Senin, 15 Agustus 2016

Sejenak Bersama Efi Sri Handayani

Menyenangkan sekali ketika melihat seorang kawan perempuan yang aktif sekali berkarya. Dan beberapa waktu lalu ketika menghadiri Sewon Screening di kampus ISI Yogyakarta, saya berkenalan dengan seorang sutradara muda yang filmnya lumayan menarik perhatian saya, Efi Sri Handayani. Jebolan Institut Kesenian Jakarta yang juga terlibat sebagai koordinator acara dalam penyelenggaraan Belok Kiri Fest beberapa waktu yang lalu, ternyata juga adalah seorang kutu buku serta aktif mendukung aksi warga Kendeng dalam perjuangannya menolak pendirian Pabrik Semen serta penambangan Karst di Pegunungan Kendeng Utara. Akhirnya rampung juga interview yang kami lakukan via fasilitas chat Facebook ini, setelah beberapa kali pending karena kesibukan dan hal-hal lainnya. Silahkan disimak, semoga menginspirasi.



1. Halo Efi, bagaimana kabar keseharian akhir-akhir ini?

Kabar baik dan sedikit sibuk dengan beberapa kegiatan.

2. Kamu adalah salah satu yang terlibat dalam helatan Belok Kiri Fest dan Simposium '65 beberapa waktu yang lalu. Dalam pandangan kamu pribadi, menurutmu apa urgensi dari kedua helatan tersebut untuk digelar?

Menurutku, urgensi saat ini adalah bagaimana negara bertanggung-jawab atas kejahatan pelanggaran HAM di masa lalu. Selain itu, narasi sejarah yang harus terus dibicarakan dengan mengungkap fakta yang sebenar-benarnya terjadi. Ini penting bagi generasi muda untuk tahu sejarah bangsanya sendiri supaya tragedi serupa tidak lagi terjadi di kemudian hari.

3. Helatan Belok Kiri Fest sempat mengalami kendala masalah perijinan dari pihak Kepolisian walaupun akhirnya tetap bisa berjalan dengan memindahkan tempat acara. Bisa menceritakan sedikit kronologi masalah kendala tersebut?

Empat hari sebelumnya, banner kegiatan sudah dipasang dari tanggal 22 Februari di depan TIM (Taman Ismail Marjuki), diturunkan oleh pengelola TIM keesokan harinya. Alasannya, surat izin kegiatan yang telah mendapat cap dari pihak polsek setempat, dinilai tidak cukup. Surat izin itu harus disertai surat balasan dari polsek.

Selama proses perizinan, dari tanggal 18 hingga 26 Februari, komite pelaksana dipersulit dalam urusan birokrasinya. Hingga H-1, Belok Kiri Fest tetap tak diberi izin penyelenggaraan di TIM. Saat itu pula penyelenggara disuruh membongkar display yang telah dipasang di Galeri Cipta II. Kabarnya, pihak polisi dan keamanan TIM akan membongkar paksa jika itu tidak dilakukan panitia.

4. Jagal "The Act of Killing" karya Joshua Oppenheimer adalah salah satu film yang kamu sebut-sebut saat berpidato di pembukaan Belok Kiri Fest. Dan dalam sebuah interview, Joshua sendiri mengatakan bahwa film tersebut adalah ajakan bagi semua pelaku dunia film di Indonesia untuk membuat karya yang semacam. Bagaimana pendapatmu pribadi mengenai film tersebut? Sebagai seorang yang juga pelaku dunia film, adakah rencana untuk membuat karya film yang serupa?

Film jagal secara gamblang dengan berani membeberkan fakta sejarah tragedi 1965. Bagaimana para pelaku dengan keji menceritakan peristiwa pembantaian itu. Film tersebut membuka banyak mata yang selama ini sengaja ditutupi oleh pemerintah orde baru.

Sebagai seorang sutradara, saya juga ingin membuat film dengan tema 65. Tapi bentuknya mungkin bukan dokumenter, saya ingin membuat film drama tentang anak-anak yang orang tua nya menjadi korban. Saya ingin menitik-beratkan pada bagaimana kehilangan itu, yang dialami oleh seorang anak, dan bagaimana kepulangan hanya sebatas mimpi bagi mereka para tapol 65.

