Kamis, 28 September 2017

Anarkisme Dalam Secangkir Kopi

ANARKISME DALAM SECANGKIR KOPI
---------------------------------------------------------
Oleh Akhmad Dzikron Haikal (Oyek)



Ketika hendak pulang ke rumah, biasanya saya menyempatkan barang sejenak mampir di warung milik seorang kawan lama. Sebelum membuka obrolan, saya dibuatkan secangkir kopi dulu.

“Sesekali, mencoba kopi varian baru tak ada salahnya kan?” sarannya.

Saya hanya bisa melempar senyum tanda setuju. Terakhir kali berjumpa, kira-kira beberapa bulan lalu. Kali ini saya menemuinya dengan intuisi sebagai pengembara yang mencari hal lain dari setiap perjalanan panjang yang meresahkan,menemukan orang-orang yang hidup harmonis dengan alam, dan tentunya kenyataan yang berbeda dari yang saya bayangkan, meskipun hanya sebatas di dalam perbincangan. Ya, sebatas perbincangan di pinggir kenyataan.

Momentum langka ini saya manfaatkan dengan sebaik mungkin (maklum kawan saya ini susah ditemui. Sibuknya melebihi orang sok sibuk. hehe) dengan mempersilahkan pertanyaan-pertanyan yang antre di lidahku yang hanyalah seorang penikmat kopi dan obrolan,

“Apakah Hak itu suatu kebenaran yang utuh bagi kita, tapi kenapa di sana-sini berebut memperjuangkan Hak?” atau “Hutan kok banyak yang dirusak,” lalu “Itu kan juga bagian Hak kita, kok tidak diperjuangkan … kok tidak nganu banget, sih Mas.”

Dia tidak langsung menjawab pertanyaan dari saya, melainkan dia membacakan beberapa penggalan kalimat yang berbunyi,

"Katakan "TIDAK"pada perang. Juga "TIDAK" pada rasa takut, pada kemunduran, "TIDAK" pada penyerahan kalah, "TIDAK" pada pelupaan, "TIDAK"pada celaan akan kemanusiaan kita. Inilah "TIDAK"pada kemanusiaan Neoliberalisme"." ~ Kata Adalah Senjata karya Subcomandante Marcos. halaman 40.

Pada awalnya saya batasi perjumpaan kami sampai dua jam saja, lalu beberapa menit lagi, hingga akhirnya lima jam tak berasa. Semakin menit berlalu, semakin saya merasa lugu dan cupu.Sebab semakin saya mendengar dan menyimak apersepsinya dalam menjelaskan beberapa kalimat yang dibacakan kepada saya, semakin pula apa yang dia sampaikan tentang anarkisme sangat masuk akal dan meresap dalam emosi yang menggebu-gebu.

Sebelum saya tahu tentang anarkisme, saya dan kalian semua sudah barang tentu melekat pandangan negatif tentang idiologi itu. Menuduh barbar, karena sering berbuat onar, misalnya. Sementara saya yang merasa sok akademisi dengan pendidikan yang melulu itu-itu saja harus menanggung malu karenanya. Saat merasa pendidikan cukup tinggi, pikiran saya dan saudara sekalian pastilah dipenuhi rasa arogansi intelektual sehingga mempersempit pandangan saya dan saudara sekalian di kemudian hari mengenai anarkisme.

Pada akhirnya saya harus mengakui bahwa anarkisme itu sudah teruji keamanan dan keharmonisannya beberapa abad sebelum masehi lalu dan bahkan kelahirannya didasari oleh kekuatan utama dalam alam semesta yang terdapat pada semua benda, terdapat didalam inti segala benda di surga dan di bumi, kekal abadi dan tidak dapat berubah. Satu pelajaran yang saya dapat, seharusnya sebelum menilai sesuatu, saya harusnya bertanya-tanya dahulu dan bahkan dalam disiplin akademis, seharusnya melakukan riset. “Kenapa kekerasan dapat menuju ke anarki?”, bukannya langsung berkata, “Anarkis itu ya kekerasan, faktanya seperti itu kan?!” Itu baru pembuka, menit-menit selanjutnya adalah tamparan demi tamparan yang meruntuhkan persepsi awal yang saya yakini dan sebagian orang.

