interview dengannya, dan akhirnya baru sekarang tersampaikan. Berikut obrolan kami, silahkan disimak, semoga menginspirasi.
1. Dari Semarang bawah ke Semarang atas masih macet karena arus balik mudik Lebaran. Bagaimana kabar kamu mas Afri?
Kabar baik, sangat baik. Beberapa minggu menjelang lebaran cukup disibukan dengan rutinitas kantor. Yang lainnya seperti biasa; membuat jurnal, resensi, dan artikel-artikel yang saya muat ke dalam web Semarang On Fire. Datang ke sebuah gigs, mengamati laju skena dan berbagai macam proses kreatif yang berjalan di kota Semarang melalui konteks kultural, sudah menjadi kecintaan tersendiri. Oh iya, saat ini saya juga disibukan dengan aktivitas perniagaan record distribution bernama Vitus. Lumayan, untuk menambah uang jajan.
2. Komunitas musik di Semarang, generasi silih berganti. Banyak yang lama pergi dan tidak kembali, beberapa ada yang tetap bertahan dan menemani yang muda datang dengan enerji yang juga mumpuni. Bisa berpendapat sedikit mengenai komunitas musik di kota ini, mas?
Ini adalah hal yang telah lama merebut atensi saya. Setelah beberapa tahun lalu pindah menetap di Semarang, perkembangan kultur khususnya di ranah musik menjadi rubrik yang rutin saya ikuti. Saya terlanjur jatuh cinta dengan segala yang terjadi di Semarang, dan dalam hal musik di sini saya melihatnya sebagai suatu hal yang sangat potensial dimiliki oleh Ibukota Jawa Tengah, yang tentu memiliki talenta berpotensi lainnya di luar kota.
Melihat dinamika yang terjadi pada komunitas musik di Semarang, semenjak mulai mengenalnya hingga saat ini, banyak hal yang sangat disayangkan. Disamping memiliki potensi, melalui pengamatan yang saya lakukan dengan melihat faktor secara ekonomi, saya menyimpulkan secara pribadi bahwa yang terjadi pada banyak kasus di komunitas ini adalah munculnya talenta-talenta berbakat lalu sinarnya lenyap yang disebabkan oleh kesibukan tiap personil.
Singkatnya, tingkat apresiasi dan minat pada konteks sub-kultur di Semarang yang sangat rendah mengakibatkan para pelaku musik dari lintas genre ini kehilangan gairah untuk bertahan di jalur musik tersebut karena keterpaksaan mereka mencukupi kebutuhan hidup atau dengan kata lain memiliki pekerjaan formal sebagai penopang utamanya. Kebutuhan hidup tersebut mungkin tidak akan terpenuhi ketika para musisi ini hanya manggung dan membuat album musik. Sampai sana saya cemas, bagaimana dengan yang akan terjadi pada talenta-talenta baru berikutnya ? Syukur, masih ada beberapa yang memiliki enerji untuk dibagikan. Para pelaku ini yang mulai saya amati dari proses penggarapan materi dan attitude yang dimiliki. Harapannya adalah mereka-mereka ini yang akan berkiprah membawa nama Semarang khususnya di ranah musik.
3. Apakah jalur bermusik independen tidak bisa menjadi basis ekonomi alternatif kalau menurut mas Afri? Mengingat sebenarnya banyak kegiatan yang terkait dengan ranah budaya anak muda yang satu ini. Gig, rilisan, produksi merchandise, dan bahkan media sebagai contohnya.
Sebenarnya bisa, jika kita melihat dari kota-kota yang pergerakan skenanya lebih cepat. Namun saya sendiri belum begitu yakin tentang menciptakan basis ekonomi alternatif sekaligus kreatif untuk ranah musik Semarang. Alasannya, seperti yang telah saya jelaskan tadi. Bahwa tingkat apresiasi yang belum mumpuni menyebabkan beberapa pelaku musik harus berani merugi atas produksi karya yang mereka ciptakan, meski sebenarnya itu juga salah satu resiko menjalani karir di jalur independen.
Yang sejauh ini saya lihat dari tiap komunitas musik di Semarang adalah, pada aktivitas produksi rilisan dan merchandise baru sebatas menampilkan eksistensi bermusik mereka sekaligus menancapkan tombak diskografi untuk skenanya. Selebihnya adalah bagaimana cara mengembalikan modal produksi atau jika lebih disimpan untuk modal produksi selanjutnya. Belum ada keuntungan yang bisa dicapai (apabila dalam konteks perbincangan ini mengarah pada apa yang bisa dihasilkan selain untuk perputaran produksi) pada tahap ini, semua akan kembali pada budaya dan dampak yang diberikan dari para pelaku seni khususnya musik untuk menciptakan lingkungan yang apresiatif.
Untuk itu terciptalah aktivitas-aktivitas lain yang berkaitan pada ranah budaya tersebut untuk membantu para pelaku musik di Semarang mendapat atensi publik, atau minimal terdengar pada komunitas sub-kultur lainnya yaitu melalui media dan gerakan literasi seperti Kaum Kera ini. Menurut saya pribadi, kondisi Semarang saat ini sedang merangkak untuk kembali menciptakan lingkungan yang cocok sebagai tempat tumbuh kembang bagi para pelaku musik, agar diterima oleh masyarakat. Barulah gerakan untuk menciptakan basis ekonomi alternatif bisa terlaksana.
4. Selain melalui jalur media dan gerakan literasi, menurut mas Afri, apa yang seharusnya dilakukan oleh para penggiat komunitas di kota ini untuk menciptakan budaya dan lingkungan yang apresiatif? Ketika sebenarnya banyak juga yang mengakui bahwa sebenarnya karya-karya dari kota ini mempunyai kualitas yang juga mumpuni.
Betul, banyak cara yang bisa dilakukan selain menggunakan media dan literasi. Cara yang paling tradisional adalah memperluas jaringan, memperlebar komunikasi dengan publik melalui akun-akun media sosial. Kemudahan komunikasi di era globalisasi saat ini turut membantu para pelaku musik untuk mempromosikan karyanya, disamping memiliki resiko yang lebih besar terkait hal yang merugikan. Namun untuk sebuah langkah awal, mengenalkan materi pada publik secara masif dapat meningkatkan rasa penasaran publik terhadap potensi yang pelaku musik ini miliki, maka atensi dan antusias publik terhadap pergerakan ini akan semakin besar.
Tentunya cara ini harus dibarengi dengan edukasi agar dikemudian hari kita tidak menemui kasus-kasus seperti pembajakan misalnya. Mengedukasi publik tentang bagaimana jalannya proses kreatif hingga menghasilkan sebuah karya yang riil tidak hanya untuk menambah pengetahuan mereka tentang pentingnya sebuah karya rilisan, namun juga mengajarkan tentang arti menghargai, dari sinilah akan tercipta lingkungan kondusif untuk berdikari di kota sendiri.
Tidak dapat dipungkiri bahwa potensi musik yang kita miliki saat ini (bisa dibilang) setara atau bahkan lebih baik dari musik-musik indie populer saat ini. Namun apabila kota atau skena yang kita diami saat ini tidak atau bahkan belum mampu mengapresiasi lebih jauh, tidak ada salahnya untuk berani melempar diri keluar lingkungan tersebut. Yang berarti para pelaku musik ini harus memiliki kanal dan jejaring yang baik antar skena di luar kota untuk mau menampungnya. Lalu apakah lantas hal ini membuat para pelaku musik tersebut diapresiasi publik ? Semua kembali pada bagaimana cara pelaku musik ini berjejaring.
5. Mas Afri adalah salah satu yang aktif di Semarang on Fire, bisa berbagi latar belakang ceritanya bisa bergabung dengan mereka? Apa tujuan mas Afri sendiri bergabung dengan Semarang on Fire?
Awal bergabung dengan Semarang On Fire cukup sederhana. Karena hobi saya sering datang ke gigs, mendokumentasi acara untuk arsip pribadi dan mempublikasikannya lewat media sosial, akhirnya saya resmi direkrut oleh Mas Garna, yang merupakan salah satu pendiri media alternatif tersebut.
Pada waktu itu (2015), Semarang On Fire baru hidup kembali setelah masa vakum di sekitaran tahun 2009, dan misinya saat hidup kembali ini adalah sebagai corong aktivitas yang berkaitan dengan seni dan pergerakan independen. Makin kesini, ideal dan misi sudah terstruktur, tidak hanya sebagai media, pula Semarang On Fire ikut bergerak mengkoordinir gigs baik dari teman-teman di dalam maupun luar kota. Sayang sekali Semarang On Fire kekurangan kontributor terutama pada lini redaksi, dan sejauh ini saya dipercaya sebagai penanggung jawab sekaligus redaktur. Cukup berat, terutama setelah 2 orang yang berada di dalam tubuh Semarang On Fire yakni Adit Mada dan Sebastian Gary mulai sibuk dengan proyek pribadi mereka, kemudian disusul dengan keberangkatan Mas Garna ke Amerika, saya harus membagi waktu untuk menyempatkan diri terjun ke dalam pergerakan skena. Sangat menyenangkan!
Tidak ada tujuan khusus. Apa yang saya lakukan selama ini terutama di Semarang On Fire adalah murni kesenangan semata. Saya senang mendokumentasikan apa yang saya suka, menulis apa yang ingin saya tulis, dan yang terpenting untuk membagi apa yang harus diketahui orang lain. Selebihnya adalah dasar dari Semarang On Fire sendiri sebagai media pengarsipan segala aktivitas skena di Semarang dan 'mengompori' anak-anak muda kreatif lainnya untuk berkarya.
6. Begitu banyak karya musik dari kota ini yang di eksekusi dalam bentuk rilisan fisik. Ada beberapa yang menurut mas Afri patut menjadi rekomendasi?
Wah, banyak sekali. Seperti yang sudah saya tulis di atas bahwa Semarang memiliki band/musisi potensial dengan karya yang menarik dan saya akan merekomendasikan beberapa album musik terbaru dari teman-teman di Semarang yang menurut saya wajib didengarkan:
Moiss: Subtitute (EP)
Ini adalah album kedua trio shoegaze yang terdiri dari M. Rifqi (Vokal/Gitar), Icad (Bass), dan Hari Candra pada drum. Dalam album ini, Moiss lebih berani menampilkan sound-sound yang fuzzy dibalut komposisi rock yang minimalis. Subtitute berisikan materi dengan lirik dan tema yang lebih ceria dibandingkan album sebelumnya yang terkesan gelap dan mengambang. Album ini dirilis kedalam format kaset melalui label rekaman asal Solo, Hema Records. Konon, album yang dicetak sebanyak 100 buah untuk 2 versinya sudah sold out !
Harvest: Happiness And The Effort (EP)
Album milik unit Hardcore asal Semarang, Harvest, cukup menyita perhatian saya. Jujur untuk seorang yang juga bergaul di lingkup Hardcore/Punk, saya kekurangan referensi atau jika dilihat saat ini kebanyakan musik hardcore yang dimainkan terlalu membosankan dengan komposisi instrumen dan beatdown. Namun yang satu ini, album dengan komposisi materi paling segar yang pernah saya dengar. Bisa jadi saya yang kampungan karena jarang mendengar musik seperti Comeback Kid, Stretch Armstrong, atau Have Heart, dan Harvest adalah salah satu yang memberi referensi musik semacam ini. Riff yang mewah, fill gitar yang variatif, cukup membuat saya terkesima meski lirik-lirik dalam album tersebut masih meleset disebabkan penggunaan grammar bahasa inggris yang minim.
AK//47: Verba Volant, Scripta Manent (Full-length)
Perlu saya jelaskan ?
Selain ketiga album yang saya rekomendasikan diatas, masih banyak karya yang saya suka baik berbentuk album maupun single dari band/musisi anyar di Semarang, juga rilisan-rilisan baru dan lawas yang patut diapresiasi.
7. Venue, dalam komunitas musik adalah salah satu infrastruktur penting yang cukup vital. Dan mungkin di Semarang kendala masalah venue cukup pelik. Ada beberapa venue lama yang sekarang masih bertahan, ada pula venue baru yang muncul dengan berbagai problematikanya masing-masing. Pendapat mas Afri sendiri tentang masalah venue bagi pergerakan komunitas musik di Semarang?
Yang ini menjadi salah satu perhatian saya berkaitan dengan pra-sarana. Semarang sebagai salah kota besar dengan hiruk pikuk duniawi, pasti menyediakan banyak fasilitas-fasilitas hiburan baik yang dibangun baik oleh pemerintah ataupun swasta. Menurut saya ini sangat baik, mengingat makin banyaknya alternatif space sebagai tempat penyelenggaraan acara. Dimudahkan dalam perizinan oleh aparat, sewa tempat dengan biaya murah (bahkan ada yang masih menggunakan sharing ticket), sound system yang lengkap, Semarang merupakan kota dengan infrastruktur yang memadai untuk komunitas musik khususnya di ranah independen. Namun ini yang menjadikan mental orang-orangya sedikit manja dibanding kota-kota lain tak jauh di sebelahnya.
Kendal adalah salah satu contoh kota dengan fasilitas venue yang kurang (atau bahkan tidak) variatif mengingat hanya ada beberapa tempat salah satunya GOR Bahurekso sebagai rujukan penyelenggaraan acara. Dengan sulitnya perizinan serta biaya sewa tempat yang teramat tinggi, memaksa kawan-kawan pelaku skena kota Kendal menjadi lebih disiplin dalam mengorganisir sebuah helatan secara masif dengan antusiasme penonton yang sangat ramai. Bagi saya Semarang adalah tempat ternyaman untuk mendirikan sebuah acara dengan berbagai pilihan venue. Yang jadi masalah adalah ketika kawan-kawan di Semarang belum bijaksana untuk memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang tersedia hingga akhirnya menjadi mubazir.
8. Menurut mas Afri, bagaimana pengambilan sikap yang bijak dalam memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang ada dalam kota ini supaya tidak mubazir?
Menurut saya, bijak dalam memanfaatkan fasilitas-fasilitas kota ini lebih mengarah ke tiap komunitas-komunitas ataupun pelaku skena agar konsisten terhadap penyelenggaraan acara baik musik atau apapun agar ruang-ruang ini tidak terbengkalai begitu saja. Sangat disayangkan apabila kota ini memiliki fasilitas yang lebih variatif namun tidak mampu menghasilkan pergerakan khususnya sebuah acara karena alasan 'tidak mampu bayar sewa tempat'. Yang saya amati, mungkin karena di kota ini kekurangan orang-orang yang mampu bekerja secara masif, sehingga beberapa orang yang berkeinginan untuk bergerak tidak mampu apabila dijalankan seorang diri.