5. Beberapa waktu yang lalu keputusan Pengadilan Rakyat Internasional yang digelar di Den Haag, Belanda, memutuskan bahwa pemerintah Indonesia bersalah atas berbagai kejahatan HAM yang terjadi di masa lampau. Akan tetapi pemerintah mengacuhkan putusan tersebut dan menolak untuk menindak-lanjutinya. Bagaimana pendapat kamu tentang hal tersebut?

Orde baru itu memang mempersulit hidup orang banyak ya. Bahkan yang dipersulit bukan hanya generasi terdahulu, tapi generasi muda hari ini juga kena dampaknya. Mereka begitu takut menyelesaikan masalah pelanggaran HAM masa lalu, karena jika dibongkar, pelaku-pelaku kejahatan HAM akan terancam. Stabilitas kekuasaan akan terganggu. Saya cuma heran, kenapa manusia tidak bisa hanya memakai nuraninya saja.

6. Saya lihat kamu punya perhatian khusus akan isu penolakan terhadap operasi pabrik semen dan penambangan karst di pegunungan Kendeng Utara. Apa yang mendasari perhatian tersebut?

Saya melihat ketulusan warga Kendeng, khususnya ibu-ibu petani. Mereka selalu mengatakan ibu bumi harus dijaga kelestariannya untuk masa depan anak cucu, jangan hanya memikirkan perutnya sendiri. Bahkan sempat juga ngobrol dengan salah satu kartini kendeng, ibu Sukinah, sambil menangis beliau bercerita ketika melihat tanah dirusak, yang dirasakannya adalah tubuhnya sendiri dan tubuh leluhur-leluhurnya.

Ketulusan seorang ibu kepada anaknya memang tak ternilai. Hal itu yang sebetulnya cukup menampar saya. Sebagai seorang anak yang pernah dilahirkan dari rahim seorang ibu, saya merasa harus berbuat sesuatu, meskipun itu hal kecil.

7. Dari beberapa kali postingan di media sosial, kamu terlihat aktif mengawal aksi warga Kendeng di depan Istana Negara. Bisa menceritakan sedikit tentang detail aksi tersebut hingga hari ini?

Aksi dimulai sejak 26 Juli dan hingga hari ini masih bertahan mendirikan tenda di depan istana dengan tuntutan bisa bertemu presiden Joko Widodo yang pada aksi sebelumnya dimana ibu-ibu mengecor kaki mereka dengan semen. Saat itu utusan presiden, Teten Masduki dan Pratikno hadir sebagai wakil presiden dan berjanji akan mempertemukan ibu-ibu dengan presiden Jokowi. Akan tetapi, hingga hari ini (Tanggal 31 Juli 2016) janji tidak ditepati. Kemudian aksi pasang tenda juga mengajak siapapun untuk membaca AMDAL palsu yang dibuat oleh PT. Semen Indonesia. Siapapun, warga yang ikut aksi ini juga sangat terbuka jika ada aparat, pemerintah, akademisi dan masyarakat yang ingin melihat AMDAL versi semen itu.

8. Menurutmu pribadi, apa yang menyebabkan pihak pemerintah sendiri agak berat untuk memenuhi permintaan tuntutan warga Kendeng?

Kita hidup di sebuah negara yang para pemimpinnya terlalu punya banyak kepentingan.









 9. Saya salah satu penikmat karya kamu. Sebuah film, yang jika kamu ingat, kita pernah berdiskusi tentangnya, "Laki-Laki Virtual". Bagaimana proses kreatif pembuatan film tersebut? Pesan apa yang sebenarnya hendak disampaikan melalui cerita dari "Laki-Laki Virtual"?

Proses development ceritanya cukup lama, kurang lebih satu semester. Kira-kira sampai film itu selesai, memakan waktu hampir satu tahun. Sebetulnya tidak ada pesan apapun dalam film ini. "Laki-Laki Virtual" selain sebagai tugas akhir kuliah saya, di sisi lain yang lebih personal, film ini menjadi semacam healing buat saya. Manusia, terkadang butuh tamparan keras untuk menyadari tentang apa yang terjadi dan bagaimana ia harus menghadapi itu.