Saya akui, perkenalan pertama dengan anarkisme yang kemudian menjadi pelajaran penting dalam hidup saya bersama masyarakat adalah tentang bagaimana mempertahankan dan memenuhi kebutuhan kita sebagai manusia tanpa merampas hak asasi manusia lain. Saat itu saya berasa ditampar oleh kisah perjuangan Tentara PembebasanNasional Zapatista bersama juru bicara mereka yang sangat ikonik, Subcomandante Marcos, yang mengangkat senjata bukan untuk merebut kekuasaan, tetapi untuk menciptakan sebuah ruang komunal demokratis dan mandiri dimana pertentangan antar pandangan politik yang berbeda-beda, bisa dibicarakan. Mereka ingin menunjukan kepada dunia bahwa cara lain untuk berpolitik itu sungguh ada, yang salah satunya, bisa dilihat dari praktik kehidupan swadaya masyarakat adat.


Namun, pengalaman yang saya alami justru sebaliknya ketika menanyakan hal-hal terkait anarkisme. Sebab sebelum menulis tulisan ini, saya sempatkan dulu untuk melakukan riset sederhana kepada orang-orang disekitar saya dengan mengajukan pertanyaan singkat,

“Bagaimana anarkisme menurut pandangan kalian?”

Mendengar jawaban dengan telinga saya sendiri, saya tidak terlalu kaget lantaran apa yang sudah saya prediksikan, ternyata terjadi juga tentang sebuah jawaban yang tak sempat merujuk pada teori. Ya, hanya berdasar pada pandangan sebagian besar orang lain yang dijadikan sebuah pemahaman sepintas. Parahnya, konon beberapa oknum dari kalangan pecinta musik cadas yang melakukan sesuatu berdasarkan kebebasan mereka sendiri atau golongan dengan mengatas-namakan bentuk dari anarkisme. Tetapi perlu dipahami sekali lagi, kebebasan yang dimaksudkan dari anarkisme, terbatas tidak merampas dan mengganggu hak orang lain. Kebebasan, bagi semuanya yang paham betul tentang anarkisme, adalah perjuangan untuk merebut kembali hak-hak asasi manusia mereka yang dicuri. Para anarkis memang cenderung tidak setuju ketika hal-hal yang sebenarnya menjadi hak-hak yang sifatnya asasi bagi manusia, bahkan menjadi hak paling asasi semenjak manusia itu lahir, berujung menjadi komoditas yang tentu saja difungsikan untuk memperkaya para pemilik modal.

Jika kalian meluangkan sedikit waktu untuk merenungi, tentu menyadari bahwa air, tanah, udara bersih dan juga sinar matahari sebenarnya adalah hak yang sifatnya asasi bagi manusia bahkan semenjak manusia tersebut lahir, setiap orang mempunyai hak akan hal-hal tersebut. Ketika air mulai diperdagangkan, maka akan ada pertanyaan,

"Seperti halnya air, berarti hak asasi manusia bisa juga diperjual-belikan, bukan?

Saya tertegun panjang ketika ditinggal kawan saya sebentar untuk meladeni pembeli yang hilir mudik seperti apa yang saya pikirkan. Saya berpikir kenapa pergeseran pemahaman tentang anarkisme bisa seperti itu, malah cenderung ke arah subversif dan kekerasan? Saya yang saat itu baru saja diperkenalkan dengan anarkisme, berusaha keras memahami sejarah anarkisme dan kekerasan—dalam hal ini mencoba mengenali lebih dalam tentang kesalah-pahaman antara anarkis dan sisi gelapnya.