Terlebih, selain menghindari fasilitas yang mubazir, kita dituntut untuk bisa merawat ruang-ruang alternatif yang ada saat ini agar tetap bertahan di kemudian hari. Menjaga aset-aset di dalam venue, menjaga agar suasana tetap kondusif dan menyenangkan saat menyelenggarakan acara, serta menjaga silaturahmi antar pemilik/penjaga venue tersebut supaya tidak terjadi konflik juga cara bijak untuk merawat fasilitas-fasilitas kota terutama sebuah venue acara. Mutualisme antara pelaku skena baik si penyelenggara dengan empunya venue harus terjadi dalam konteks merawat fasilitas, supaya tidak timbul permasalahan yang merugikan sebelah pihak kelak.
9. Mas Afri juga salah satu yang aktif dalam pengelolaan sebuah event. Ada konsep event yang menarik dekat-dekat ini?
Beberapa minggu terakhir saya menyelenggarakan sebuah acara dengan konsep acara yang menonjolkan pentolan-pentolan musik riff tebal. Judul acaranya Heavy Party. Waktu itu berkonjungsi dengan agenda tur teman-teman dari Medan, Syuthay, bertajuk Gaung Tandang Tour 2016. Heavy karena yang bermain disini adalah mereka yang mengusung jenis musik stoner yang pastinya kental riff berat dan tempo sedang, sehingga kita dipaksa untuk teler sambil terus menganggukan kepala, haha. Sejauh ini di Semarang, baru beberapa event saja yang benar-benar memiliki konsep yang menarik seperti Atlas Room: Gigs Geek, Pure Metal Fest, Semarang bernyanyi Bersama, dan yang menjadi rujukan saya dalam membuat sebuah acara, Ruru Radio: Radio Of Rock.
Acara-acara tersebut saya lihat berpotensi besar menjadi poros penyelenggaraan event, meski beberapa diorganisir oleh rokok. Namun kita bisa meniru dan memodifikasi konsep acara-acara tersebut untuk disesuaikan kedalam acara yang akan kita buat. Yang sering terjadi, di Semarang sendiri penyelenggaraan acara belum memikirkan konsep acara secara matang, terutama musik. Seringnya, hingga saat ini acara-acara musik hanya mengedepankan sifat hedonis ketimbang konsep matang sehingga akan berimbas pada rekam jejak pergerakan skena.
10. Terlibat dalam Semarang on Fire yang notabene adalah salah satu pilar media independen di kota ini, adakah rencana untuk menerbitkan media yang lebih personal seperti zine misalnya?
Jujur saya bukan orang yang cepat merasa puas, jika sesuatunya tidak sesuai dengan yang saya inginkan saya akan menciptakan suatu hal yang baru lagi. Sama seperti Semarang On Fire yang memiliki standar dan struktur literasi tersendiri, saya pun merasa di Semarang On Fire masih belum cukup untuk mengeksplorasi keinginan dan uneg-uneg dengan cara saya sendiri. Sebenarnya saya telah menyiapkan proyek literatur dengan konten yang benar-benar di luar disiplin Semarang On Fire, medianya masih berbentuk zine dan dicetak.
Beberapa materi telah saya tulis dan kumpulkan, namun sangat disayangkan, kesibukan saya bekerja saat ini juga menjalankan Semarang On Fire dalam menerbitkan artikel, mengorganisir acara, terlebih saat ini saya turut membantu label dan ditribusi rekaman Vitus Record, mengurungkan niat saya untuk mengolah lebih jauh proyek-proyek pribadi saya. Saya takut jika hal ini terus terjadi saya akan jenuh dan hilang seperti halnya para pelaku skena dahulu lakukan. Beruntung, saya memiliki sahabat-sahabat yang membantu saya untuk berpikir progresif, kritis, dan terus membakar gairah saya dalam melakukan sesuatu baik untuk Semarang atau apapun, salah satunya dengan yang dilakukan teman-teman kolektif Kaum Kera ini. Saya sangat berterima kasih telah banyak membantu dan mengajarkan saya banyak hal.
11. Ada rencana untuk terlibat dalam sebuah band?
Aha, sebagai anak skena yang mana lingkungannya sudah pasti di ranah musik, tentunya ingin. Melihat teman-teman saya berteriak lantang melantunkan baris-baris lirik nan provokatif, memutuskan senar gitar karena terlalu cepat melakukan sweeping chord, atau yang dengan santai melompat dari panggung, membuat saya ingin melakukan hal yang sama juga. Ah, seperti apa yang saya tulis tadi, bahwa waktu saya benar-benar habis untuk mengabdi pada skena dan bekerja, pun saya tak terlalu paham dengan musik, sound system, bahkan saya tidak pandai bermain gitar.
Namun beberapa hari lalu, teman saya Gagas (Provokata) mengajak saya untuk membuat sebuah side-project band, saya mendapat porsi untuk membuat lirik. Semoga yang ini berjalan lancar, doakan.
12. Buku-buku atau literatur apapun yang terakhir dibaca?
Ini pengakuan yang mungkin agak memalukan bagi saya. Meski berada di lingkungan literasi, jujur saya tidak terlalu tertarik pada literatur terutama buku. Disamping jarang memiliki waktu senggang, saya sendiri jarang sekali membaca, apalagi membaca buku yang tebal. Pun saya tidak memiliki referensi untuk memilih buku bacaan. Saya biasanya lebih suka mendengarkan lagu, membaca lirik-liriknya, ulasan band, dan artikel singkat.
Hingga akhirnya sempat disodori bacaan yakni dua buah karya penulis/jurnalis asal Bandung, Zaky Yamani. Buku-buku itu berjudul "Kehausan Di Ladang Air" dan "Bandar", kedua buku ini berhasil merenggut atensi saya untuk membaca terutama setelah disodori oleh teman saya, Manusia Kera. Buku yang pertama tidak terlalu tebal, isinya tegas, aktual, dan mematikan, sama seperi Grindcore. Sial, berkat bacaan yang pertama kemudian saya malah penasaran dengan karya berikutnya yang ternyata tak kalah menarik.
Setelah itu saya tergugah untuk meliterasi diri saya sedikit demi sedikit dengan membaca artikel-artikel di laman website seperti Whiteboard Journal, Jakarta Beat, dan yang selalu saya nantikan artikel terbarunya, yakni IndoProgress. Referensi web terbaik bagi orang-orang macam saya yang malas membaca naskah panjang.
13. Lagu yang terakhir kali dinyanyikan ketika sendirian?
The Misfits - Saturday Night.
14. Ok, thanks mas Afri atas kesediaan waktunya untuk berbagi dengan Kaum Kera zine. Silahkan menyampaikan apapun itu untuk mengakhiri interview ini. Salam sayang untuk kekasih hati mungkin. :)
Jangan lelah, sebab masih banyak yang harus dilakukan untuk membenahi lingkungan, khususnya segala aktivitas di ranah independen kota Semarang saat ini. Lakukan syukur jika dapat dilaksanakan secara terorganisir dan masif, namun jika tidak memungkinkan, melakukan hal kecil secara konsisten dapat berdampak besar dikemudian hari. Kita tidak tahu apakah nanti kita akan berhasil dengan semua jerih payah yang kita bangun demi menciptakan ruang lingkup yang dinamis, namun saya masih memiliki banyak harapan untuk kota ini.
Demi mewujudkan harapan-harapan tersebut kita dapat bersama-sama belajar dan mengajarkan satu sama lain agar terciptanya ranah yang aktif, edukatif dan progressif. Terakhir saya akan mengutip sebuah ucapan dari Muhamad Ramdan, salah seorang tim produksi film Epic Java pada bagian Behind The Scene yang berbunyi "Jangan menunggu semuanya sempurna. Mulai dari sekarang, agar hasilnya sempurna." Salam.
1. Dari Semarang bawah ke Semarang atas masih macet karena arus balik mudik Lebaran. Bagaimana kabar kamu mas Afri?
Kabar baik, sangat baik. Beberapa minggu menjelang lebaran cukup disibukan dengan rutinitas kantor. Yang lainnya seperti biasa; membuat jurnal, resensi, dan artikel-artikel yang saya muat ke dalam web Semarang On Fire. Datang ke sebuah gigs, mengamati laju skena dan berbagai macam proses kreatif yang berjalan di kota Semarang melalui konteks kultural, sudah menjadi kecintaan tersendiri. Oh iya, saat ini saya juga disibukan dengan aktivitas perniagaan record distribution bernama Vitus. Lumayan, untuk menambah uang jajan.
2. Komunitas musik di Semarang, generasi silih berganti. Banyak yang lama pergi dan tidak kembali, beberapa ada yang tetap bertahan dan menemani yang muda datang dengan enerji yang juga mumpuni. Bisa berpendapat sedikit mengenai komunitas musik di kota ini, mas?
Ini adalah hal yang telah lama merebut atensi saya. Setelah beberapa tahun lalu pindah menetap di Semarang, perkembangan kultur khususnya di ranah musik menjadi rubrik yang rutin saya ikuti. Saya terlanjur jatuh cinta dengan segala yang terjadi di Semarang, dan dalam hal musik di sini saya melihatnya sebagai suatu hal yang sangat potensial dimiliki oleh Ibukota Jawa Tengah, yang tentu memiliki talenta berpotensi lainnya di luar kota.
Melihat dinamika yang terjadi pada komunitas musik di Semarang, semenjak mulai mengenalnya hingga saat ini, banyak hal yang sangat disayangkan. Disamping memiliki potensi, melalui pengamatan yang saya lakukan dengan melihat faktor secara ekonomi, saya menyimpulkan secara pribadi bahwa yang terjadi pada banyak kasus di komunitas ini adalah munculnya talenta-talenta berbakat lalu sinarnya lenyap yang disebabkan oleh kesibukan tiap personil.
Singkatnya, tingkat apresiasi dan minat pada konteks sub-kultur di Semarang yang sangat rendah mengakibatkan para pelaku musik dari lintas genre ini kehilangan gairah untuk bertahan di jalur musik tersebut karena keterpaksaan mereka mencukupi kebutuhan hidup atau dengan kata lain memiliki pekerjaan formal sebagai penopang utamanya. Kebutuhan hidup tersebut mungkin tidak akan terpenuhi ketika para musisi ini hanya manggung dan membuat album musik. Sampai sana saya cemas, bagaimana dengan yang akan terjadi pada talenta-talenta baru berikutnya ? Syukur, masih ada beberapa yang memiliki enerji untuk dibagikan. Para pelaku ini yang mulai saya amati dari proses penggarapan materi dan attitude yang dimiliki. Harapannya adalah mereka-mereka ini yang akan berkiprah membawa nama Semarang khususnya di ranah musik.
3. Apakah jalur bermusik independen tidak bisa menjadi basis ekonomi alternatif kalau menurut mas Afri? Mengingat sebenarnya banyak kegiatan yang terkait dengan ranah budaya anak muda yang satu ini. Gig, rilisan, produksi merchandise, dan bahkan media sebagai contohnya.
Sebenarnya bisa, jika kita melihat dari kota-kota yang pergerakan skenanya lebih cepat. Namun saya sendiri belum begitu yakin tentang menciptakan basis ekonomi alternatif sekaligus kreatif untuk ranah musik Semarang. Alasannya, seperti yang telah saya jelaskan tadi. Bahwa tingkat apresiasi yang belum mumpuni menyebabkan beberapa pelaku musik harus berani merugi atas produksi karya yang mereka ciptakan, meski sebenarnya itu juga salah satu resiko menjalani karir di jalur independen.
Yang sejauh ini saya lihat dari tiap komunitas musik di Semarang adalah, pada aktivitas produksi rilisan dan merchandise baru sebatas menampilkan eksistensi bermusik mereka sekaligus menancapkan tombak diskografi untuk skenanya. Selebihnya adalah bagaimana cara mengembalikan modal produksi atau jika lebih disimpan untuk modal produksi selanjutnya. Belum ada keuntungan yang bisa dicapai (apabila dalam konteks perbincangan ini mengarah pada apa yang bisa dihasilkan selain untuk perputaran produksi) pada tahap ini, semua akan kembali pada budaya dan dampak yang diberikan dari para pelaku seni khususnya musik untuk menciptakan lingkungan yang apresiatif.
Untuk itu terciptalah aktivitas-aktivitas lain yang berkaitan pada ranah budaya tersebut untuk membantu para pelaku musik di Semarang mendapat atensi publik, atau minimal terdengar pada komunitas sub-kultur lainnya yaitu melalui media dan gerakan literasi seperti Kaum Kera ini. Menurut saya pribadi, kondisi Semarang saat ini sedang merangkak untuk kembali menciptakan lingkungan yang cocok sebagai tempat tumbuh kembang bagi para pelaku musik, agar diterima oleh masyarakat. Barulah gerakan untuk menciptakan basis ekonomi alternatif bisa terlaksana.
4. Selain melalui jalur media dan gerakan literasi, menurut mas Afri, apa yang seharusnya dilakukan oleh para penggiat komunitas di kota ini untuk menciptakan budaya dan lingkungan yang apresiatif? Ketika sebenarnya banyak juga yang mengakui bahwa sebenarnya karya-karya dari kota ini mempunyai kualitas yang juga mumpuni.
Betul, banyak cara yang bisa dilakukan selain menggunakan media dan literasi. Cara yang paling tradisional adalah memperluas jaringan, memperlebar komunikasi dengan publik melalui akun-akun media sosial. Kemudahan komunikasi di era globalisasi saat ini turut membantu para pelaku musik untuk mempromosikan karyanya, disamping memiliki resiko yang lebih besar terkait hal yang merugikan. Namun untuk sebuah langkah awal, mengenalkan materi pada publik secara masif dapat meningkatkan rasa penasaran publik terhadap potensi yang pelaku musik ini miliki, maka atensi dan antusias publik terhadap pergerakan ini akan semakin besar.
Tentunya cara ini harus dibarengi dengan edukasi agar dikemudian hari kita tidak menemui kasus-kasus seperti pembajakan misalnya. Mengedukasi publik tentang bagaimana jalannya proses kreatif hingga menghasilkan sebuah karya yang riil tidak hanya untuk menambah pengetahuan mereka tentang pentingnya sebuah karya rilisan, namun juga mengajarkan tentang arti menghargai, dari sinilah akan tercipta lingkungan kondusif untuk berdikari di kota sendiri.
Tidak dapat dipungkiri bahwa potensi musik yang kita miliki saat ini (bisa dibilang) setara atau bahkan lebih baik dari musik-musik indie populer saat ini. Namun apabila kota atau skena yang kita diami saat ini tidak atau bahkan belum mampu mengapresiasi lebih jauh, tidak ada salahnya untuk berani melempar diri keluar lingkungan tersebut. Yang berarti para pelaku musik ini harus memiliki kanal dan jejaring yang baik antar skena di luar kota untuk mau menampungnya. Lalu apakah lantas hal ini membuat para pelaku musik tersebut diapresiasi publik ? Semua kembali pada bagaimana cara pelaku musik ini berjejaring.