Kalau boleh mengutip satu puisi Sapardi, “yang fana adalah waktu, kita abadi”. Karakter laki-laki virtual berasal dari waktu dan tempat lampau, sementara perempuannya hidup di masa ini. Sebesar apapun keinginan untuk bersama laki-laki dalam video VHS itu, perempuan tidak akan bisa mendapatkan hal tersebut. Waktu memang nyata, apapun yang di dalamnya pernah ada dan hidup, tapi menghadirkannya kembali? Sudahlah, nanti keburu ada UFO jatuh.

10. Ada rencana terdekat untuk penggarapan karya dalam bentuk film lagi?

Ada, saat ini saya sedang riset untuk development cerita film fiksi dengan tema tragedi '65. Sembari mengumpulkan footage untuk project dokumenter tentang para Kartini Kendeng.

11. Buku atau literatur apapun yang terakhir di baca?

Saya sedang membaca memoar pulau buru karya pak Hersri Setiawan, salah satu seniman Lekra yang pernah menjadi tapol pulau Buru. Saya banyak terinspirasi dari buku itu untuk pembuatan film saya tentang tragedi '65.

12. Ok Efi, thanks banget sudah meluangkan waktu untuk menjawab dan berbagi bersama Kaum Kera zine. Sangat ditunggu aksi dan karya-karya berikutnya. Silahkan menyampaikan sesuatu apapun itu, untuk mengakhiri wawancara ini.

Saya kasih quotes saja ya. adalah salah satu quotes favorit dari film Cinema Paradiso : “life isn’t like in the movie. life is… much harder.” Sukses ya untuk Kaum Kera Zine. Sampai jumpa, salam congyang!

Sabtu, 06 Agustus 2016

Panjang Lebar Bersama Afriyandi Wibisono

Masih jarang saya menemukan anak muda yang mempunyai semangat besar untuk menulis. Kebisaan menulis, disertai ketertarikan besar membangun media, sudah pasti memberi kontribusi besar terhadap komunitas, apapun itu bentuk komunitasnya. Menulis, akhirnya melahirkan eksekusi final berupa karya tulis, dan karya tulis akhirnya memberi kontribusi besar terhadap gerakan literasi. Gerakan literasi adalah yang hal penting ketika zaman mulai berjalan dalam koridor yang penuh dengan kebohongan. Ketika seseorang terliterasi dengan baik, maka seseorang akan lebih peka ketika ada sesuatu yang bersifat tidak beres terjadi di sekitar mereka. Dan kemudian saya berkenalan dengan seorang teman baru, Afriyandi Wibisono, salah seorang yang terlibat aktif dalam salah satu kanal media independen krusial di kota ini, Semarang on Fire. Dia salah satu yang juga aktif menulis dan mempunyai kemauan besar untuk mengasah kemampuannya dalam bidang jurnalistik. Sebenarnya sudah lama ingin melakukan sesi interview dengannya, dan akhirnya baru sekarang tersampaikan. Berikut obrolan kami, silahkan disimak, semoga menginspirasi.


1. Dari Semarang bawah ke Semarang atas masih macet karena arus balik mudik Lebaran. Bagaimana kabar kamu mas Afri?

Kabar baik, sangat baik. Beberapa minggu menjelang lebaran cukup disibukan dengan rutinitas kantor. Yang lainnya seperti biasa; membuat jurnal, resensi, dan artikel-artikel yang saya muat ke dalam web Semarang On Fire. Datang ke sebuah gigs, mengamati laju skena dan berbagai macam proses kreatif yang berjalan di kota Semarang melalui konteks kultural, sudah menjadi kecintaan tersendiri. Oh iya, saat ini saya juga disibukan dengan aktivitas perniagaan record distribution bernama Vitus. Lumayan, untuk menambah uang jajan.

2. Komunitas musik di Semarang, generasi silih berganti. Banyak yang lama pergi dan tidak kembali, beberapa ada yang tetap bertahan dan menemani yang muda datang dengan enerji yang juga mumpuni. Bisa berpendapat sedikit mengenai komunitas musik di kota ini, mas? 

Ini adalah hal yang telah lama merebut atensi saya. Setelah beberapa tahun lalu pindah menetap di Semarang, perkembangan kultur khususnya di ranah musik menjadi rubrik yang rutin saya ikuti. Saya terlanjur jatuh cinta dengan segala yang terjadi di Semarang, dan dalam hal musik di sini saya melihatnya sebagai suatu hal yang sangat potensial dimiliki oleh Ibukota Jawa Tengah, yang tentu memiliki talenta berpotensi lainnya di luar kota.