Selanjutnya saya teringat dengan slogan para anarkis Spanyol pengikutnya Durruti yang berbunyi,“Terkadang cinta hanya dapat berbicara melalui selongsong senapan.” Memang terkesan sekali penggunaan kekerasan dalam strategi pergerakan. Tetapi, dalam memahami sebuah kalimat atau perkataan perlu kiranya dikontemplasi atau setidaknya direnungkan dulu maknanya, bukan secara mentah ditafsirkan menurut kebijakan emosi sesaat.

Mengutip dari Wikipedia mengenai sejarah anarkisme dan kekerasan; penggunaan kekerasan dalam anarkisme sangat berkaitan erat dengan menggunakan aksi langsung atau perbuatan yang nyata sebagai jalan yang ditempuh untuk menyerang kapitalisme. Namun demikian, tidak sedikit juga dari para anarkis yang tidak sepakat menjadikan kekerasan sebagai suatu jalan yang harus ditempuh. Dalam bukunya, "What is Communist Anarchist?", pemikir anarkis, Alexander Berkman, menulis; “Anarkisme bukan Bom, bukan ketidak-teraturan atau kekacauan, bukan perampokan dan pembunuhan, bukan pula sebuah perang diantara yang sedikit melawan. Dan bukan juga bagian dari subversif. Kekerasan bukan merupakan suatu ide eksklusif milik anarkisme, sehingga anarkisme tidak melulu dikonotasikan sebagai kekerasan, seperti makna tentang anarkisme yang banyak dikutip oleh beberapa oknum dan kalangan sebagai sebuah aksi kekerasan dan pemberontakan. Karena bagaimanapun kekerasan dan pemberontakan merupakan suatu pola tingkah laku alamiah manusia yang bisa dilakukan oleh siapa saja dan dari kalangan apapun.

Mari kembali berbicara soal cara pandang kita. Saat kita memandang sesuatu kericuhan kemudian menerjemahkan pengalaman kasat mata tersebut dengan bergumam “barbar”, “liar”, “pembuat onar”, “kotor”, “anarkis”, “tidak tahu aturan”, dan sebagainya, sebenarnya kita sedang melakukan kejahatan tak kasat mata. Karena dengan bergumam demikian, seolah kita sedang berkata pada mereka bahwa diri kita “lebih  beradab”, “patuh”, “pintar”, “bersih”, dan “sopan”. Berlaku juga untuk pemandangan-pemandangan lainnya. Ini masalah persepsi, perbedaan cara pandang. Sepele, tapi fatal. Cara pandang ini pula yang seharusnya bertanggung jawab atas bergesernya makna serta tujuan idiologi tersebut yang lambat laun dicap sebagai ideologi yang berbahaya (bahkan rentan dengan pemberontakan)

Dalam upaya me-rekonstruksi pola pikir masyarakat pada umumnya, pergeseran makna dari suatu ideologi itu bersifat dekonstruktif dan membangun ulang, disepakati demi suatu kepentingan, serta dipendam dalam-dalam dan ditaburi bumbu-bumbu menakutkan oleh yang merasa terganggu dengan paham ini. Sebenarnya sebuah ideologi bergerak dinamis, mengalami penyesuaian ataupun perubahan seiring waktu yang mengontemplasinya, namun tetap berdasarkan konsep, nilai-nilai ajaran, serta dasar pemikirannya yang menjadi tujuan awal. Tak seorang pun punya hak berkata bahwa ideologi X atau ambil contoh anarkisme, adalah buruk, kekiri-kirian. Kenapa takut ke kiri, bukankah lajur berkendara kita juga disebelah kiri?

Semakin pemahaman dari sebuah ideologi itu berbeda dengan kenyataan yang kita alami, semakin sulitlah pemahaman itu kita cerna, bukan? Bagaimana dengan kebebasan kita dalam mempelajari konsep-konsep sebuah ideologi ataupun bacaan-bacaan yang dianggap kekiri-kirian tadi? Ada ideologi komunisme, sosialisme, anarkisme, feminisme, dan lain-lain. Bukankah masih ada nilai-nilai positif yang bisa kita ambil dan terapkan dalam diri kita? Setidaknya ada suatu pemahaman yang sifatnya provokatif, akhirnya menjelma dalam laku kritik untuk mengajak otak ini bekerja secara semestinya. Ini pun tetap saja tidak bisa lepas dari anggapan subyektif dalam menilai ideologi-ideologi tersebut.