5. Mas Afri adalah salah satu yang aktif di Semarang on Fire, bisa berbagi latar belakang ceritanya bisa bergabung dengan mereka? Apa tujuan mas Afri sendiri bergabung dengan Semarang on Fire?
Awal bergabung dengan Semarang On Fire cukup sederhana. Karena hobi saya sering datang ke gigs, mendokumentasi acara untuk arsip pribadi dan mempublikasikannya lewat media sosial, akhirnya saya resmi direkrut oleh Mas Garna, yang merupakan salah satu pendiri media alternatif tersebut.
Pada waktu itu (2015), Semarang On Fire baru hidup kembali setelah masa vakum di sekitaran tahun 2009, dan misinya saat hidup kembali ini adalah sebagai corong aktivitas yang berkaitan dengan seni dan pergerakan independen. Makin kesini, ideal dan misi sudah terstruktur, tidak hanya sebagai media, pula Semarang On Fire ikut bergerak mengkoordinir gigs baik dari teman-teman di dalam maupun luar kota. Sayang sekali Semarang On Fire kekurangan kontributor terutama pada lini redaksi, dan sejauh ini saya dipercaya sebagai penanggung jawab sekaligus redaktur. Cukup berat, terutama setelah 2 orang yang berada di dalam tubuh Semarang On Fire yakni Adit Mada dan Sebastian Gary mulai sibuk dengan proyek pribadi mereka, kemudian disusul dengan keberangkatan Mas Garna ke Amerika, saya harus membagi waktu untuk menyempatkan diri terjun ke dalam pergerakan skena. Sangat menyenangkan!
Tidak ada tujuan khusus. Apa yang saya lakukan selama ini terutama di Semarang On Fire adalah murni kesenangan semata. Saya senang mendokumentasikan apa yang saya suka, menulis apa yang ingin saya tulis, dan yang terpenting untuk membagi apa yang harus diketahui orang lain. Selebihnya adalah dasar dari Semarang On Fire sendiri sebagai media pengarsipan segala aktivitas skena di Semarang dan 'mengompori' anak-anak muda kreatif lainnya untuk berkarya.
6. Begitu banyak karya musik dari kota ini yang di eksekusi dalam bentuk rilisan fisik. Ada beberapa yang menurut mas Afri patut menjadi rekomendasi?
Wah, banyak sekali. Seperti yang sudah saya tulis di atas bahwa Semarang memiliki band/musisi potensial dengan karya yang menarik dan saya akan merekomendasikan beberapa album musik terbaru dari teman-teman di Semarang yang menurut saya wajib didengarkan:
Moiss: Subtitute (EP)
Ini adalah album kedua trio shoegaze yang terdiri dari M. Rifqi (Vokal/Gitar), Icad (Bass), dan Hari Candra pada drum. Dalam album ini, Moiss lebih berani menampilkan sound-sound yang fuzzy dibalut komposisi rock yang minimalis. Subtitute berisikan materi dengan lirik dan tema yang lebih ceria dibandingkan album sebelumnya yang terkesan gelap dan mengambang. Album ini dirilis kedalam format kaset melalui label rekaman asal Solo, Hema Records. Konon, album yang dicetak sebanyak 100 buah untuk 2 versinya sudah sold out !
Harvest: Happiness And The Effort (EP)
Album milik unit Hardcore asal Semarang, Harvest, cukup menyita perhatian saya. Jujur untuk seorang yang juga bergaul di lingkup Hardcore/Punk, saya kekurangan referensi atau jika dilihat saat ini kebanyakan musik hardcore yang dimainkan terlalu membosankan dengan komposisi instrumen dan beatdown. Namun yang satu ini, album dengan komposisi materi paling segar yang pernah saya dengar. Bisa jadi saya yang kampungan karena jarang mendengar musik seperti Comeback Kid, Stretch Armstrong, atau Have Heart, dan Harvest adalah salah satu yang memberi referensi musik semacam ini. Riff yang mewah, fill gitar yang variatif, cukup membuat saya terkesima meski lirik-lirik dalam album tersebut masih meleset disebabkan penggunaan grammar bahasa inggris yang minim.
AK//47: Verba Volant, Scripta Manent (Full-length)
Perlu saya jelaskan ?
Selain ketiga album yang saya rekomendasikan diatas, masih banyak karya yang saya suka baik berbentuk album maupun single dari band/musisi anyar di Semarang, juga rilisan-rilisan baru dan lawas yang patut diapresiasi.
7. Venue, dalam komunitas musik adalah salah satu infrastruktur penting yang cukup vital. Dan mungkin di Semarang kendala masalah venue cukup pelik. Ada beberapa venue lama yang sekarang masih bertahan, ada pula venue baru yang muncul dengan berbagai problematikanya masing-masing. Pendapat mas Afri sendiri tentang masalah venue bagi pergerakan komunitas musik di Semarang?
Yang ini menjadi salah satu perhatian saya berkaitan dengan pra-sarana. Semarang sebagai salah kota besar dengan hiruk pikuk duniawi, pasti menyediakan banyak fasilitas-fasilitas hiburan baik yang dibangun baik oleh pemerintah ataupun swasta. Menurut saya ini sangat baik, mengingat makin banyaknya alternatif space sebagai tempat penyelenggaraan acara. Dimudahkan dalam perizinan oleh aparat, sewa tempat dengan biaya murah (bahkan ada yang masih menggunakan sharing ticket), sound system yang lengkap, Semarang merupakan kota dengan infrastruktur yang memadai untuk komunitas musik khususnya di ranah independen. Namun ini yang menjadikan mental orang-orangya sedikit manja dibanding kota-kota lain tak jauh di sebelahnya.
Kendal adalah salah satu contoh kota dengan fasilitas venue yang kurang (atau bahkan tidak) variatif mengingat hanya ada beberapa tempat salah satunya GOR Bahurekso sebagai rujukan penyelenggaraan acara. Dengan sulitnya perizinan serta biaya sewa tempat yang teramat tinggi, memaksa kawan-kawan pelaku skena kota Kendal menjadi lebih disiplin dalam mengorganisir sebuah helatan secara masif dengan antusiasme penonton yang sangat ramai. Bagi saya Semarang adalah tempat ternyaman untuk mendirikan sebuah acara dengan berbagai pilihan venue. Yang jadi masalah adalah ketika kawan-kawan di Semarang belum bijaksana untuk memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang tersedia hingga akhirnya menjadi mubazir.
8. Menurut mas Afri, bagaimana pengambilan sikap yang bijak dalam memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang ada dalam kota ini supaya tidak mubazir?
Menurut saya, bijak dalam memanfaatkan fasilitas-fasilitas kota ini lebih mengarah ke tiap komunitas-komunitas ataupun pelaku skena agar konsisten terhadap penyelenggaraan acara baik musik atau apapun agar ruang-ruang ini tidak terbengkalai begitu saja. Sangat disayangkan apabila kota ini memiliki fasilitas yang lebih variatif namun tidak mampu menghasilkan pergerakan khususnya sebuah acara karena alasan 'tidak mampu bayar sewa tempat'. Yang saya amati, mungkin karena di kota ini kekurangan orang-orang yang mampu bekerja secara masif, sehingga beberapa orang yang berkeinginan untuk bergerak tidak mampu apabila dijalankan seorang diri.
Terlebih, selain menghindari fasilitas yang mubazir, kita dituntut untuk bisa merawat ruang-ruang alternatif yang ada saat ini agar tetap bertahan di kemudian hari. Menjaga aset-aset di dalam venue, menjaga agar suasana tetap kondusif dan menyenangkan saat menyelenggarakan acara, serta menjaga silaturahmi antar pemilik/penjaga venue tersebut supaya tidak terjadi konflik juga cara bijak untuk merawat fasilitas-fasilitas kota terutama sebuah venue acara. Mutualisme antara pelaku skena baik si penyelenggara dengan empunya venue harus terjadi dalam konteks merawat fasilitas, supaya tidak timbul permasalahan yang merugikan sebelah pihak kelak.
9. Mas Afri juga salah satu yang aktif dalam pengelolaan sebuah event. Ada konsep event yang menarik dekat-dekat ini?
Beberapa minggu terakhir saya menyelenggarakan sebuah acara dengan konsep acara yang menonjolkan pentolan-pentolan musik riff tebal. Judul acaranya Heavy Party. Waktu itu berkonjungsi dengan agenda tur teman-teman dari Medan, Syuthay, bertajuk Gaung Tandang Tour 2016. Heavy karena yang bermain disini adalah mereka yang mengusung jenis musik stoner yang pastinya kental riff berat dan tempo sedang, sehingga kita dipaksa untuk teler sambil terus menganggukan kepala, haha. Sejauh ini di Semarang, baru beberapa event saja yang benar-benar memiliki konsep yang menarik seperti Atlas Room: Gigs Geek, Pure Metal Fest, Semarang bernyanyi Bersama, dan yang menjadi rujukan saya dalam membuat sebuah acara, Ruru Radio: Radio Of Rock.
Acara-acara tersebut saya lihat berpotensi besar menjadi poros penyelenggaraan event, meski beberapa diorganisir oleh rokok. Namun kita bisa meniru dan memodifikasi konsep acara-acara tersebut untuk disesuaikan kedalam acara yang akan kita buat. Yang sering terjadi, di Semarang sendiri penyelenggaraan acara belum memikirkan konsep acara secara matang, terutama musik. Seringnya, hingga saat ini acara-acara musik hanya mengedepankan sifat hedonis ketimbang konsep matang sehingga akan berimbas pada rekam jejak pergerakan skena.
10. Terlibat dalam Semarang on Fire yang notabene adalah salah satu pilar media independen di kota ini, adakah rencana untuk menerbitkan media yang lebih personal seperti zine misalnya?
Jujur saya bukan orang yang cepat merasa puas, jika sesuatunya tidak sesuai dengan yang saya inginkan saya akan menciptakan suatu hal yang baru lagi. Sama seperti Semarang On Fire yang memiliki standar dan struktur literasi tersendiri, saya pun merasa di Semarang On Fire masih belum cukup untuk mengeksplorasi keinginan dan uneg-uneg dengan cara saya sendiri. Sebenarnya saya telah menyiapkan proyek literatur dengan konten yang benar-benar di luar disiplin Semarang On Fire, medianya masih berbentuk zine dan dicetak.
Beberapa materi telah saya tulis dan kumpulkan, namun sangat disayangkan, kesibukan saya bekerja saat ini juga menjalankan Semarang On Fire dalam menerbitkan artikel, mengorganisir acara, terlebih saat ini saya turut membantu label dan ditribusi rekaman Vitus Record, mengurungkan niat saya untuk mengolah lebih jauh proyek-proyek pribadi saya. Saya takut jika hal ini terus terjadi saya akan jenuh dan hilang seperti halnya para pelaku skena dahulu lakukan. Beruntung, saya memiliki sahabat-sahabat yang membantu saya untuk berpikir progresif, kritis, dan terus membakar gairah saya dalam melakukan sesuatu baik untuk Semarang atau apapun, salah satunya dengan yang dilakukan teman-teman kolektif Kaum Kera ini. Saya sangat berterima kasih telah banyak membantu dan mengajarkan saya banyak hal.
11. Ada rencana untuk terlibat dalam sebuah band?
Aha, sebagai anak skena yang mana lingkungannya sudah pasti di ranah musik, tentunya ingin. Melihat teman-teman saya berteriak lantang melantunkan baris-baris lirik nan provokatif, memutuskan senar gitar karena terlalu cepat melakukan sweeping chord, atau yang dengan santai melompat dari panggung, membuat saya ingin melakukan hal yang sama juga. Ah, seperti apa yang saya tulis tadi, bahwa waktu saya benar-benar habis untuk mengabdi pada skena dan bekerja, pun saya tak terlalu paham dengan musik, sound system, bahkan saya tidak pandai bermain gitar.
Namun beberapa hari lalu, teman saya Gagas (Provokata) mengajak saya untuk membuat sebuah side-project band, saya mendapat porsi untuk membuat lirik. Semoga yang ini berjalan lancar, doakan.
12. Buku-buku atau literatur apapun yang terakhir dibaca?
Ini pengakuan yang mungkin agak memalukan bagi saya. Meski berada di lingkungan literasi, jujur saya tidak terlalu tertarik pada literatur terutama buku. Disamping jarang memiliki waktu senggang, saya sendiri jarang sekali membaca, apalagi membaca buku yang tebal. Pun saya tidak memiliki referensi untuk memilih buku bacaan. Saya biasanya lebih suka mendengarkan lagu, membaca lirik-liriknya, ulasan band, dan artikel singkat.
Hingga akhirnya sempat disodori bacaan yakni dua buah karya penulis/jurnalis asal Bandung, Zaky Yamani. Buku-buku itu berjudul "Kehausan Di Ladang Air" dan "Bandar", kedua buku ini berhasil merenggut atensi saya untuk membaca terutama setelah disodori oleh teman saya, Manusia Kera. Buku yang pertama tidak terlalu tebal, isinya tegas, aktual, dan mematikan, sama seperi Grindcore. Sial, berkat bacaan yang pertama kemudian saya malah penasaran dengan karya berikutnya yang ternyata tak kalah menarik.
Setelah itu saya tergugah untuk meliterasi diri saya sedikit demi sedikit dengan membaca artikel-artikel di laman website seperti Whiteboard Journal, Jakarta Beat, dan yang selalu saya nantikan artikel terbarunya, yakni IndoProgress. Referensi web terbaik bagi orang-orang macam saya yang malas membaca naskah panjang.
13. Lagu yang terakhir kali dinyanyikan ketika sendirian?
The Misfits - Saturday Night.
14. Ok, thanks mas Afri atas kesediaan waktunya untuk berbagi dengan Kaum Kera zine. Silahkan menyampaikan apapun itu untuk mengakhiri interview ini. Salam sayang untuk kekasih hati mungkin. :)
Jangan lelah, sebab masih banyak yang harus dilakukan untuk membenahi lingkungan, khususnya segala aktivitas di ranah independen kota Semarang saat ini. Lakukan syukur jika dapat dilaksanakan secara terorganisir dan masif, namun jika tidak memungkinkan, melakukan hal kecil secara konsisten dapat berdampak besar dikemudian hari. Kita tidak tahu apakah nanti kita akan berhasil dengan semua jerih payah yang kita bangun demi menciptakan ruang lingkup yang dinamis, namun saya masih memiliki banyak harapan untuk kota ini.
Demi mewujudkan harapan-harapan tersebut kita dapat bersama-sama belajar dan mengajarkan satu sama lain agar terciptanya ranah yang aktif, edukatif dan progressif. Terakhir saya akan mengutip sebuah ucapan dari Muhamad Ramdan, salah seorang tim produksi film Epic Java pada bagian Behind The Scene yang berbunyi "Jangan menunggu semuanya sempurna. Mulai dari sekarang, agar hasilnya sempurna." Salam.