Melihat dinamika yang terjadi pada komunitas musik di Semarang, semenjak mulai mengenalnya hingga saat ini, banyak hal yang sangat disayangkan. Disamping memiliki potensi, melalui pengamatan yang saya lakukan dengan melihat faktor secara ekonomi, saya menyimpulkan secara pribadi bahwa yang terjadi pada banyak kasus di komunitas ini adalah munculnya talenta-talenta berbakat lalu sinarnya lenyap yang disebabkan oleh kesibukan tiap personil.

Singkatnya, tingkat apresiasi dan minat pada konteks sub-kultur di Semarang yang sangat rendah mengakibatkan para pelaku musik dari lintas genre ini kehilangan gairah untuk bertahan di jalur musik tersebut karena keterpaksaan mereka mencukupi kebutuhan hidup atau dengan kata lain memiliki pekerjaan formal sebagai penopang utamanya. Kebutuhan hidup tersebut mungkin tidak akan terpenuhi ketika para musisi ini hanya manggung dan membuat album musik. Sampai sana saya cemas, bagaimana dengan yang akan terjadi pada talenta-talenta baru berikutnya ? Syukur, masih ada beberapa yang memiliki enerji untuk dibagikan. Para pelaku ini yang mulai saya amati dari proses penggarapan materi dan attitude yang dimiliki. Harapannya adalah mereka-mereka ini yang akan berkiprah membawa nama Semarang khususnya di ranah musik.

3. Apakah jalur bermusik independen tidak bisa menjadi basis ekonomi alternatif kalau menurut mas Afri? Mengingat sebenarnya banyak kegiatan yang terkait dengan ranah budaya anak muda yang satu ini. Gig, rilisan, produksi merchandise, dan bahkan media sebagai contohnya.

Sebenarnya bisa, jika kita melihat dari kota-kota yang pergerakan skenanya lebih cepat. Namun saya sendiri belum begitu yakin tentang menciptakan basis ekonomi alternatif sekaligus kreatif untuk ranah musik Semarang. Alasannya, seperti yang telah saya jelaskan tadi. Bahwa tingkat apresiasi yang belum mumpuni menyebabkan beberapa pelaku musik harus berani merugi atas produksi karya yang mereka ciptakan, meski sebenarnya itu juga salah satu resiko menjalani karir di jalur independen.

Yang sejauh ini saya lihat dari tiap komunitas musik di Semarang adalah, pada aktivitas produksi rilisan dan merchandise baru sebatas menampilkan eksistensi bermusik mereka sekaligus menancapkan tombak diskografi untuk skenanya. Selebihnya adalah bagaimana cara mengembalikan modal produksi atau jika lebih disimpan untuk modal produksi selanjutnya. Belum ada keuntungan yang bisa dicapai (apabila dalam konteks perbincangan ini mengarah pada apa yang bisa dihasilkan selain untuk perputaran produksi) pada tahap ini, semua akan kembali pada budaya dan dampak yang diberikan dari para pelaku seni khususnya musik untuk menciptakan lingkungan yang apresiatif.

Untuk itu terciptalah aktivitas-aktivitas lain yang berkaitan pada ranah budaya tersebut untuk membantu para pelaku musik di Semarang mendapat atensi publik, atau minimal terdengar pada komunitas sub-kultur lainnya yaitu melalui media dan gerakan literasi seperti Kaum Kera ini. Menurut saya pribadi, kondisi Semarang saat ini sedang merangkak untuk kembali menciptakan lingkungan yang cocok sebagai tempat tumbuh kembang bagi para pelaku musik, agar diterima oleh masyarakat. Barulah gerakan untuk menciptakan basis ekonomi alternatif bisa terlaksana.

4. Selain melalui jalur media dan gerakan literasi, menurut mas Afri, apa yang seharusnya dilakukan oleh para penggiat komunitas di kota ini untuk menciptakan budaya dan lingkungan yang apresiatif? Ketika sebenarnya banyak juga yang mengakui bahwa sebenarnya karya-karya dari kota ini mempunyai kualitas yang juga mumpuni.