Di kehidupan saya dulu, saat di dalam proses pembelajaran, contoh sederhana adalah ketika paham komunis dianggap sebagai paham anti agama, dianggap petaka buat negara karena sudah sering sekali kita diberi pemahaman-pemahaman oleh ucapan yang tidak kita pahami secara utuh kebenarannya. Akan tetapi, seiring berjalannya sebuah proses pendewasaan, saya semakin terbuka akan berbagai macam ideologi yang saya coba pelajari dan pahami bisa juga berguna untuk menambah wawasan dan pola pikir saya terhadap sebuah pandangan atau perspektif yang ada.

Saya pikir, apapun nilai-nilai ajarannya, sebuah ideologi itu dinamis, bergerak, tentunya merubah, sesuai dengan dinamika sosial yang terjadi. Dan dengan dialog positif, kita bisa mencari tahu lebih dalam, apa sejarah, makna, dan tujuan suatu ideologi tertentu. Nilai apa yang terkandung pada suatu pemahaman tersebut hingga pada akhirnya akan kita terapkan dan aplikasikan sebagai sudut pandang terhadap suatu hal. Bukankah sebuah ideologi itu perlu pemahaman secara utuh?

Senin, 27 Februari 2017

Mengunyah Kembali Semarang Sebagai Sebuah Riwayat

Mengunyah Kembali Semarang Sebagai Sebuah Riwayat
Sebuah resensi buku berjudul Remah-Remah Kisah Semarang karya Rukardi 
Oleh : Akhmad Dzikron Haikal


 “Perhatian! Kepada sekalian para tamu djika hendak pulang, batas waktu sampai djam 13.30, seliwatnja djam tsb. di atas dianggap 1 malam. II. Kami tidak menjediakan kamar untuk tamu jang bayar bulanan…” ~ (Remah-remah Kisah Semarang, hal 225). 

Siapa yang menyangka jika di Jalan Bangunharjo kawasan Kauman dulunya adalah kampung seribu penginapan. Daerah yang kita kenal sebagai salah satu bagian dari kawasan pasar Johar itu banyak sekali hotel yang berdiri di sana kala itu, dan salah satu buktinya adalah tata tertib yang berejaan Soewandi itu masih menempel di loket pembayaran Hotel Muslimin yang dibuat pada tahun 1960-an. 

Memang pada tahun tersebut, tentunya saya belum lahir, apalagi tinggal dan menetap di Kota Semarang. Jika dinominalkan dalam sebuah usia, baru sepuluh tahun saya mengenal dan hidup di kota Semarang. Ya, usia yang setara dengan anak kelas empat sekolah dasar. Usia yang belum begitu matang dalam menjalin sebuah hubungan, apalagi menjalin terlalu dalam dan intim. Jujur saja sampai detik ini saya belum mampu merasakan bahwa Semarang adalah bagian dari diri saya. Namun, tatkala ada yang berbicara tentang semarang dan riwayatnya, biasanya ada semacam perasaan aneh yang terlalu meluap-luap ketika diungkapkan. Terlepas dari status saya yang bukan asli penduduk semarang, rasa itu seakan menjelma sebagai kegelisahan yang tak bertuan semenjak merasakan kisah-kisah kearifan lokal tergilas oleh cerita urban yang menurut saya sedikit manja dan penuh keputus-asaan. 