Minggu, 17 Juli 2016
Resensi Rekaman : Harvest "Happiness and the Effort"
Tulisan oleh : Galang Aji Putro
Band photos : Hanafi Arozaq Hastoworo
Bila kita sama-sama memiliki ketertarikan musikal terhadap punk, hardcore, dan segala turunannya, apakah kita merasakan hal yang sama ketika diberi kesempatan untuk mendengarkannya? Bahkan, ketika kesempatan tersebut hanya membutuhkan sepasang telinga, barangkali kita akan melakukan gerakan kecil sebagai respon dalam sebuah hubungan sebab dan akibat, entah menganggukan kepala dan/atau menghentakkan kaki ke tanah. Lebih dari itu, kita bisa saja membayangkan moshpit yang begitu riuh karena pergumulan orang-orang yang dalam beberapa saat tertentu juga mengangkat kepalan tangannya ke angkasa. Bagi yang tidak sungkan menganggap dirinya sudah terlalu tua untuk menikmati langgam musik yang saya sebut di awal paragraf, bersiaplah untuk dihinggapi kenangan tentang masa muda yang diliputi kenakalan dan semangat untuk menjalani hidup tanpa batasan apa pun. Namun, hal ini bersifat nisbi karena tidak semua band pengusungnya memiliki kekuatan untuk memberi sugesti kepada pendengar.
Ada yang bilang bahwa sebuah band akan terlahir mutlak secara utuh jika mereka mampu merilis album sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap sesuatu yang sudah mereka mulai. Saya adalah salah satu yang mengamini pendapat itu. Jika parameter ini diberlakukan, maka Harvest–sindikat hardcore asal kota Semarang–telah melakukannya pada 2012 lalu melalui album mini As Long As You Breathe. Kemudian, pada 2016 ini, Harvest merilis album berjudul Happiness And The Effort ke pasar bebas. Sebuah album yang mengusung delapan repertoar tersebut berkutat pada gambaran kehidupan yang dialami Harvest secara grup maupun personal dalam sebuah scene. Selain itu, mereka juga mengungkapkan satir terhadap ketimpangan pembangunan kota secara fisik melalui artwork pada sampul album. Tanpa membaca dan memahami lirik dalam album, kita bisa saja menganggap Harvest dapat mewakili identitas musik yang mereka usung–yang biasanya merujuk pada kesan amarah dan/atau penghimpun semangat.
Happiness And The Effort dibuka dengan nomor berjudul “The Passion That We Have”. Lagu ini belum memberikan kejutan selain monolog pada awal lagu yang sepertinya tidak mudah dicerna oleh orang dengan kemampuan berbahasa Inggris yang biasa saja seperti saya. Pada album mini As Long As You Breathe, nomor ini juga bisa ditemukan. Lagu ini bercerita tentang seseorang yang dikutuk oleh idealismenya sendiri sehingga merasa terperangkap dalam velodrome. Meskipun dia merasa tidak nyaman dengan realita, tapi ada gairah yang menjadikannya tetap menghidupi kehidupannya itu. “This is what I believe” yang dinyanyikan dengan penuh amarah seolah menegaskan bahwa Tan Malaka bukanlah mitos belaka. Semoga kita juga mengimani bahwa idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.
“For All Year Long” menyusul pada baris berikutnya. Lagu ini masih menggunakan lirik berbahasa Inggris dengan grammatical tense yang meleset di beberapa kalimat. Barangkali, hal ini membuktikan bahwa penggunaan Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia dalam penulisan lirik memiliki kesulitan masing-masing. Ketika lagu ini mulai berputar, entah kenapa saya langsung berandai jika nantinya “For All Year Long” juga digarap dalam bentuk footage video yang diambil dari rekam jejak mereka dalam gig maupun scene yang menampilkan setiap sosok yang berarti bagi mereka hingga sekarang. Salah satu hal yang saya suka dari melodic hardcore adalah ketika power chord sweeping memberikan euforia yang seolah-olah membuat perasaan saya membuncah seperti ada ribuan kupu-kupu yang keluar dari dalam paru-paru. Simak saja pada rentang waktu antara 1:45 hingga 2:22 dalam lagu ini. Selanjutnya, “Answered by Destiny” melanjutkan kampanye album ini. Dengan durasi kurang dari 1 menit, lagu ini menjadi yang paling singkat dibanding lagu-lagu lain. Penyajiannya yang singkat juga diimbangi dengan tempo yang cepat dengan irama yang tegas. Makna lagu ini mengingatkan saya pada ucapan Fidel Castro yang saya kutip untuk keperluan studi beberapa waktu lalu. Men don’t shape destiny. Destiny produces the man for the hour.
Tak perlu menunggu lama, “Long Journey of Life” muncul pada baris ke-4. Corak musiknya masih sama dengan melodic hardcore pada umumnya. Namun, unsur yang tak biasa kita temui dalam langgam ini disisipkan menjelang akhir lagu. Lantas, apakah kita masih percaya bahwa punk, hardcore, dan segala macam turunannya itu tidak membutuhkan skill? Sebagai intermezzo, skill yang dimiliki oleh Lionel Messi pun mampu memotivasi dan mengubah Cristiano Ronaldo menjadi lebih baik hingga mampu menghegemoni dunia. Bicara soal motivasi, saya mengandaikan bahwa Harvest–melalui lirik dalam lagu ini–sedang menjelma jadi seorang motivator a la Mario Teguh. Lalu, “Golden Age” menyusul pada nomor selanjutnya. Lagu ini memiliki durasi paling lama dalam album. Vokal yang menghentak pula berafiliasi dengan tempo yang cukup cepat pada awal lagu membuat saya merasa seperti sedang dikejar-kejar oleh sesuatu ketika mendengarkannya. Terlebih, dengan durasi sekitar 4 menit, “Golden Age” menjadi lagu yang mampu ‘menyiksa’ telinga saya. Pantas saja jika Harvest mendapuk lagu ini menjadi ujung tombak dalam Happiness And The Effort. Satu lagi yang perlu dicatat, suara bass–yang terkesan kurang tenaga–akhirnya muncul untuk dapat kita dengar meski hanya dalam beberapa detik.
Siapa bilang hardcore dilarang bersedih? Nyatanya, Harvest melawan citra tersebut melalui “Broken Hope” dan “The Saddest Part”. Sekilas membaca liriknya, saya menemukan sebuah kesedihan di sana meskipun liriknya tidak sepuitis milik No Use For A Name yang memang selalu sukses menyembunyikan kesedihan di balik musiknya. Tunggu, apa hubungannya No Use For A Name dengan hardcore? Sudahlah, Efek Rumah Kaca juga bukan punk tapi liriknya memberontak. Tapi yang pasti, kedua lagu ini tetaplah berada pada pakem melodic hardcore yang mampu memprovokasi moshpit. Bahkan, power chord sweeping sudah muncul sebagai pembuka “The Saddest Part” secara gagah. Kemudian, “Hancurkan Rasa Ragu!” adalah epilog dari repertoar Happiness And The Effort. Menurut saya, lagu yang juga sempat dirilis beberapa tahun lalu ini kurang berhasil menjadi pamungkas. Mari bandingkan karakter vokal dalam lagu ini dengan lagu-lagu sebelumnya, apakah kita merasakan hal yang sama?
Happiness And The Effort secara musikalitas patut diapresiasi, dalam artian bahwa melodic hardcore a la Harvest berada pada taraf wajar–tidak jelek namun belum bisa disebut istimewa. Barangkali, output keseluruhan suara memang belum maksimal. Namun, saya selalu yakin bahwa menikmati gig mereka bisa jauh lebih menyenangkan. But, as an album of hardcore band, it should have more strength to punch the amplifier, shouldn’t it? (*)
Band photos : Hanafi Arozaq Hastoworo
Bila kita sama-sama memiliki ketertarikan musikal terhadap punk, hardcore, dan segala turunannya, apakah kita merasakan hal yang sama ketika diberi kesempatan untuk mendengarkannya? Bahkan, ketika kesempatan tersebut hanya membutuhkan sepasang telinga, barangkali kita akan melakukan gerakan kecil sebagai respon dalam sebuah hubungan sebab dan akibat, entah menganggukan kepala dan/atau menghentakkan kaki ke tanah. Lebih dari itu, kita bisa saja membayangkan moshpit yang begitu riuh karena pergumulan orang-orang yang dalam beberapa saat tertentu juga mengangkat kepalan tangannya ke angkasa. Bagi yang tidak sungkan menganggap dirinya sudah terlalu tua untuk menikmati langgam musik yang saya sebut di awal paragraf, bersiaplah untuk dihinggapi kenangan tentang masa muda yang diliputi kenakalan dan semangat untuk menjalani hidup tanpa batasan apa pun. Namun, hal ini bersifat nisbi karena tidak semua band pengusungnya memiliki kekuatan untuk memberi sugesti kepada pendengar.
Ada yang bilang bahwa sebuah band akan terlahir mutlak secara utuh jika mereka mampu merilis album sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap sesuatu yang sudah mereka mulai. Saya adalah salah satu yang mengamini pendapat itu. Jika parameter ini diberlakukan, maka Harvest–sindikat hardcore asal kota Semarang–telah melakukannya pada 2012 lalu melalui album mini As Long As You Breathe. Kemudian, pada 2016 ini, Harvest merilis album berjudul Happiness And The Effort ke pasar bebas. Sebuah album yang mengusung delapan repertoar tersebut berkutat pada gambaran kehidupan yang dialami Harvest secara grup maupun personal dalam sebuah scene. Selain itu, mereka juga mengungkapkan satir terhadap ketimpangan pembangunan kota secara fisik melalui artwork pada sampul album. Tanpa membaca dan memahami lirik dalam album, kita bisa saja menganggap Harvest dapat mewakili identitas musik yang mereka usung–yang biasanya merujuk pada kesan amarah dan/atau penghimpun semangat.
Happiness And The Effort dibuka dengan nomor berjudul “The Passion That We Have”. Lagu ini belum memberikan kejutan selain monolog pada awal lagu yang sepertinya tidak mudah dicerna oleh orang dengan kemampuan berbahasa Inggris yang biasa saja seperti saya. Pada album mini As Long As You Breathe, nomor ini juga bisa ditemukan. Lagu ini bercerita tentang seseorang yang dikutuk oleh idealismenya sendiri sehingga merasa terperangkap dalam velodrome. Meskipun dia merasa tidak nyaman dengan realita, tapi ada gairah yang menjadikannya tetap menghidupi kehidupannya itu. “This is what I believe” yang dinyanyikan dengan penuh amarah seolah menegaskan bahwa Tan Malaka bukanlah mitos belaka. Semoga kita juga mengimani bahwa idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.
“For All Year Long” menyusul pada baris berikutnya. Lagu ini masih menggunakan lirik berbahasa Inggris dengan grammatical tense yang meleset di beberapa kalimat. Barangkali, hal ini membuktikan bahwa penggunaan Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia dalam penulisan lirik memiliki kesulitan masing-masing. Ketika lagu ini mulai berputar, entah kenapa saya langsung berandai jika nantinya “For All Year Long” juga digarap dalam bentuk footage video yang diambil dari rekam jejak mereka dalam gig maupun scene yang menampilkan setiap sosok yang berarti bagi mereka hingga sekarang. Salah satu hal yang saya suka dari melodic hardcore adalah ketika power chord sweeping memberikan euforia yang seolah-olah membuat perasaan saya membuncah seperti ada ribuan kupu-kupu yang keluar dari dalam paru-paru. Simak saja pada rentang waktu antara 1:45 hingga 2:22 dalam lagu ini. Selanjutnya, “Answered by Destiny” melanjutkan kampanye album ini. Dengan durasi kurang dari 1 menit, lagu ini menjadi yang paling singkat dibanding lagu-lagu lain. Penyajiannya yang singkat juga diimbangi dengan tempo yang cepat dengan irama yang tegas. Makna lagu ini mengingatkan saya pada ucapan Fidel Castro yang saya kutip untuk keperluan studi beberapa waktu lalu. Men don’t shape destiny. Destiny produces the man for the hour.
Tak perlu menunggu lama, “Long Journey of Life” muncul pada baris ke-4. Corak musiknya masih sama dengan melodic hardcore pada umumnya. Namun, unsur yang tak biasa kita temui dalam langgam ini disisipkan menjelang akhir lagu. Lantas, apakah kita masih percaya bahwa punk, hardcore, dan segala macam turunannya itu tidak membutuhkan skill? Sebagai intermezzo, skill yang dimiliki oleh Lionel Messi pun mampu memotivasi dan mengubah Cristiano Ronaldo menjadi lebih baik hingga mampu menghegemoni dunia. Bicara soal motivasi, saya mengandaikan bahwa Harvest–melalui lirik dalam lagu ini–sedang menjelma jadi seorang motivator a la Mario Teguh. Lalu, “Golden Age” menyusul pada nomor selanjutnya. Lagu ini memiliki durasi paling lama dalam album. Vokal yang menghentak pula berafiliasi dengan tempo yang cukup cepat pada awal lagu membuat saya merasa seperti sedang dikejar-kejar oleh sesuatu ketika mendengarkannya. Terlebih, dengan durasi sekitar 4 menit, “Golden Age” menjadi lagu yang mampu ‘menyiksa’ telinga saya. Pantas saja jika Harvest mendapuk lagu ini menjadi ujung tombak dalam Happiness And The Effort. Satu lagi yang perlu dicatat, suara bass–yang terkesan kurang tenaga–akhirnya muncul untuk dapat kita dengar meski hanya dalam beberapa detik.
Siapa bilang hardcore dilarang bersedih? Nyatanya, Harvest melawan citra tersebut melalui “Broken Hope” dan “The Saddest Part”. Sekilas membaca liriknya, saya menemukan sebuah kesedihan di sana meskipun liriknya tidak sepuitis milik No Use For A Name yang memang selalu sukses menyembunyikan kesedihan di balik musiknya. Tunggu, apa hubungannya No Use For A Name dengan hardcore? Sudahlah, Efek Rumah Kaca juga bukan punk tapi liriknya memberontak. Tapi yang pasti, kedua lagu ini tetaplah berada pada pakem melodic hardcore yang mampu memprovokasi moshpit. Bahkan, power chord sweeping sudah muncul sebagai pembuka “The Saddest Part” secara gagah. Kemudian, “Hancurkan Rasa Ragu!” adalah epilog dari repertoar Happiness And The Effort. Menurut saya, lagu yang juga sempat dirilis beberapa tahun lalu ini kurang berhasil menjadi pamungkas. Mari bandingkan karakter vokal dalam lagu ini dengan lagu-lagu sebelumnya, apakah kita merasakan hal yang sama?