Betul, banyak cara yang bisa dilakukan selain menggunakan media dan literasi. Cara yang paling tradisional adalah memperluas jaringan, memperlebar komunikasi dengan publik melalui akun-akun media sosial. Kemudahan komunikasi di era globalisasi saat ini turut membantu para pelaku musik untuk mempromosikan karyanya, disamping memiliki resiko yang lebih besar terkait hal yang merugikan. Namun untuk sebuah langkah awal, mengenalkan materi pada publik secara masif dapat meningkatkan rasa penasaran publik terhadap potensi yang pelaku musik ini miliki, maka atensi dan antusias publik terhadap pergerakan ini akan semakin besar.

Tentunya cara ini harus dibarengi dengan edukasi agar dikemudian hari kita tidak menemui kasus-kasus seperti pembajakan misalnya. Mengedukasi publik tentang bagaimana jalannya proses kreatif hingga menghasilkan sebuah karya yang riil tidak hanya untuk menambah pengetahuan mereka tentang pentingnya sebuah karya rilisan, namun juga mengajarkan tentang arti menghargai, dari sinilah akan tercipta lingkungan kondusif untuk berdikari di kota sendiri.

Tidak dapat dipungkiri bahwa potensi musik yang kita miliki saat ini (bisa dibilang) setara atau bahkan lebih baik dari musik-musik indie populer saat ini. Namun apabila kota atau skena yang kita diami saat ini tidak atau bahkan belum mampu mengapresiasi lebih jauh, tidak ada salahnya untuk berani melempar diri keluar lingkungan tersebut. Yang berarti para pelaku musik ini harus memiliki kanal dan jejaring yang baik antar skena di luar kota untuk mau menampungnya. Lalu apakah lantas hal ini membuat para pelaku musik tersebut diapresiasi publik ? Semua kembali pada bagaimana cara pelaku musik ini berjejaring.

5. Mas Afri adalah salah satu yang aktif di Semarang on Fire, bisa berbagi latar belakang ceritanya bisa bergabung dengan mereka? Apa tujuan mas Afri sendiri bergabung dengan Semarang on Fire?

Awal bergabung dengan Semarang On Fire cukup sederhana. Karena hobi saya sering datang ke gigs, mendokumentasi acara untuk arsip pribadi dan mempublikasikannya lewat media sosial, akhirnya saya resmi direkrut oleh Mas Garna, yang merupakan salah satu pendiri media alternatif tersebut.

Pada waktu itu (2015), Semarang On Fire baru hidup kembali setelah masa vakum di sekitaran tahun 2009, dan misinya saat hidup kembali ini adalah sebagai corong aktivitas yang berkaitan dengan seni dan pergerakan independen. Makin kesini, ideal dan misi sudah terstruktur, tidak hanya sebagai media, pula Semarang On Fire ikut bergerak mengkoordinir gigs baik dari teman-teman di dalam maupun luar kota. Sayang sekali Semarang On Fire kekurangan kontributor terutama pada lini redaksi, dan sejauh ini saya dipercaya sebagai penanggung jawab sekaligus redaktur. Cukup berat, terutama setelah 2 orang yang berada di dalam tubuh Semarang On Fire yakni Adit Mada dan Sebastian Gary mulai sibuk dengan proyek pribadi mereka, kemudian disusul dengan keberangkatan Mas Garna ke Amerika, saya harus membagi waktu untuk menyempatkan diri terjun ke dalam pergerakan skena. Sangat menyenangkan!

Tidak ada tujuan khusus. Apa yang saya lakukan selama ini terutama di Semarang On Fire adalah murni kesenangan semata. Saya senang mendokumentasikan apa yang saya suka, menulis apa yang ingin saya tulis, dan yang terpenting untuk membagi apa yang harus diketahui orang lain. Selebihnya adalah dasar dari Semarang On Fire sendiri sebagai media pengarsipan segala aktivitas skena di Semarang dan 'mengompori' anak-anak muda kreatif lainnya untuk berkarya.

6. Begitu banyak karya musik dari kota ini yang di eksekusi dalam bentuk rilisan fisik. Ada beberapa yang menurut mas Afri patut menjadi rekomendasi?