Barangkali kegelisahan saya dan juga kegelisahan para manusia yang gelisah sedikit banyaknya sudah termanifestasikan kedalam buku Remah-remah Kisah Semarang karya Rukadi. Buku tentang kota Semarang serta sudut-sudut kisahnya ini, menjadi semacam suguhan renyah (kelethikan) ketika kita memperbincangkannya di teras rumah dengan secangkir kopi atau teh hangat untuk sekedar menyempurnakan suasana. Disamping itu, saya sependapat jika ada yang mengatakan jadikanlah masa lalu sebagai pelajaran. Namun sebaliknya, ketika pernyataan tersebut sudah diungkapkan, dan manakala sebuah pelajaran tidak mendasar pada masa lalu atau bahkan lebih tepatnya membiarkan masa lalu hanya tersimpan di bibir-bibir para pendahulu, maka tidak salah jika saya menyatakan lebih baik kita belajar untuk mengingat dan menghafal dulu, baru belajar dari masa lalu. 

Oleh karena itu kisah-kisah yang terliterasi dengan baik setidaknya banyak membantu untuk sekedar mengingatkan ketika semuanya mulai termakan usia. Jadi, benar apa yang tersurat dalam penggalan kata-kata bijak berikut ini “Pengetahuan serupa binatang ternak, dan catatan adalah alat untuk mengikatnya. Jika ternakmu tak ingin lepas, maka ikatlah.” (tentunya dalam konteks ini tidak sama dengan merenggut kebebasan binatang. Hehehe). 

Menikmati Remah-remah kisah semarang saya analogikan seperti menemukan sisa-sisa makanan yang masih layak dimakan, ibarat kata terlalu mubadzir jika tidak sekalian dikunyah. Sebab, bagaimanapun besar kecilnya bentuk makanan itu, toh pastinya masih menyisakan rasa di lidah. Begitu pula dengan buku ini, kalian pastinya diajak mengenal beberapa kisah yang akan menambah rasa pengetahuanmu mengenai kota semarang tempo dulu makin bertambah, dan terlalu mubadzir jika tidak dibaca. Lantas bukankah mubadzir itu tidak dianjurkan kepada manusia? 

Buku yang diterbitkan Pustaka Semarang 16 ini, mempunyai ketebalan 224 halaman, serta menyuguhkan 49 judul yang terbagi 29 untuk kisah-kisah historis dan 20 judul berkaitan dengan warna-warni kota semarang. Dapat dikatakan buku ini adalah semacam panduan untuk mengenal semarang seutuhnya. Sebab didalam isinya menyajikan berbagai hal yang ada di sudut-sudut semarang. Tidak bisa dipungkiri setelah membaca buku remah-remah semarag, saya makin tertarik untuk mengetahui kisah-kisah historis (foklor) yang ada di kota ini. Bahkan dari membaca buku tersebut secara tidak langsung saya ikut tergerak untuk meliterasi kisah-kisah yang ada di daerah saya. Salut kepada Mas Rukardi yang telah sukses mempengaruhi pola pikir saya dalam menyikapi proses “memunguti remah-remah kisah” yang terserak di mana-mana.

Rabu, 15 Februari 2017

Kematian-Kematian Kecil di Sekitar Kita : Resensi Film "Istirahatlah Kata-Kata"

Kematian-Kematian Kecil di Sekitar Kita : Resensi Film "Istirahatlah Kata-Kata"
Oleh : Akhmad Dzikron Haikal


 ISTIRAHATLAH KATA-KATA
--------------------------------------------
istirahatlah kata-kata
jangan menyembur-nyembur
orang-orang bisu
kembalilah ke dalam rahim
segala tangis dan kebusukan
dalam sunyi yang mengiris
tempat orang-orang mengingkari
menahan ucapannya sendiri
tidurlah kata-kata
kita bangkit nanti
menghimpun tuntutan-tuntutan
yang miskin papa dan dihancurkan
nanti kita akan mengucapkan
bersama tindakan
bikin perhitungan
tak bisa lagi ditahan-tahan