Happiness And The Effort secara musikalitas patut diapresiasi, dalam artian bahwa melodic hardcore a la Harvest berada pada taraf wajar–tidak jelek namun belum bisa disebut istimewa. Barangkali, output keseluruhan suara memang belum maksimal. Namun, saya selalu yakin bahwa menikmati gig mereka bisa jauh lebih menyenangkan. But, as an album of hardcore band, it should have more strength to punch the amplifier, shouldn’t it? (*)
Jumat, 24 Juni 2016
SOLO GRIND FEST: AJANG PERTEMUAN PENGGILA MUSIK CEPAT
Tulisan dan foto oleh : Afriyandi Wibisono
Kota Solo sebagai salah satu destinasi wisata dan budaya di Jawa Tengah, kini juga menjadi kota yang aktif dalam perhelatan budaya. Salah satu diantaranya adalah festival musik berskala nasional, Rock In Solo. Tak berhenti sampai sana, pergerakan ranah musik dan kultur kolektif disana makin menyeruak dan variatif. Solo, ketika kita barang sejenak berani mengakui, merupakan kota yang memang lebih aktif dibanding kota tempat tinggal kita saat ini, Semarang. Salah satu contoh yang bisa kita amati adalah berbagai kegiatan di ranah musik independen di kota tersebut. Mulai dari pelaku hingga penikmat, mereka bersama-sama membangun lingkungan yang kondusif, produktif serta saling mendukung.
Beberapa waktu lalu, Solo membaptiskan diri menjadi salah satu kota penghelat ajang musik cepat setelah Jakarta dan Bandung. Solo Grind Fest untuk pertama kalinya digelar di Kota Bengawan pada Minggu (29/5) lalu. Melalui kolektif Winsome Incorporated, ajang silaturahmi para dedengkot Grindcore dari berbagai kota ini sukses digelar. Acara ini bisa dibilang sebagai yang paling heboh dengan line up yang heboh pula. Bagaimana tidak? ‘Grindcore Allstar’ yang berasal dari sepanjang Pulau Jawa dan Bali ditampilkan pada malam tersebut. Sejumlah nama seperti Deadly weapon, Trigger Attack, Terapi Urine, Terror Of Dynamite Attack, dan juga Disfare menjadi sorotan utama pagelaran tersebut.
Tak ketinggalan rombongan 'Timur" yakni Tsabat, Moria, Balas Dendam, Humanure, serta unit grindcore Speedy Gonzales turut tampil juga pada malam hari itu. Serta jangan lupakan wajah-wajah grindcore Ibukota yakni Wicked Flesh dan Jigsaw yang pada malam sebelumnya turut menggelar tour gigs-nya di Semarang. Solo pun turut mengirim perwakilan dalam acara tersebut, mereka adalah Warthole, Wahn, The Sign Of Doom, Dash, Twelve Pass, serta Grind Juana asal Sukoharjo. Walau salah satu panampil yakni Corrupshit asal Kudus batal main, panggung Solo Grind Fest rasanya sudah cukup sesak oleh line up fantastis untuk sebuah acara perdana.
Berlangsung di dalam kompleks Institut Seni Indonesia, Surakarta, acara yang seharusnya berlangsung sejak pukul 4 sore, terpaksa mundur beberapa jam dikarenakan kondisi cuaca di Solo saat itu diguyur hujan deras (acara ini digelar di ruangan terbuka / outdoor venue). Sangat disayangkan karena terjebak hujan, saya harus melewatkan beberapa penampil yang baru dimulai sekitar pukul 6 sore. Namun bisa saya pastikan mereka bermain cepat.
Dan penampilan yang pertama kali saya lihat setibanya di panggung Solo Grind Fest adalah Moria, kuartet grindcore asal Malang yang membabat habis distorsi yang cukup tajam pada malam itu. Sound yang cukup ampuh dan gahar menjadi primadona helatan Solo Grind Fest saat itu. Terbayang bagaimana dengan Sound sekuat itu dibakar melalui distorsi-distorsi tempo cepat dari band-band Grindcore andalan Nusantara. Selesai dengan Moria yang turut berkolaborasi dengan Candra Riot (Speedy Gonzales), giliran grup musik Tsabat dari kediri yang beraksi. Luar biasa cepat, tak kalah cepat dan buas dari Humanure. Band asal Surabaya yang turut menghujam telinga penonton Solo Grind Fest pada malam itu.
Berikutnya ada Balas Dendam, trio Grindcore yang digawangi oleh Lutfi, Anto, dan Jamesh. Ketiga personilnya berasal dari kota Malang yang wajahnya cukup terkenal di kalangan komunitas underground khususnya Hardcore/Punk. Balas Dendam, sukses membuat beberapa orang termasuk saya untuk menyimak riff-riff buas yang berhasil membius untuk saling menubrukan badan di arena moshpit. Penampilan Balas Dendam sendiri menurut saya adalah penampilan yang paling memukau diantara band yang telah tampil sebelumnya, lantaran disaat mulai menjamurnya aliran-aliran grindcore yang variatif dan segar, Balas Dendam menampilkan performa maksimal dengan musik purba yang mengingatkan saya pada era awal Rotten Sound. Fantastis !
Ah sial, saya lupa dengan urutan line up dan band-band yang tampil, namun saya ingat ada unit Disfare yang tampil setelahnya. Trio Grind/Power Violence yang baru saja merilis debut album ini tanpa basa-basi langsung menghajar Solo Grind Fest secara maksimal. Semua penonton ikut terbakar, moshing tak terelakan dan Disfare makin membabi buta. Mereka adalah penampil terbaik kedua setelah Balas Dendam. Setelah habis terbakar, kini giliran Wicked Flesh dan Jigsaw tampil. Dua band asal Ibukota ini tampil begitu cepat dan beringas. Wicked Flesh, trio noise grind asal Ibukota ini juga baru saja merilis album bertajuk Synonimous melalui label rekaman asal Solo, Unleash Records. Ketiganya turut menghantar kebisingan dengan penampilan yang apik. Berikutnya adalah grindcore kawakan, Jigsaw. Seperti namanya, band ini menggerinda panggung Solo Grind Fest pada malam itu secara brutal.
Penampilan yang ditunggu berikutnya adalah unit gerinda asal Kediri, Speedy Gonzales. Salah satu unit yang disegani dalam helatan Solo Grind Fest. Siapa yang tak kenal mereka? Ya, mungkin tidak terlalu terkenal. Namun nama Resting Hell ada di balik band tersebut. Label rekaman milik sang drummer, Ghofur, ini merupakan label dari ratusan band grindcore baik Indonesia maupun Internasional. Hampir semua penampil di Solo Grind Fest adalah band yang menjalin kerja sama dengan Resting Hell sebagai pihak yang merilis karya rilisan mereka. Tatkala, suasana hangat dan pertemanan yang erat pada malam hari itu sungguh terasa bahkan jauh sebelumnya. Di luar itu, Speedy Gonzales menjadi penampil terbaik ketiga dengan musik dan blast-beat yang cepat. Membawakan materi dari album Konspirasi Tikus Neraka. Tak cukup di situ, mereka juga membawakan cover version lagu lawas milik band punk, Ramones, berjudul Blitzkrieg Bop versi cepat!
Malam semakin larut, masih ada lima line up yang menanti. Diantaranya adalah unit penggerinda dari Pulau Dewata, Trigger Attack. Tak lama, line up berikutnya tampil. Mereka adalah Terapi Urine. Komplotan grindcore ‘slengean’ dari Bandung ini turut menggerinda dengan performa yang sangat menghibur para audiens Solo Grind Fest. Kuintet beringas yang baru merilis album split bersama Piston dan Jangar pada helatan Record Store Day lalu ini tampil mengenakan workshirt macam Slipknot namun berwarna pink. Apa yang ada dipikiran band ini ? Ya begitulah mereka, mengusung konsep parodi dalam penampilan dan lagu tanpa menghilangkan hakikat grindcore pada umumnya. Terapi Urine sukses menjadi sorotan ratusan orang yang hadir malam itu
Wahn dan Warthole kemudian tampil, namun atmosfir sudah surut sejak Disfare turun dari panggung. Banyak dari penonton yang tampak lelah bahkan bosan, mereka lebih memilih untuk duduk-duduk, bersantai sambil bercengkrama dengan kawanannya. Pula dikarenakan banyak penonton yang berasal dari luar kota dan terlalu lelah untuk kembali ke moshpit. Memang, acara ini adalah kali pertamanya digelar dan terdapat banyak kekurangan baik dari pihak penyelenggara maupun para penampil terutama dalam hal disiplin waktu. Konten acara yang ‘cuma’ menampilkan musik pun terkesan hanya sebagai festival hura-hura semata selain ajang pertemuan para penggiat grindcore Tanah Air.
Terror Of Dynamite Attack kemudian naik ke panggung. Duo grinder, Mix dan Doni, adalah penampil terbaik berikutnya yang benar-benar memainkan grindcore tanpa rem. Setelahnya, Solo Grind Fest kedatangan penampil terjauh mereka. Mereka adalah Trigger Attack, unit grindcore asal Bali yang khusus didatangkan untuk menjamu para penonton yang sudah mulai lelah menunggu. Trio yang beberapa waktu lalu singgah di Semarang untuk promo album An Human Exist Collapse, juga tergabung dalam proyek album kompilasi terbarunya sebagai tribut legenda grindcore Indonesia, Extreme Decay. Trigger Attack menyumbangkan lagu berjudul Amoral bersama ke-33 band grindcore lainnya seperti Speedy Gonzales, Bersimbah Darah, Rajasinga, dan lainnya. Penampilan Trigger Attack pun cukup mengembalikan atmosfir yang redup beberapa saat lalu.
Tibalah akhirnya di penghujung acara, setelah hampir setengah hari berada di pagelaran Solo Grind Fest kini para penonton disuguhi penampilan utama yang tak kalah menggebu. Deadly Weapon, grinder asal Yogyakarta ini didaulat sebagai penutup rangkaian festival Solo Grind Fest yang pertama. Band yang telah memiliki debut album penuh bertajuk Disillusional Blurs rilisan Rottrevore Records ini tampil beringas dengan dentuman blast-beat yang membabi buta. Alunan distorsi yang makin kuat membangkitkan kembali atmosfir kegaduhan Solo Grind Fest. Pecah! Dan sejauh yang terlihat, Solo Grind Fest berhasil menciptakan ruang bagi para penikmat musik. Khususnya di ranah musik Grindcore dengan mengumpulkan para penggiat aktifnya untuk berpesta, mengila, berbagi kesenangan bersama para penikmat nada-nada bising tersebut meski banyak sekali hal yang luput dari pihak penyelenggara. Semoga dapat bertemu kembali dengan konsep dan metode organisir acara yang lebih matang. Salam! ~ Afriyandi Wibisono
Kota Solo sebagai salah satu destinasi wisata dan budaya di Jawa Tengah, kini juga menjadi kota yang aktif dalam perhelatan budaya. Salah satu diantaranya adalah festival musik berskala nasional, Rock In Solo. Tak berhenti sampai sana, pergerakan ranah musik dan kultur kolektif disana makin menyeruak dan variatif. Solo, ketika kita barang sejenak berani mengakui, merupakan kota yang memang lebih aktif dibanding kota tempat tinggal kita saat ini, Semarang. Salah satu contoh yang bisa kita amati adalah berbagai kegiatan di ranah musik independen di kota tersebut. Mulai dari pelaku hingga penikmat, mereka bersama-sama membangun lingkungan yang kondusif, produktif serta saling mendukung.
Beberapa waktu lalu, Solo membaptiskan diri menjadi salah satu kota penghelat ajang musik cepat setelah Jakarta dan Bandung. Solo Grind Fest untuk pertama kalinya digelar di Kota Bengawan pada Minggu (29/5) lalu. Melalui kolektif Winsome Incorporated, ajang silaturahmi para dedengkot Grindcore dari berbagai kota ini sukses digelar. Acara ini bisa dibilang sebagai yang paling heboh dengan line up yang heboh pula. Bagaimana tidak? ‘Grindcore Allstar’ yang berasal dari sepanjang Pulau Jawa dan Bali ditampilkan pada malam tersebut. Sejumlah nama seperti Deadly weapon, Trigger Attack, Terapi Urine, Terror Of Dynamite Attack, dan juga Disfare menjadi sorotan utama pagelaran tersebut.
Tak ketinggalan rombongan 'Timur" yakni Tsabat, Moria, Balas Dendam, Humanure, serta unit grindcore Speedy Gonzales turut tampil juga pada malam hari itu. Serta jangan lupakan wajah-wajah grindcore Ibukota yakni Wicked Flesh dan Jigsaw yang pada malam sebelumnya turut menggelar tour gigs-nya di Semarang. Solo pun turut mengirim perwakilan dalam acara tersebut, mereka adalah Warthole, Wahn, The Sign Of Doom, Dash, Twelve Pass, serta Grind Juana asal Sukoharjo. Walau salah satu panampil yakni Corrupshit asal Kudus batal main, panggung Solo Grind Fest rasanya sudah cukup sesak oleh line up fantastis untuk sebuah acara perdana.
Berlangsung di dalam kompleks Institut Seni Indonesia, Surakarta, acara yang seharusnya berlangsung sejak pukul 4 sore, terpaksa mundur beberapa jam dikarenakan kondisi cuaca di Solo saat itu diguyur hujan deras (acara ini digelar di ruangan terbuka / outdoor venue). Sangat disayangkan karena terjebak hujan, saya harus melewatkan beberapa penampil yang baru dimulai sekitar pukul 6 sore. Namun bisa saya pastikan mereka bermain cepat.
Dan penampilan yang pertama kali saya lihat setibanya di panggung Solo Grind Fest adalah Moria, kuartet grindcore asal Malang yang membabat habis distorsi yang cukup tajam pada malam itu. Sound yang cukup ampuh dan gahar menjadi primadona helatan Solo Grind Fest saat itu. Terbayang bagaimana dengan Sound sekuat itu dibakar melalui distorsi-distorsi tempo cepat dari band-band Grindcore andalan Nusantara. Selesai dengan Moria yang turut berkolaborasi dengan Candra Riot (Speedy Gonzales), giliran grup musik Tsabat dari kediri yang beraksi. Luar biasa cepat, tak kalah cepat dan buas dari Humanure. Band asal Surabaya yang turut menghujam telinga penonton Solo Grind Fest pada malam itu.
Berikutnya ada Balas Dendam, trio Grindcore yang digawangi oleh Lutfi, Anto, dan Jamesh. Ketiga personilnya berasal dari kota Malang yang wajahnya cukup terkenal di kalangan komunitas underground khususnya Hardcore/Punk. Balas Dendam, sukses membuat beberapa orang termasuk saya untuk menyimak riff-riff buas yang berhasil membius untuk saling menubrukan badan di arena moshpit. Penampilan Balas Dendam sendiri menurut saya adalah penampilan yang paling memukau diantara band yang telah tampil sebelumnya, lantaran disaat mulai menjamurnya aliran-aliran grindcore yang variatif dan segar, Balas Dendam menampilkan performa maksimal dengan musik purba yang mengingatkan saya pada era awal Rotten Sound. Fantastis !