Wah, banyak sekali. Seperti yang sudah saya tulis di atas bahwa Semarang memiliki band/musisi potensial dengan karya yang menarik dan saya akan merekomendasikan beberapa album musik terbaru dari teman-teman di Semarang yang menurut saya wajib didengarkan:

Moiss: Subtitute (EP)
Ini adalah album kedua trio shoegaze yang terdiri dari M. Rifqi (Vokal/Gitar), Icad (Bass), dan Hari Candra pada drum. Dalam album ini, Moiss lebih berani menampilkan sound-sound yang fuzzy dibalut komposisi rock yang minimalis. Subtitute berisikan materi dengan lirik dan tema yang lebih ceria dibandingkan album sebelumnya yang terkesan gelap dan mengambang. Album ini dirilis kedalam format kaset melalui label rekaman asal Solo, Hema Records. Konon, album yang dicetak sebanyak 100 buah untuk 2 versinya sudah sold out !

Harvest: Happiness And The Effort (EP)
Album milik unit Hardcore asal Semarang, Harvest, cukup menyita perhatian saya. Jujur untuk seorang yang juga bergaul di lingkup Hardcore/Punk, saya kekurangan referensi atau jika dilihat saat ini kebanyakan musik hardcore yang dimainkan terlalu membosankan dengan komposisi instrumen dan beatdown. Namun yang satu ini, album dengan komposisi materi paling segar yang pernah saya dengar. Bisa jadi saya yang kampungan karena jarang mendengar musik seperti Comeback Kid, Stretch Armstrong, atau Have Heart, dan Harvest adalah salah satu yang memberi referensi musik semacam ini. Riff yang mewah, fill gitar yang variatif, cukup membuat saya terkesima meski lirik-lirik dalam album tersebut masih meleset disebabkan penggunaan grammar bahasa inggris yang minim.

AK//47: Verba Volant, Scripta Manent (Full-length)
Perlu saya jelaskan ?

Selain ketiga album yang saya rekomendasikan diatas, masih banyak karya yang saya suka baik berbentuk album maupun single dari band/musisi anyar di Semarang, juga rilisan-rilisan baru dan lawas yang patut diapresiasi.

7. Venue, dalam komunitas musik adalah salah satu infrastruktur penting yang cukup vital. Dan mungkin di Semarang kendala masalah venue cukup pelik. Ada beberapa venue lama yang sekarang masih bertahan, ada pula venue baru yang muncul dengan berbagai problematikanya masing-masing. Pendapat mas Afri sendiri tentang masalah venue bagi pergerakan komunitas musik di Semarang?

Yang ini menjadi salah satu perhatian saya berkaitan dengan pra-sarana. Semarang sebagai salah kota besar dengan hiruk pikuk duniawi, pasti menyediakan banyak fasilitas-fasilitas hiburan baik yang dibangun baik oleh pemerintah ataupun swasta. Menurut saya ini sangat baik, mengingat makin banyaknya alternatif space sebagai tempat penyelenggaraan acara. Dimudahkan dalam perizinan oleh aparat, sewa tempat dengan biaya murah (bahkan ada yang masih menggunakan sharing ticket), sound system yang lengkap, Semarang merupakan kota dengan infrastruktur yang memadai untuk komunitas musik khususnya di ranah independen. Namun ini yang menjadikan mental orang-orangya sedikit manja dibanding kota-kota lain tak jauh di sebelahnya.

Kendal adalah salah satu contoh kota dengan fasilitas venue yang kurang (atau bahkan tidak) variatif mengingat hanya ada beberapa tempat salah satunya GOR Bahurekso sebagai rujukan penyelenggaraan acara. Dengan sulitnya perizinan serta biaya sewa tempat yang teramat tinggi, memaksa kawan-kawan pelaku skena kota Kendal menjadi lebih disiplin dalam mengorganisir sebuah helatan secara masif dengan antusiasme penonton yang sangat ramai. Bagi saya Semarang adalah tempat ternyaman untuk mendirikan sebuah acara dengan berbagai pilihan venue. Yang jadi masalah adalah ketika kawan-kawan di Semarang belum bijaksana untuk memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang tersedia hingga akhirnya menjadi mubazir.

8. Menurut mas Afri, bagaimana pengambilan sikap yang bijak dalam memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang ada dalam kota ini  supaya tidak mubazir?