Solo, sorogenen, 12 agustus 1988




Kalau dikontemplasi, puisi Wiji Thukul tersebut, secara eksplisit tengah mengisyaratkan kematian-kematian kecil di sekitar kita. Sebab terlalu banyak luka yang menganga di tubuh masyarakat kita saat ini, terlebih-lebih masyarakat yang tinggal di sekolahan. Kenapa demikian, karena masyarakat sekolah yang diharapkan mampu menghidupkan kehidupan seutuhnya, yang nantinya sebagai penyeimbang untuk mewujudkan bentuk keharmonisan, kini malah menjadi pesakitan lantaran dihantam luka setiap saat. Selain luka fisik yang didapati, tentunya ada juga luka non-fisik yang menyeret mereka kepada kematian-kematian kecil itu. Barangkali ada semacam kepasrahan yang terbalut oleh keputusasaan dan ketidakacuan terhadap tubuh yang luka. Hingga pada akhirnya tak ada jalan lain, kecuali menantinya. Ya, menanti kematian-kematian kecil ditengah-tengah kita.  

Mengambil istilah kematian-kematian kecil itu, saya korelasikan dengan seringnya kita mendengar beberapa kasus yang membunuh citra pendidikan negeri ini, dan pastinya banyak pula yang mendengar atau membaca berbagai inovasi dan pemikiran yang ditawarkan, untuk sekedar memberikan pertolongan pertama atau mengumumkan kematian tersebut. Namun, pada kenyataannya malah justru hal itu terkesan seolah-olah merencanakan suatu kematian. Bagaimana tidak, jika inovasi dan pemikiran tersebut pada suatu saat membawa dampak besar secara masif, akan tetapi belum terlihat dikehidupan yang sekarang, pastinya bisa ditebak reaksi masyarakat kita banyak yang tidak akan menerima alasan apapun terhadap dampak yang ditimbulkannya, sampai-sampai menjadi bahan nyinyiran dan cibiran dalam menyikapinya. Fenomena ini, tentu menjadi suatu kematian di tubuh pendidikan kita secara tidak langsung.

Pada hakikatnya maju dan berkualitasnya suatu pendidikan harus dihadapkan pada percobaan-percobaan yang menuntut sebuah kegagalan, dan dari kegagalan tersebut mampu menghadirkan harapan dari cita-cita pendidikan nasional itu sendiri. Bukan malah kegagalan dijadikan bahan hambatan dan sebuah luka yang menjadi cibiran bagi masa depan pendidikan kita. Seperti apapun bentuk luka itu, baik fisik maupun non-fisik, tak seharusnya didiamkan begitu saja. Luka yang tentunya harus diobati, dirawat, dan tentu saja sebagai pengingat sebuah peristiwa, seharusnya mampu membuat kita kuat dan berhati-hati, bukan sebaliknya. Namun, jika masih saja menganggap luka hanyalah sebuah malapetaka yang melanda, maka yang ada di dalam pikiran kita adalah kekecewaan, kesedihan, dan yang paling parah adalah rutukan. Kalau sudah begitu, maka istirahatkanlah kata-kata yang keluar dari mulut-mulut manusia.




Kematian-kematian kecil di bangku sekolah, sudah barang tentu terjadi karena masyarakat di dalamnya sudah saling acuh tak acuh, saling menyalahkan, saling menuntut, dan yang lebih parah adalah saling berebut jam untuk peningkatan ekonomi dari sebuah profesi. Maka tak pelak, jika fungsi dari pedidikan kita semakin melenceng dari fungsi  Pendidikan Nasional yang sebenarnya: mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Seperti apa yang pernah diungkapkan oleh Marx, bahwasanya seorang pendidik adalah seseorang yang berpendidikan dan sudah dididik untuk sebuah tujuan mengubah keadaan manusia. Begitu juga dengan pendapat Lenin dan Stalin bahwa sekolah menjadi senjata yang tergantung pada siapa yang memegangnya. Artinya, keberhasilan seorang peserta didik sangat ditentukan oleh siapa yang mengajarnya di sekolah, dan pendidikan bukan lahan basah untuk merenggut keuntungan, melainkan sebagai instrumen membebaskan manusia dari belenggu dehumanisasi serta menempatkan manusia dalam esensi dan martabat kemanusiaannya yang sejati. Disamping itu, Abdul Khalid Boyan (2009) menjelaskan dalam pendidikan berbasis Marxis-Sosialis, tujuan (ideologi) pendidikan adalah membangun karakter (character building) manusia yang tercerahkan; suatu kondisi mental yang dibutuhkan untuk membangun suatu masyarakat yang berkarakter progresif, egaliter, demokratis, berkeadilan dan berpihak terhadap kaum-kaum tertindas (the oppressed).