Ah sial, saya lupa dengan urutan line up dan band-band yang tampil, namun saya ingat ada unit Disfare yang tampil setelahnya. Trio Grind/Power Violence yang baru saja merilis debut album ini tanpa basa-basi langsung menghajar Solo Grind Fest secara maksimal. Semua penonton ikut terbakar, moshing tak terelakan dan Disfare makin membabi buta. Mereka adalah penampil terbaik kedua setelah Balas Dendam. Setelah habis terbakar, kini giliran Wicked Flesh dan Jigsaw tampil. Dua band asal Ibukota ini tampil begitu cepat dan beringas. Wicked Flesh, trio noise grind asal Ibukota ini juga baru saja merilis album bertajuk Synonimous melalui label rekaman asal Solo, Unleash Records. Ketiganya turut menghantar kebisingan dengan penampilan yang apik. Berikutnya adalah grindcore kawakan, Jigsaw. Seperti namanya, band ini menggerinda panggung Solo Grind Fest pada malam itu secara brutal.
Penampilan yang ditunggu berikutnya adalah unit gerinda asal Kediri, Speedy Gonzales. Salah satu unit yang disegani dalam helatan Solo Grind Fest. Siapa yang tak kenal mereka? Ya, mungkin tidak terlalu terkenal. Namun nama Resting Hell ada di balik band tersebut. Label rekaman milik sang drummer, Ghofur, ini merupakan label dari ratusan band grindcore baik Indonesia maupun Internasional. Hampir semua penampil di Solo Grind Fest adalah band yang menjalin kerja sama dengan Resting Hell sebagai pihak yang merilis karya rilisan mereka. Tatkala, suasana hangat dan pertemanan yang erat pada malam hari itu sungguh terasa bahkan jauh sebelumnya. Di luar itu, Speedy Gonzales menjadi penampil terbaik ketiga dengan musik dan blast-beat yang cepat. Membawakan materi dari album Konspirasi Tikus Neraka. Tak cukup di situ, mereka juga membawakan cover version lagu lawas milik band punk, Ramones, berjudul Blitzkrieg Bop versi cepat!
Malam semakin larut, masih ada lima line up yang menanti. Diantaranya adalah unit penggerinda dari Pulau Dewata, Trigger Attack. Tak lama, line up berikutnya tampil. Mereka adalah Terapi Urine. Komplotan grindcore ‘slengean’ dari Bandung ini turut menggerinda dengan performa yang sangat menghibur para audiens Solo Grind Fest. Kuintet beringas yang baru merilis album split bersama Piston dan Jangar pada helatan Record Store Day lalu ini tampil mengenakan workshirt macam Slipknot namun berwarna pink. Apa yang ada dipikiran band ini ? Ya begitulah mereka, mengusung konsep parodi dalam penampilan dan lagu tanpa menghilangkan hakikat grindcore pada umumnya. Terapi Urine sukses menjadi sorotan ratusan orang yang hadir malam itu
Wahn dan Warthole kemudian tampil, namun atmosfir sudah surut sejak Disfare turun dari panggung. Banyak dari penonton yang tampak lelah bahkan bosan, mereka lebih memilih untuk duduk-duduk, bersantai sambil bercengkrama dengan kawanannya. Pula dikarenakan banyak penonton yang berasal dari luar kota dan terlalu lelah untuk kembali ke moshpit. Memang, acara ini adalah kali pertamanya digelar dan terdapat banyak kekurangan baik dari pihak penyelenggara maupun para penampil terutama dalam hal disiplin waktu. Konten acara yang ‘cuma’ menampilkan musik pun terkesan hanya sebagai festival hura-hura semata selain ajang pertemuan para penggiat grindcore Tanah Air.
Terror Of Dynamite Attack kemudian naik ke panggung. Duo grinder, Mix dan Doni, adalah penampil terbaik berikutnya yang benar-benar memainkan grindcore tanpa rem. Setelahnya, Solo Grind Fest kedatangan penampil terjauh mereka. Mereka adalah Trigger Attack, unit grindcore asal Bali yang khusus didatangkan untuk menjamu para penonton yang sudah mulai lelah menunggu. Trio yang beberapa waktu lalu singgah di Semarang untuk promo album An Human Exist Collapse, juga tergabung dalam proyek album kompilasi terbarunya sebagai tribut legenda grindcore Indonesia, Extreme Decay. Trigger Attack menyumbangkan lagu berjudul Amoral bersama ke-33 band grindcore lainnya seperti Speedy Gonzales, Bersimbah Darah, Rajasinga, dan lainnya. Penampilan Trigger Attack pun cukup mengembalikan atmosfir yang redup beberapa saat lalu.
Tibalah akhirnya di penghujung acara, setelah hampir setengah hari berada di pagelaran Solo Grind Fest kini para penonton disuguhi penampilan utama yang tak kalah menggebu. Deadly Weapon, grinder asal Yogyakarta ini didaulat sebagai penutup rangkaian festival Solo Grind Fest yang pertama. Band yang telah memiliki debut album penuh bertajuk Disillusional Blurs rilisan Rottrevore Records ini tampil beringas dengan dentuman blast-beat yang membabi buta. Alunan distorsi yang makin kuat membangkitkan kembali atmosfir kegaduhan Solo Grind Fest. Pecah! Dan sejauh yang terlihat, Solo Grind Fest berhasil menciptakan ruang bagi para penikmat musik. Khususnya di ranah musik Grindcore dengan mengumpulkan para penggiat aktifnya untuk berpesta, mengila, berbagi kesenangan bersama para penikmat nada-nada bising tersebut meski banyak sekali hal yang luput dari pihak penyelenggara. Semoga dapat bertemu kembali dengan konsep dan metode organisir acara yang lebih matang. Salam! ~ Afriyandi Wibisono
Sabtu, 14 Mei 2016
Berbagi Kegelisahan Bersama Galang Aji Putra
Zine di Semarang memang timbul tenggelam. Tapi seiring berjalannya masa, saya melihat selalu ada zine-zine baru yang muncul. Hal tersebut menunjukkan, dalam hal zine, regenerasi tetap berjalan. Beberapa waktu yang lalu, sempat mengapresiasi sebuah zine yang walaupun dalam format PDF, sangat membekas di kepala. Racau zine, sebuah zine dengan layout yang sangat ramah baca sekaligus kontennya sangat informatif dan cukup kritis. Dan kebetulan, editornya adalah vokalis dari sebuah band yang lumayan merebut atensi saya : Provokata. Sebuah unit grindcore unik yang sangat terobsesi dengan gerakan literasi beserta liriknya yang puitis tapi padat makna. Segera terpikir untuk melakukan interview personal dengannya dan beruntung segera di sambut dengan baik oleh yang bersangkutan. Ok, berikut wawancaranya, silahkan disimak.
1. Skena hardcore punk Semarang semakin semarak, musim hujan telah datang dan jamur mulai tumbuh subur di mana-mana. Bagaimana kabarmu mas Galang?
Semoga kabar tetap baik seperti halnya tiap doa orang-orang terhadap saya meskipun akhir-akhir ini sering merasa gelisah dan susah tidur.
2. Zine di Semarang memang timbul tenggelam. Banyak yang telah terbit dan kemudian hilang begitu saja, tapi banyak juga yang tetap bersemangat untuk tetap membuatnya. Bagaimana mas Galang sendiri memaknai sebuah zine?
Zine merupakan merupakan media alternatif yang kontennya dapat berupa apapun (tulisan, gambar, foto, dan yang lainnya). Tidak ada pakem tertentu dalam memproduksi sebuah zine. Bentuknya dapat berupa e-zine/web zine maupun yang dalam bentuk fisik.
Bagi saya pribadi, zine merupakan salah satu bentuk ekspresi kemarahan terhadap media arus utama hari ini yang kontennya seperti dibuat-buat dan diatur sedemikian rupa oleh orang-orang yang memiliki kepentingan politik tertentu untuk mempengaruhi kehendak masyarakat. Kita bisa mengekspresikan hal-hal yang tidak 'dilihat' oleh masyarakat dan/atau bahkan masih dianggap tabu.
Bicara mengenai zine, kita juga akan berbicara mengenai kebebasan. Tidak ada zine yang bagus atau jelek. Selain itu, zine juga merupakan media informasi yang dapat mendekatkan kita kepada orang-orang baru yang sebelumnya jauh dalam jangkauan kita. Melalui zine, entah sebagai penulis maupun pembaca, saya (pernah) merasa berada dalam arus informasi yang tidak diketahui oleh banyak orang, hal-hal mengenai perkembangan musik di kota lain misalnya. Zine pula yang mengajarkan saya untuk berbagi informasi yang saya dapat kepada banyak orang.
3. Sebuah karya yang sudah dibuat, seharusnya diapresiasi sebanyak mungkin apresiator. Bagaimana pendapat mas Galang sendiri tentang apa yang seharusnya dilakukan supaya para anak muda di kota ini lebih masif dalam memproduksi dan juga mengonsumsi zine? Apa yang menjadi kendala di kota ini?
Jika kita bicara mengenai selera, barangkali hal tersebut merupakan sesuatu yang klise. Anggap saja selera merupakan suatu keyakinan yang begitu privat dan hakiki. Kita tidak bisa serta merta memaksakan selera kita kepada orang lain. Kita tidak bisa pula memaksa orang lain untuk memproduksi sebuah zine. Barangkali, pergerakan zine di Semarang yang timbul tenggelam dan tidak masif disebabkan oleh watak dasar anak muda di Semarang yang malas, meskipun tidak semuanya begitu. Kami lebih senang mengekor Jakarta, Bandung, atapun Jogja sebagai 'pusat peradaban', dan sialnya adalah bahwa kami mangimani dan mengonsumsi hal tersebut secara bangga. Barangkali ada orang yang memiliki gairah namun tidak mendapat dukungan sehingga timbul rasa tidak percaya diri dan gairah tersebut lambat laun dia simpan begitu saja.
Pada 2013 lalu, saya dan beberapa teman sempat memproduksi zine yang berkonsentrasi pada bidang musik cutting edge (atau apapun penyebutannya) di Semarang. Gairah itu meletup-letup, namun hanya berlangsung hanya sekitar satu tahun. Apresiasi datang tidak hanya dari teman-teman di Semarang, namun juga dari luar kota. Dulu, hal yang saya lakukan agar distribusi zine tidak terbatas pada orang-orang yang itu-itu saja adalah dengan 'memanfaatkan' jaringan yang saya kenal. Misalnya, saya melakukan interview terhadap orang dan/atau band yang cukup berpengaruh di Semarang. Dengan begitu, mereka juga akan menyebarkan informasi hasil interview tersebut kepada orang lain.
4. Saya sempat membaca dua edisi awal dari Racau zine yang menurut saya lumayan berbobot dan sangat informatif. Ternyata, mas Galang adalah editornya. Ok, bisa bercerita sedikit tentang proses kreatif yang dilalui ketika membuatnya? Mengapa Racau tidak dilanjutkan lagi sekarang?
Dua edisi awal dan yang terakhir. Haha. Sebenarnya, ide untuk membuat Racau timbul dari keinginan seorang teman untuk menciptakan media alternatif yang dikhususkan bagi band-band Semarang. Pada waktu itu dan bahkan hingga sekarang, saya merasa gelisah jika berhadapan dengan dinamika musik cutting edge di Semarang. Band-band Semarang itu potensial untuk bisa menjadi raja maupun 'keluar' dari kotanya sendiri, namun karena tidak ada media khusus bagi mereka maka band-band Semarang seolah-olah terkurung. Sebut saja Octopuz, Moiss, Aimee!, ataupun Something About Lola sebagai rujukan.
Proses produksi Racau diawali dari diskusi dengan teman-teman mengenai hal-hal apa saja yang akan dibahas tiap edisinya, lalu bergerak sendiri-sendiri sesuai dengan porsi yang telah ditetapkan, kemudian tiap artikel dari hasil interview disunting sesuai dengan ejaan yang disempurnakan hingga naik cetak dengan biaya kolektif. Saya menekankan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik agar orang-orang Racau sendiri maupun pembaca juga lebih khidmat mengonsumsinya meskipun mungkin terkesan kaku. Alih-alih menggunakan Bahasa Indonesia sesuai EYD, timbul sindiran bahwa beberapa tulisan di dalam Racau tidak tepat sasaran karena ada beberapa kosakata yang masih asing. Saya suka hal tersebut, ada dinamika baru yang muncul sehingga dapat menciptakan interaksi berupa diskusi antara Racau dengan pembaca yang bersangkutan.
Setelah dua edisi, kami baru merasa kesulitan untuk membagi prioritas antara aktivitas Racau dengan aktivitas pribadi. Kami hiatus untuk sementara waktu, namun gairah tersebut lama-lama pudar hingga sekarang meskipun saya pribadi masih memiliki keinginan untuk tetap menulis. Scribo ergo sum.
5. Ada beberapa teman berpendapat bahwa media alternatif sendiri seharusnya memberikan opsi media yang baru untuk menandingi berbagai media arus utama yang di beberapa sisi sudah akut membuat bosan. Makin kesini sebenarnya mulai muncul gairah beberapa anak muda Semarang yang mulai menggarap media alternatif dengan berbagai macam kemasan yang menurut mereka ideal. Dari beberapa yang sempat terbaca, adakah kritik tersendiri dari mas Galang mengenai media-media alternatif baru ini?
Ada beberapa media baru di Semarang yang konsentrasiya berada pada wilayah musik dan subkultur pemuda. Tentunya, hal tersebut memang patut diapresiasi. Karena zine merupakan suatu kebebasan, saya tidak akan mengkritik tentang konten dalam zine yang bersangkutan karena hal tersebut merupakan hak otonom dari pembuatnya. Tapi kiranya teman-teman yang bersangkutan perlu untuk menambah referensi sebagai bahan rujukan.
6. Ok, meloncat ke lain topik. Provokata, sebuah band yang cukup unik dan menurut saya lumayan kritis. Bisa sedikit bercerita tentang band ini mengingat mas Galang adalah yang bertanggung jawab dalam departemen vokalnya?
Pada 2014, saya merasa heran ketika Gagas Agung Sedayu (gitaris Provokata) menawari saya untuk mengisi pos yang ditinggalkan oleh vokalis sebelumnya. Entah apa yang dijadikan dasar untuk merekrut saya. Tapi jujur, saya menyukai pola lirik yang dimiliki Provokata. Barangkali ada semacam takdir yang menghubungkan kami. Sebelum di Provokata, saya merupakan gitaris sekaligus penulis lirik dalam sindikat female fronted hardcore bernama Dislike Of Disguise. Alih-alih rekaman untuk album mini, vokalis Dislike Of Disguise memilih untuk keluar dari band.