Menurut saya, bijak dalam memanfaatkan fasilitas-fasilitas kota ini lebih mengarah ke tiap komunitas-komunitas ataupun pelaku skena agar konsisten terhadap penyelenggaraan acara baik musik atau apapun agar ruang-ruang ini tidak terbengkalai begitu saja. Sangat disayangkan apabila kota ini memiliki fasilitas yang lebih variatif namun tidak mampu menghasilkan pergerakan khususnya sebuah acara karena alasan 'tidak mampu bayar sewa tempat'. Yang saya amati, mungkin karena di kota ini kekurangan orang-orang yang mampu bekerja secara masif, sehingga beberapa orang yang berkeinginan untuk bergerak tidak mampu apabila dijalankan seorang diri.

Terlebih, selain menghindari fasilitas yang mubazir, kita dituntut untuk bisa merawat ruang-ruang alternatif yang ada saat ini agar tetap bertahan di kemudian hari. Menjaga aset-aset di dalam venue, menjaga agar suasana tetap kondusif dan menyenangkan saat menyelenggarakan acara, serta menjaga silaturahmi antar pemilik/penjaga venue tersebut supaya tidak terjadi konflik juga cara bijak untuk merawat fasilitas-fasilitas kota terutama sebuah venue acara. Mutualisme antara pelaku skena baik si penyelenggara dengan empunya venue harus terjadi dalam konteks merawat fasilitas, supaya tidak timbul permasalahan yang merugikan sebelah pihak kelak.

9. Mas Afri juga salah satu yang aktif dalam pengelolaan sebuah event. Ada konsep event yang menarik dekat-dekat ini?

Beberapa minggu terakhir saya menyelenggarakan sebuah acara dengan konsep acara yang menonjolkan pentolan-pentolan musik riff tebal. Judul acaranya Heavy Party. Waktu itu berkonjungsi dengan agenda tur teman-teman dari Medan, Syuthay, bertajuk Gaung Tandang Tour 2016. Heavy karena yang bermain disini adalah mereka yang mengusung jenis musik stoner yang pastinya kental riff berat dan tempo sedang, sehingga kita dipaksa untuk teler sambil terus menganggukan kepala, haha. Sejauh ini di Semarang, baru beberapa event saja yang benar-benar memiliki konsep yang menarik seperti Atlas Room: Gigs Geek, Pure Metal Fest, Semarang bernyanyi Bersama, dan yang menjadi rujukan saya dalam membuat sebuah acara, Ruru Radio: Radio Of Rock.

Acara-acara tersebut saya lihat berpotensi besar menjadi poros penyelenggaraan event, meski beberapa diorganisir oleh rokok. Namun kita bisa meniru dan memodifikasi konsep acara-acara tersebut untuk disesuaikan kedalam acara yang akan kita buat. Yang sering terjadi, di Semarang sendiri penyelenggaraan acara belum memikirkan konsep acara secara matang, terutama musik. Seringnya, hingga saat ini acara-acara musik hanya mengedepankan sifat hedonis ketimbang konsep matang sehingga akan berimbas pada rekam jejak pergerakan skena.

10. Terlibat dalam Semarang on Fire yang notabene adalah salah satu pilar media independen di kota ini, adakah rencana untuk menerbitkan media yang lebih personal seperti zine misalnya?

Jujur saya bukan orang yang cepat merasa puas, jika sesuatunya tidak sesuai dengan yang saya inginkan saya akan menciptakan suatu hal yang baru lagi. Sama seperti Semarang On Fire yang memiliki standar dan struktur literasi tersendiri, saya pun merasa di Semarang On Fire masih belum cukup untuk mengeksplorasi keinginan dan uneg-uneg dengan cara saya sendiri. Sebenarnya saya telah menyiapkan proyek literatur dengan konten yang benar-benar di luar disiplin Semarang On Fire, medianya masih berbentuk zine dan dicetak.

Beberapa materi telah saya tulis dan kumpulkan, namun sangat disayangkan, kesibukan saya bekerja saat ini juga menjalankan Semarang On Fire dalam menerbitkan artikel, mengorganisir acara, terlebih saat ini saya turut membantu label dan ditribusi rekaman Vitus Record, mengurungkan niat saya untuk mengolah lebih jauh proyek-proyek pribadi saya. Saya takut jika hal ini terus terjadi saya akan jenuh dan hilang seperti halnya para pelaku skena dahulu lakukan. Beruntung, saya memiliki sahabat-sahabat yang membantu saya untuk berpikir progresif, kritis, dan terus membakar gairah saya dalam melakukan sesuatu baik untuk Semarang atau apapun, salah satunya dengan yang dilakukan teman-teman kolektif Kaum Kera ini. Saya sangat berterima kasih telah banyak membantu dan mengajarkan saya banyak hal.