Di era seperti ini tidak bisa dipungkiri lagi, sering kita mendengar para orang tua yang menyekolahkan anaknya disebabkan salah satu faktor agar kelak setelah lulus anaknya cepat bisa langsung mendapat kerja. Bukan karena tujuan utama yang ditawarkan dari suatu ideologi pendidikan sekolah. Hal semacam ini menyebabkan pendidikan terjerumus ke dalam pragmatisme yang membuat malapetaka besar bagi masa depan kemanusiaan, khususnya pada pola pikir manusia. Sebab, pragmatisme pendidikan akan melahirkan manusia-manusia yang tidak peka terhadap bobroknya realitas kemanusiaan dan kekuasaan. Pragmatisme pendidikan hanya mencetak generasi yang ingin cepat mendapatkan gelar dan memperoleh profesi yang bergengsi tanpa mengedepankan sisi keharmonisan hidup berdampingan. Jika sudah seperti itu, maka yang ada hanyalah kompetisi untuk berlomba-lomba mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang mengesampingkan sebuah nilai.





Munculnya lembaga-lembaga pendidikan seperti itu tidak lain merupakan bentuk hubungan terlarang antara dunia pendidikan dengan kepentingan kapitalis. Dalam hal ini lembaga pendidikan sekarang tidak lagi menjadi media transformasi pengetahuan dan nilai-nilai sosial yang mengedepankan sisi memanusiakan manusia,  melainkan telah menjadi sebuah lahan basah bagi para pengelola pendidikan untuk mengeruk keuntungan finansial. Karena pada kenyataannya tak jarang kita jumpai beberapa lembaga pendidikan yang terfokus memikirkan bagaimana sekolah bisa mendapatkan laba sebesar-besarnya dari peserta didik, dengan menjaring, merekrut, dan mengiming-imingi calon siswa baru dengan fasilitas dan program-program yang cukup menjanjikan di dalam sekolah. Namun pada realitasnya hal itu hanya sebuah jebakan untuk mendapatkan kouta siswa yang sebesar-besarnya. Tujuannya tidak lain agar sekolah tidak tutup dan bangkrut. Tak pelak, jika suatu saat lembaga pendidikan muncul sebagai rahim-rahim yang penuh luka yang melahirkan kaum-kaum terdidik yang bermoral terpasung dan pesakitan.

Dari permasalahan tersebut, kita diharapkan sadar, tentang kondisi pendidikan kita sekarang ini. Bahwa sekolah yang dalam hal ini sebagai ruang berproses bagi anak didik dan ruang berbagi untuk para pendidik, harus ada upaya atau bahkan harus mampu menciptakan kebangkitan-kebangkitan dalam segala hal yang dibutuhkan masyarakat negeri ini, tidak hanya sumbangan-sumbangan pemikiran dan inovasi saja, melainkan harus berani mewujudkan dengan konsekuensi kegagalan-kegalan yang datang menghadang.
Paling tidak, lembaga pendidikan mampu mewujudkan tujuan pendidikan itu sendiri dan sanggup memberikan nyawa baru terkait kematian-kematian kecil yang sempat disinggung sebelumnya. Agar kelak generasi yang akan datang tidak menjadi generasi yang mudah saling sikut, saling membenci, dan mudah diprovokasi. Sebab kematian-kematian kecil itu juga hadir dalam penjelmaan bentuk informasi yang tumbuh dan berkembang dengan begitu cepat tanpa ada filter yang menyaringnya.