Di Provokata, teman-teman langsung memberi porsi kepada saya untuk menulis lirik lagu baru setelah perilisan album Catatan Dari Sudut Kota (2014). Hal yang membuat saya suka dengan band ini adalah adanya diskusi internal untuk menanggapi lirik yang saya tulis -hal yang tidak saya temukan dalam band sebelumnya. Satu poin yang saya tangkap, bahwa lirik merupakan hal yang harus dipertanggungjawabkan oleh band itu sendiri. Jadi, kami perlu berhati-hati dengan apa yang seharusnya kami suarakan. Dalam waktu dekat, dua lagu baru Provokata akan dirilis dalam album kompilasi yang beramunisikan band-band punk/HC lain dari Semarang, pula tiga lagu tambahan untuk proyek kompilasi yang masih dirahasiakan. Oh iya, jika sudah dirilis nanti, silakan simak lagu yang berjudul "Vox Acta Diurna, Vox Dei".
7. Dalam album Provokata, Catatan Dari Sudut Kota, ada satu lagu yang cukup menarik, "Untuk Mereka Yang Bakar Buku". Dan kami lihat para personil Provokata sendiri bisa dikatakan sangat masif dalam mengapresiasi karya dalam bentuk buku. Bisa bercerita sedikit tentang lagu ini?
Saya tidak menulis lagu tersebut. Tapi, menurut saya, "Untuk Mereka Yang Bakar Buku" merupakan satir yang didedikasikan kepada orang-orang yang melakukan pemberedelan buku. Mereka takut dengan adanya perbedaan sehingga berusaha untuk melenyapkan tiap goresan yang mereka rasa mengancam eksistensi mereka. "Where they have burned books, they'll end in burning human beings", kata Heinrich Heine. Tulisan dapat berubah menjadi senjata yang siap mengancam siapapun.
8. Segera teringat kejadian acara bedah buku tentang Tan Malaka yang sempat dipersulit oleh beberapa pihak di Semarang. Bagaimana pendapat mas Galang tentang kejadian tersebut?
Konyol. Ormas dan pihak kepolisian benar-benar cermat membaca undang-undang yang berkaitan dengan kejahatan terhadap keamanan negara, namun di sisi lain juga mengesampingkan Pasal 28 UUD 1945. Barangkali benar jika sejarah diciptakan oleh golongan yang menang di atas penderitaan golongan lain.
Saya sempat ke Polrestabes Semarang untuk membantu penyelenggara dalam menyampaikan surat perijinan acara bedah buku tersebut. Di sana, saya ditanya-tanya mengenai siapa itu Tan Malaka. Saya hanya meyakini bahwa pertanyaan tendensius aparat tersebut merupakan suatu jebakan yang mengarah pada jawaban berbau komunisme. Tapi untungnya, acara bedah buku di Semarang dapat dilaksanakan meskipun sempat mendapat penolakan dari pihak-pihak yang menganggap dirinya superior, namun terkesan inferior karena aksi penolakan tersebut.
9. Komunisme, sosialisme, dan anarkisme. Banyak anak muda yang ingin terlihat berbeda, kemudian memperdalam pemahaman tentang ideologi-ideologi yang dicap 'kiri'. Sebenarnyapun hak setiap orang untuk belajar tentang apa. Apa yang menjadi pegangan mas Galang dalam menjalani hidup? Apakah mas Galang sendiri meyakini sebuah ideologi tertentu?
Saya lahir dan tumbuh dalam lingkungan keluarga penganut Marhaenisme. Saya ingat betul bagaimana almarhum kakek mengajarkan banyak hal mengenai kesederhanaan. Ketika kelas 3 atau 4 SD, saya mulai membaca dua biografi Soekarno, yaitu "Penjambung Lidah Rakjat" dan "Sang Putra Fajar". Lalu ada juga sebuah buku mengenai tragedi Kudatuli, saya lupa judulnya. Dari situ, saya mulai menjamah Che Guevara, tesis-tesis Karl Marx, dan Soe Hok Gie ketika menginjak remaja. Pada saat yang hampir bersamaan, saya juga mempelajari punk dari musik yang saya dengarkan. Seorang kerabat pernah 'takut' menghadapi keadaan tersebut.
Tapi memang benar, hidup dalam teori-teori merupakan hal yang konyol pada saat itu. Sejak memiliki pemikiran seperti itu, saya hanya mengambil sisi positif dari teori-teori yang saya baca, tidak ingin mengimplementasikannya secara berlebihan. Untuk punk, saya menganggapnya sebagai guru, bukan punk yang harus digeneralisasikan pada suatu definisi tertentu. Punk mengajarkan banyak hal. Sekarang, saya malah menganggap diri saya sebagai seorang utopis. Semangat yang menyelamatkan kita nanti, semangat percaya pada mimpi. Apapun itu.
10. Kebanyakan yang terlibat dengan punk, mendapatkan banyak referensi anarkisme. Sementara anarkisme sendiri selalu berada dalam ranah utopia ketika menghadapi tuntutan tentang tatanan-tatanan kehidupan sosial sebagai praktiknya. Bagaimana kamu sendiri memaknai anarkisme?
Masyarakat awam menganggap anarkisme sebagai ajaran untuk melakukan kekerasan. Padahal bukan. Saya tidak melulu mempercayai anarkisme secara total. Aristoteles menerangkan mengenai bentuk-bentuk pemerintahan, silakan cari sendiri di Google.
Menurut Aristoteles, anarkisme akan melahirkan bentuk pemerintahan demokrasi. Kalau begitu, bukankah anarki juga merupakan suatu sistem? Jujur, saya tidak percaya pada negara jika hal-hal yang dianggap sebagai kebijakan tidak dapat menjadi payung bagi segala lapisan masyarakat. Misalnya, jika kita bicara mengenai hukum dan perundang-undangan. Di Indonesia, perundang-undangan diciptakan tanpa ada pengujian kepada masyarakat terlebih dahulu, beda dengan yang ada di negara penganut sistem Anglo Saxon. Tapi pada sisi lain, bukankah kita memerlukan suatu sistem?
11. Manusia hidup memerlukan tatanan atau sistem demi kerinduan mereka tentang keteraturan. Dan kita hidup di sini, sebuah negeri, Indonesia. Bisa berbagi sedikit pendapat personal mengenai tatanan atau sistem yang diterapkan di sini? Atau mungkin ada kritik tersendiri terhadap negeri ini, entah itu dalam sisi politik, sosial maupun budaya?
Demokrasi, suatu sistem dari dan untuk rakyat. Rakyat memiliki kendali terhadap sistem tersebut. Anggap saja demokrasi merupakan sistem yang baik. Tapi, saya tidak terlalu mempercayai sistem yang ada di Indonesia. Ketika kita berbicara tentang suatu sistem pemerintahan, kita juga akan membicarakan politik yang membentuk pola pemerintahan tersebut.
Kalau boleh saya bilang, demokrasi di sini adalah demokrasi-demokrasian. Partai politik yang mendapat jatah kursi di parlemen tidak dan/atau belum mampu menjadi corong untuk menjadi jembatan dalam memecahkan suatu masalah. Saya mempercayai bahwa ada kekuatan yang tak satu setan pun tahu yang mengendalikan sistem pemerintahan di Indonesia, entah dari luar maupun dalam. Dari situ, tiap ada pemilihan umum, saya lebih memilih untuk tidak memilih. Banyak anggapan bahwa tidak memilih sama dengan apolitis. Tapi, mari coba kita pahami bersama. Banyak juga yang menggunakan hak pilihnya, namun setelah itu hanya pasrah menerima keadaan. Bukankah itu juga merupakan sikap apolitis?
12. Anak muda Indonesia, di tengah badai teknologi dan carut marut di sekitar mereka. Pendapat mas Galang, apa yang harus segera dilakukan anak muda negeri ini untuk membuat sebuah perubahan ke arah yang lebih baik?
Meskipun artinya sama, tapi bolehkah "anak muda" diganti saja dengan "pemuda"? Haha. Menurut saya, kita membutuhkan kemauan untuk tidak menjadi pengekor secara terus menerus. Ambil saja segi positif dari kemajuan teknologi. Kalau mau, kita bisa mencari banyak referensi untuk menciptakan sesuatu, bukan hanya 'gaul' saja.
13. Hidup tidaklah luput dari aksara. Buku atau bacaan yang paling berpengaruh dalam hidup mas Galang?
"Catatan Seorang Demonstran"-nya Soe Hok Gie. Saya membacanya sekitar 8 tahun lalu. Soe Hok Gie memberi pelajaran tentang bagaimana cara menyikapi sebuah idealisme, alih-alih puisinya yang romantis namun tidak berlebihan. Rasa-rasanya, mempertahankan idealisme sangatlah sulit saat tiba masanya kita harus berbenturan dengan suatu keadaan tertentu. Salah satu hal yang membuat saya gelisah adalah ketika saya berada dalam keadaan dimana saya harus mempertahankan idealisme yang saya miliki, sedangkan saya juga harus hidup berdampingan dengan banyak orang.
Lalu, ada juga sebuah novel subkultur berjudul "Perang" yang ditulis oleh Rama Wirawan yang saya baca setelah saya diwisuda pada 2015 lalu. Saya sulit tertarik untuk membaca novel, tapi tidak untuk "Perang". Lucunya, saya mengenal Rama Wirawan pada 2013 lalu melalui zine, tapi saya tidak tahu jika beliau pernah menulis novel. Beberapa yang terkandung di dalam novel tersebut seolah menjadi semacam cerminan bagi diri saya pribadi, misalnya adalah kehidupan pascawisuda yang meninabobokan. Ada satu kutipan yang cukup 'mengganggu' di dalam "Perang". Kira-kira begini, "Marilah berimpi dan jangan terbangun. Ayo lihat, apakah kita butuh dunia atau dunia yang butuh kita untuk bisa berputar? Kita lihat, siapa yang akan lebih dulu menyerah kalah?"
14. Beberapa band Semarang yang menurut mas Galang perlu untuk diapresiasi?
Subyektif. Mari simak Octopuz, Moiss, dan Confess.
Untuk Octopuz dan Moiss, saya langsung menyukai mereka ketika mereka tampil ke permukaan karena di Semarang belum ada band yang musiknya seperti mereka. Sedangkan untuk Confess, band tersebut seperti memiliki energi berlebih untuk membakar lantai dansa, namun beberapa kali moshpit malah lowong ketika mereka tampil, entah kenapa.
15. Oke mas Galang, terima kasih banyak buat waktunya. Sangat ditunggu karya-karya selanjutnya. Ada ucapan atau apapun untuk mengakhiri interview ini?
Sama-sama, Kaum Kera. Saya pun juga senang dilibatkan dalam edisi kali ini, semoga dapat berkontribusi untuk edisi selanjutnya. Semoga pula, Kaum Kera dapat menyebarluaskan ide-idenya dalam jangka waktu yang cukup lama dan menginspirasi teman-teman lain untuk menciptakan media alternatif sejenis. Salam.
1. Skena hardcore punk Semarang semakin semarak, musim hujan telah datang dan jamur mulai tumbuh subur di mana-mana. Bagaimana kabarmu mas Galang?
Semoga kabar tetap baik seperti halnya tiap doa orang-orang terhadap saya meskipun akhir-akhir ini sering merasa gelisah dan susah tidur.
2. Zine di Semarang memang timbul tenggelam. Banyak yang telah terbit dan kemudian hilang begitu saja, tapi banyak juga yang tetap bersemangat untuk tetap membuatnya. Bagaimana mas Galang sendiri memaknai sebuah zine?
Zine merupakan merupakan media alternatif yang kontennya dapat berupa apapun (tulisan, gambar, foto, dan yang lainnya). Tidak ada pakem tertentu dalam memproduksi sebuah zine. Bentuknya dapat berupa e-zine/web zine maupun yang dalam bentuk fisik.
Bagi saya pribadi, zine merupakan salah satu bentuk ekspresi kemarahan terhadap media arus utama hari ini yang kontennya seperti dibuat-buat dan diatur sedemikian rupa oleh orang-orang yang memiliki kepentingan politik tertentu untuk mempengaruhi kehendak masyarakat. Kita bisa mengekspresikan hal-hal yang tidak 'dilihat' oleh masyarakat dan/atau bahkan masih dianggap tabu.
Bicara mengenai zine, kita juga akan berbicara mengenai kebebasan. Tidak ada zine yang bagus atau jelek. Selain itu, zine juga merupakan media informasi yang dapat mendekatkan kita kepada orang-orang baru yang sebelumnya jauh dalam jangkauan kita. Melalui zine, entah sebagai penulis maupun pembaca, saya (pernah) merasa berada dalam arus informasi yang tidak diketahui oleh banyak orang, hal-hal mengenai perkembangan musik di kota lain misalnya. Zine pula yang mengajarkan saya untuk berbagi informasi yang saya dapat kepada banyak orang.
3. Sebuah karya yang sudah dibuat, seharusnya diapresiasi sebanyak mungkin apresiator. Bagaimana pendapat mas Galang sendiri tentang apa yang seharusnya dilakukan supaya para anak muda di kota ini lebih masif dalam memproduksi dan juga mengonsumsi zine? Apa yang menjadi kendala di kota ini?
Jika kita bicara mengenai selera, barangkali hal tersebut merupakan sesuatu yang klise. Anggap saja selera merupakan suatu keyakinan yang begitu privat dan hakiki. Kita tidak bisa serta merta memaksakan selera kita kepada orang lain. Kita tidak bisa pula memaksa orang lain untuk memproduksi sebuah zine. Barangkali, pergerakan zine di Semarang yang timbul tenggelam dan tidak masif disebabkan oleh watak dasar anak muda di Semarang yang malas, meskipun tidak semuanya begitu. Kami lebih senang mengekor Jakarta, Bandung, atapun Jogja sebagai 'pusat peradaban', dan sialnya adalah bahwa kami mangimani dan mengonsumsi hal tersebut secara bangga. Barangkali ada orang yang memiliki gairah namun tidak mendapat dukungan sehingga timbul rasa tidak percaya diri dan gairah tersebut lambat laun dia simpan begitu saja.
Pada 2013 lalu, saya dan beberapa teman sempat memproduksi zine yang berkonsentrasi pada bidang musik cutting edge (atau apapun penyebutannya) di Semarang. Gairah itu meletup-letup, namun hanya berlangsung hanya sekitar satu tahun. Apresiasi datang tidak hanya dari teman-teman di Semarang, namun juga dari luar kota. Dulu, hal yang saya lakukan agar distribusi zine tidak terbatas pada orang-orang yang itu-itu saja adalah dengan 'memanfaatkan' jaringan yang saya kenal. Misalnya, saya melakukan interview terhadap orang dan/atau band yang cukup berpengaruh di Semarang. Dengan begitu, mereka juga akan menyebarkan informasi hasil interview tersebut kepada orang lain.
4. Saya sempat membaca dua edisi awal dari Racau zine yang menurut saya lumayan berbobot dan sangat informatif. Ternyata, mas Galang adalah editornya. Ok, bisa bercerita sedikit tentang proses kreatif yang dilalui ketika membuatnya? Mengapa Racau tidak dilanjutkan lagi sekarang?