11. Ada rencana untuk terlibat dalam sebuah band?

Aha, sebagai anak skena yang mana lingkungannya sudah pasti di ranah musik, tentunya ingin. Melihat teman-teman saya berteriak lantang melantunkan baris-baris lirik nan provokatif, memutuskan senar gitar karena terlalu cepat melakukan sweeping chord, atau yang dengan santai melompat dari panggung, membuat saya ingin melakukan hal yang sama juga. Ah, seperti apa yang saya tulis tadi, bahwa waktu saya benar-benar habis untuk mengabdi pada skena dan bekerja, pun saya tak terlalu paham dengan musik, sound system, bahkan saya tidak pandai bermain gitar.

Namun beberapa hari lalu, teman saya Gagas (Provokata) mengajak saya untuk membuat sebuah side-project band, saya mendapat porsi untuk membuat lirik. Semoga yang ini berjalan lancar, doakan.

12. Buku-buku atau literatur apapun yang terakhir dibaca?

Ini pengakuan yang mungkin agak memalukan bagi saya. Meski berada di lingkungan literasi, jujur saya tidak terlalu tertarik pada literatur terutama buku. Disamping jarang memiliki waktu senggang, saya sendiri jarang sekali membaca, apalagi membaca buku yang tebal. Pun saya tidak memiliki referensi untuk memilih buku bacaan. Saya biasanya lebih suka mendengarkan lagu, membaca lirik-liriknya, ulasan band, dan artikel singkat.

Hingga akhirnya sempat disodori bacaan yakni dua buah karya penulis/jurnalis asal Bandung, Zaky Yamani. Buku-buku itu berjudul "Kehausan Di Ladang Air" dan "Bandar", kedua buku ini berhasil merenggut atensi saya untuk membaca terutama setelah disodori oleh teman saya, Manusia Kera. Buku yang pertama tidak terlalu tebal, isinya tegas, aktual, dan mematikan, sama seperi Grindcore. Sial, berkat bacaan yang pertama kemudian saya malah penasaran dengan karya berikutnya yang ternyata tak kalah menarik.

Setelah itu saya tergugah untuk meliterasi diri saya sedikit demi sedikit dengan membaca artikel-artikel di laman website seperti Whiteboard Journal, Jakarta Beat, dan yang selalu saya nantikan artikel terbarunya, yakni IndoProgress. Referensi web terbaik bagi orang-orang macam saya yang malas membaca naskah panjang.

13. Lagu yang terakhir kali dinyanyikan ketika sendirian?

The Misfits - Saturday Night.

14. Ok, thanks mas Afri atas kesediaan waktunya untuk berbagi dengan Kaum Kera zine. Silahkan menyampaikan apapun itu untuk mengakhiri interview ini. Salam sayang untuk kekasih hati mungkin. :)

Jangan lelah, sebab masih banyak yang harus dilakukan untuk membenahi lingkungan, khususnya segala aktivitas di ranah independen kota Semarang saat ini. Lakukan syukur jika dapat dilaksanakan secara terorganisir dan masif, namun jika tidak memungkinkan, melakukan hal kecil secara konsisten dapat berdampak besar dikemudian hari. Kita tidak tahu apakah nanti kita akan berhasil dengan semua jerih payah yang kita bangun demi menciptakan ruang lingkup yang dinamis, namun saya masih memiliki banyak harapan untuk kota ini.

Demi mewujudkan harapan-harapan tersebut kita dapat bersama-sama belajar dan mengajarkan satu sama lain agar terciptanya ranah yang aktif, edukatif dan progressif. Terakhir saya akan mengutip sebuah ucapan dari Muhamad Ramdan, salah seorang tim produksi film Epic Java pada bagian Behind The Scene yang berbunyi "Jangan menunggu semuanya sempurna. Mulai dari sekarang, agar hasilnya sempurna." Salam.