Dua edisi awal dan yang terakhir. Haha. Sebenarnya, ide untuk membuat Racau timbul dari keinginan seorang teman untuk menciptakan media alternatif yang dikhususkan bagi band-band Semarang. Pada waktu itu dan bahkan hingga sekarang, saya merasa gelisah jika berhadapan dengan dinamika musik cutting edge di Semarang. Band-band Semarang itu potensial untuk bisa menjadi raja maupun 'keluar' dari kotanya sendiri, namun karena tidak ada media khusus bagi mereka maka band-band Semarang seolah-olah terkurung. Sebut saja Octopuz, Moiss, Aimee!, ataupun Something About Lola sebagai rujukan.
Proses produksi Racau diawali dari diskusi dengan teman-teman mengenai hal-hal apa saja yang akan dibahas tiap edisinya, lalu bergerak sendiri-sendiri sesuai dengan porsi yang telah ditetapkan, kemudian tiap artikel dari hasil interview disunting sesuai dengan ejaan yang disempurnakan hingga naik cetak dengan biaya kolektif. Saya menekankan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik agar orang-orang Racau sendiri maupun pembaca juga lebih khidmat mengonsumsinya meskipun mungkin terkesan kaku. Alih-alih menggunakan Bahasa Indonesia sesuai EYD, timbul sindiran bahwa beberapa tulisan di dalam Racau tidak tepat sasaran karena ada beberapa kosakata yang masih asing. Saya suka hal tersebut, ada dinamika baru yang muncul sehingga dapat menciptakan interaksi berupa diskusi antara Racau dengan pembaca yang bersangkutan.
Setelah dua edisi, kami baru merasa kesulitan untuk membagi prioritas antara aktivitas Racau dengan aktivitas pribadi. Kami hiatus untuk sementara waktu, namun gairah tersebut lama-lama pudar hingga sekarang meskipun saya pribadi masih memiliki keinginan untuk tetap menulis. Scribo ergo sum.
5. Ada beberapa teman berpendapat bahwa media alternatif sendiri seharusnya memberikan opsi media yang baru untuk menandingi berbagai media arus utama yang di beberapa sisi sudah akut membuat bosan. Makin kesini sebenarnya mulai muncul gairah beberapa anak muda Semarang yang mulai menggarap media alternatif dengan berbagai macam kemasan yang menurut mereka ideal. Dari beberapa yang sempat terbaca, adakah kritik tersendiri dari mas Galang mengenai media-media alternatif baru ini?
Ada beberapa media baru di Semarang yang konsentrasiya berada pada wilayah musik dan subkultur pemuda. Tentunya, hal tersebut memang patut diapresiasi. Karena zine merupakan suatu kebebasan, saya tidak akan mengkritik tentang konten dalam zine yang bersangkutan karena hal tersebut merupakan hak otonom dari pembuatnya. Tapi kiranya teman-teman yang bersangkutan perlu untuk menambah referensi sebagai bahan rujukan.
6. Ok, meloncat ke lain topik. Provokata, sebuah band yang cukup unik dan menurut saya lumayan kritis. Bisa sedikit bercerita tentang band ini mengingat mas Galang adalah yang bertanggung jawab dalam departemen vokalnya?
Pada 2014, saya merasa heran ketika Gagas Agung Sedayu (gitaris Provokata) menawari saya untuk mengisi pos yang ditinggalkan oleh vokalis sebelumnya. Entah apa yang dijadikan dasar untuk merekrut saya. Tapi jujur, saya menyukai pola lirik yang dimiliki Provokata. Barangkali ada semacam takdir yang menghubungkan kami. Sebelum di Provokata, saya merupakan gitaris sekaligus penulis lirik dalam sindikat female fronted hardcore bernama Dislike Of Disguise. Alih-alih rekaman untuk album mini, vokalis Dislike Of Disguise memilih untuk keluar dari band.
Di Provokata, teman-teman langsung memberi porsi kepada saya untuk menulis lirik lagu baru setelah perilisan album Catatan Dari Sudut Kota (2014). Hal yang membuat saya suka dengan band ini adalah adanya diskusi internal untuk menanggapi lirik yang saya tulis -hal yang tidak saya temukan dalam band sebelumnya. Satu poin yang saya tangkap, bahwa lirik merupakan hal yang harus dipertanggungjawabkan oleh band itu sendiri. Jadi, kami perlu berhati-hati dengan apa yang seharusnya kami suarakan. Dalam waktu dekat, dua lagu baru Provokata akan dirilis dalam album kompilasi yang beramunisikan band-band punk/HC lain dari Semarang, pula tiga lagu tambahan untuk proyek kompilasi yang masih dirahasiakan. Oh iya, jika sudah dirilis nanti, silakan simak lagu yang berjudul "Vox Acta Diurna, Vox Dei".
7. Dalam album Provokata, Catatan Dari Sudut Kota, ada satu lagu yang cukup menarik, "Untuk Mereka Yang Bakar Buku". Dan kami lihat para personil Provokata sendiri bisa dikatakan sangat masif dalam mengapresiasi karya dalam bentuk buku. Bisa bercerita sedikit tentang lagu ini?
Saya tidak menulis lagu tersebut. Tapi, menurut saya, "Untuk Mereka Yang Bakar Buku" merupakan satir yang didedikasikan kepada orang-orang yang melakukan pemberedelan buku. Mereka takut dengan adanya perbedaan sehingga berusaha untuk melenyapkan tiap goresan yang mereka rasa mengancam eksistensi mereka. "Where they have burned books, they'll end in burning human beings", kata Heinrich Heine. Tulisan dapat berubah menjadi senjata yang siap mengancam siapapun.
8. Segera teringat kejadian acara bedah buku tentang Tan Malaka yang sempat dipersulit oleh beberapa pihak di Semarang. Bagaimana pendapat mas Galang tentang kejadian tersebut?
Konyol. Ormas dan pihak kepolisian benar-benar cermat membaca undang-undang yang berkaitan dengan kejahatan terhadap keamanan negara, namun di sisi lain juga mengesampingkan Pasal 28 UUD 1945. Barangkali benar jika sejarah diciptakan oleh golongan yang menang di atas penderitaan golongan lain.
Saya sempat ke Polrestabes Semarang untuk membantu penyelenggara dalam menyampaikan surat perijinan acara bedah buku tersebut. Di sana, saya ditanya-tanya mengenai siapa itu Tan Malaka. Saya hanya meyakini bahwa pertanyaan tendensius aparat tersebut merupakan suatu jebakan yang mengarah pada jawaban berbau komunisme. Tapi untungnya, acara bedah buku di Semarang dapat dilaksanakan meskipun sempat mendapat penolakan dari pihak-pihak yang menganggap dirinya superior, namun terkesan inferior karena aksi penolakan tersebut.
9. Komunisme, sosialisme, dan anarkisme. Banyak anak muda yang ingin terlihat berbeda, kemudian memperdalam pemahaman tentang ideologi-ideologi yang dicap 'kiri'. Sebenarnyapun hak setiap orang untuk belajar tentang apa. Apa yang menjadi pegangan mas Galang dalam menjalani hidup? Apakah mas Galang sendiri meyakini sebuah ideologi tertentu?
Saya lahir dan tumbuh dalam lingkungan keluarga penganut Marhaenisme. Saya ingat betul bagaimana almarhum kakek mengajarkan banyak hal mengenai kesederhanaan. Ketika kelas 3 atau 4 SD, saya mulai membaca dua biografi Soekarno, yaitu "Penjambung Lidah Rakjat" dan "Sang Putra Fajar". Lalu ada juga sebuah buku mengenai tragedi Kudatuli, saya lupa judulnya. Dari situ, saya mulai menjamah Che Guevara, tesis-tesis Karl Marx, dan Soe Hok Gie ketika menginjak remaja. Pada saat yang hampir bersamaan, saya juga mempelajari punk dari musik yang saya dengarkan. Seorang kerabat pernah 'takut' menghadapi keadaan tersebut.
Tapi memang benar, hidup dalam teori-teori merupakan hal yang konyol pada saat itu. Sejak memiliki pemikiran seperti itu, saya hanya mengambil sisi positif dari teori-teori yang saya baca, tidak ingin mengimplementasikannya secara berlebihan. Untuk punk, saya menganggapnya sebagai guru, bukan punk yang harus digeneralisasikan pada suatu definisi tertentu. Punk mengajarkan banyak hal. Sekarang, saya malah menganggap diri saya sebagai seorang utopis. Semangat yang menyelamatkan kita nanti, semangat percaya pada mimpi. Apapun itu.
10. Kebanyakan yang terlibat dengan punk, mendapatkan banyak referensi anarkisme. Sementara anarkisme sendiri selalu berada dalam ranah utopia ketika menghadapi tuntutan tentang tatanan-tatanan kehidupan sosial sebagai praktiknya. Bagaimana kamu sendiri memaknai anarkisme?
Masyarakat awam menganggap anarkisme sebagai ajaran untuk melakukan kekerasan. Padahal bukan. Saya tidak melulu mempercayai anarkisme secara total. Aristoteles menerangkan mengenai bentuk-bentuk pemerintahan, silakan cari sendiri di Google.
Menurut Aristoteles, anarkisme akan melahirkan bentuk pemerintahan demokrasi. Kalau begitu, bukankah anarki juga merupakan suatu sistem? Jujur, saya tidak percaya pada negara jika hal-hal yang dianggap sebagai kebijakan tidak dapat menjadi payung bagi segala lapisan masyarakat. Misalnya, jika kita bicara mengenai hukum dan perundang-undangan. Di Indonesia, perundang-undangan diciptakan tanpa ada pengujian kepada masyarakat terlebih dahulu, beda dengan yang ada di negara penganut sistem Anglo Saxon. Tapi pada sisi lain, bukankah kita memerlukan suatu sistem?
11. Manusia hidup memerlukan tatanan atau sistem demi kerinduan mereka tentang keteraturan. Dan kita hidup di sini, sebuah negeri, Indonesia. Bisa berbagi sedikit pendapat personal mengenai tatanan atau sistem yang diterapkan di sini? Atau mungkin ada kritik tersendiri terhadap negeri ini, entah itu dalam sisi politik, sosial maupun budaya?
Demokrasi, suatu sistem dari dan untuk rakyat. Rakyat memiliki kendali terhadap sistem tersebut. Anggap saja demokrasi merupakan sistem yang baik. Tapi, saya tidak terlalu mempercayai sistem yang ada di Indonesia. Ketika kita berbicara tentang suatu sistem pemerintahan, kita juga akan membicarakan politik yang membentuk pola pemerintahan tersebut.
Kalau boleh saya bilang, demokrasi di sini adalah demokrasi-demokrasian. Partai politik yang mendapat jatah kursi di parlemen tidak dan/atau belum mampu menjadi corong untuk menjadi jembatan dalam memecahkan suatu masalah. Saya mempercayai bahwa ada kekuatan yang tak satu setan pun tahu yang mengendalikan sistem pemerintahan di Indonesia, entah dari luar maupun dalam. Dari situ, tiap ada pemilihan umum, saya lebih memilih untuk tidak memilih. Banyak anggapan bahwa tidak memilih sama dengan apolitis. Tapi, mari coba kita pahami bersama. Banyak juga yang menggunakan hak pilihnya, namun setelah itu hanya pasrah menerima keadaan. Bukankah itu juga merupakan sikap apolitis?
12. Anak muda Indonesia, di tengah badai teknologi dan carut marut di sekitar mereka. Pendapat mas Galang, apa yang harus segera dilakukan anak muda negeri ini untuk membuat sebuah perubahan ke arah yang lebih baik?
Meskipun artinya sama, tapi bolehkah "anak muda" diganti saja dengan "pemuda"? Haha. Menurut saya, kita membutuhkan kemauan untuk tidak menjadi pengekor secara terus menerus. Ambil saja segi positif dari kemajuan teknologi. Kalau mau, kita bisa mencari banyak referensi untuk menciptakan sesuatu, bukan hanya 'gaul' saja.
13. Hidup tidaklah luput dari aksara. Buku atau bacaan yang paling berpengaruh dalam hidup mas Galang?
"Catatan Seorang Demonstran"-nya Soe Hok Gie. Saya membacanya sekitar 8 tahun lalu. Soe Hok Gie memberi pelajaran tentang bagaimana cara menyikapi sebuah idealisme, alih-alih puisinya yang romantis namun tidak berlebihan. Rasa-rasanya, mempertahankan idealisme sangatlah sulit saat tiba masanya kita harus berbenturan dengan suatu keadaan tertentu. Salah satu hal yang membuat saya gelisah adalah ketika saya berada dalam keadaan dimana saya harus mempertahankan idealisme yang saya miliki, sedangkan saya juga harus hidup berdampingan dengan banyak orang.
Lalu, ada juga sebuah novel subkultur berjudul "Perang" yang ditulis oleh Rama Wirawan yang saya baca setelah saya diwisuda pada 2015 lalu. Saya sulit tertarik untuk membaca novel, tapi tidak untuk "Perang". Lucunya, saya mengenal Rama Wirawan pada 2013 lalu melalui zine, tapi saya tidak tahu jika beliau pernah menulis novel. Beberapa yang terkandung di dalam novel tersebut seolah menjadi semacam cerminan bagi diri saya pribadi, misalnya adalah kehidupan pascawisuda yang meninabobokan. Ada satu kutipan yang cukup 'mengganggu' di dalam "Perang". Kira-kira begini, "Marilah berimpi dan jangan terbangun. Ayo lihat, apakah kita butuh dunia atau dunia yang butuh kita untuk bisa berputar? Kita lihat, siapa yang akan lebih dulu menyerah kalah?"
14. Beberapa band Semarang yang menurut mas Galang perlu untuk diapresiasi?
Subyektif. Mari simak Octopuz, Moiss, dan Confess.
Untuk Octopuz dan Moiss, saya langsung menyukai mereka ketika mereka tampil ke permukaan karena di Semarang belum ada band yang musiknya seperti mereka. Sedangkan untuk Confess, band tersebut seperti memiliki energi berlebih untuk membakar lantai dansa, namun beberapa kali moshpit malah lowong ketika mereka tampil, entah kenapa.
15. Oke mas Galang, terima kasih banyak buat waktunya. Sangat ditunggu karya-karya selanjutnya. Ada ucapan atau apapun untuk mengakhiri interview ini?
Sama-sama, Kaum Kera. Saya pun juga senang dilibatkan dalam edisi kali ini, semoga dapat berkontribusi untuk edisi selanjutnya. Semoga pula, Kaum Kera dapat menyebarluaskan ide-idenya dalam jangka waktu yang cukup lama dan menginspirasi teman-teman lain untuk menciptakan media alternatif sejenis. Salam.
Langganan:
Komentar (Atom)

















